Radio Rodja 756AM

News Updates :

Biography

Ceramah

Siyar

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Sulit Menyenangkan Semua Orang

Sabtu, 25 Mei 2013

Alkisah, suatu siang yang terik, tampak seorang pengusaha mendatangi sebuah toko mebel dikawasan pusat bisnis di sebuah kota. Pengusaha itu datang dengan membawa kursi sofa yang terbuka jahitannya. Sambil memasang muka yang marah, dengan lantang dia berkata kepada penjual di situ dengan menunjuk ke kursi sofa yang dibawanya, “Lihat sofa ini. Saya sudah membayar dengan harga mahal dan sofa ini telah terbuka jahitannya sebelum dipakai!”

Dengan sabar, si pemilik toko meladeni omelan dan kemarahan tamunya dengan penuh perhatian. Setelah melihat kerusakan kursi sofa tersebut, si pemilik toko berkata, “Baiklah, Pak. Jangan kuatir. Saya akan berusaha membantu memperbaiki jahitan kursi sofa ini sebaik-baiknya. Besok silakan bapak ambil kemari atau kapan pun bapak ada waktu.” Mendengar kata-kata sopan itu, redalah kemarahan si pemilik sofa. Ia pun pergi meninggalkan sofanya untuk diperbaiki dan berjanji akan datang kesokan harinya untuk mengambilnya.

Sepeninggal si tamu, anak pemilik toko mebel itu mendekati ayahnya dan berkata. “Tamu tadi sungguh keterlaluan. Marah-marah tidak pada tempatnya. Bukankah sofa ini bukan buatan kita dan dibeli dari toko kita? Mengapa ayah tidak berusaha menjelaskan, malahan masih mau memperbaiki sofa itu?” tanya si anak penasaran. Di sekitar toko itu memang ada beberapa toko mebel lain yang menjual sofa, dengan desain yang satu sama lain saling memiliki kemiripan.

Dengan sabar, sambil tersenyum si ayah memberi tahu putranya. “Camkan ini baik-baik anakku! Memang, Ayah tahu ini bukan sofa yang kita jual. Tapi tidak ada ruginya membantu perbaikan kecil dan tidak merepotkan ini. Dengan kita membantunya, maka tamu tadi pasti akan datang ke sini lagi. Dengan begitu, kita akan memiliki pelanggan baru. Apakah kamu mengerti?” ujarnya menjelaskan.

Begitulah, si pemilik toko mebel mengubah mejengkelkan dan ketidakpuasan menjadi sebuah pelayanan dengan dampak keuntungan di kemudian hari. Dan memang, pengusaha yang awalnya marah-marah dan mengeluhkan kerusakan sofa itu, meminta maaf atas kekeliruannya karena melepas kemarahan bukan pada tempatnya dan di kemudian hari menjadi pelanggan setia toko mebel itu.

Kisah ini konon berasal dari pengalaman sebuah toko mebel ternama ketika sedang di masa-masa awal membangun bisnisnya. Ternyata, tidak selamanya ketidakpuasan itu berdampak negatif. Dan pengertian bahwa “kita tak bisa menyenangkan semua orang” seharusnya bisa kita sikapi dengan cara yang bijak. Sebab, bisa jadi, ketidakpuasan yang diungkap, malah akan jadi evaluasi—atau bahkan peluang, seperti dalam kisah di atas—untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Mari, ubah ketidakpuasan yang muncul menjadi sebuah pembelajaran. Yakni, pembelajaran untuk jadi lebih baik, lebih dewasa, dan lebih berkembang. Dengan begitu, saat kita tak bisa menyenangkan semua orang, justru akan jadi evaluasi terbaik untuk memajukan perusahaan.

Terus berinovasi, terus perbaiki layanan. Salam sukses, luar biasa!

Sabtu, 24 November 2012
Oleh Andrie Wongso

Sikap Tanggung Jawab

Dikisahkan, sebuah keluarga mempunyai anak semata wayang. Ayah dan ibu sibuk bekerja dan cenderung memanjakan si anak dengan berbagai fasilitas. Hal tersebut membuat si anak tumbuh menjadi anak yang manja, malas, dan pandai berdalih untuk menghindari segala macam tanggung jawab.

Setiap kali si ibu menyuruh membersihkan kamar atau sepatunya sendiri, ia dengan segera menjawab, "Aaaah Ibu. Kan ada si bibi yang bisa mengerjakan semua itu. Lagian, untuk apa dibersihkan, toh nanti kotor lagi." Demikian pula jika diminta untuk membantu membersihkan rumah atau tugas lain saat si pembantu pulang, anak itu selalu berdalih dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.

Ayah dan ibu sangat kecewa dan sedih melihat kelakuan anak tunggal mereka. Walaupun tahu bahwa seringnya memanjakan anaklah yang menjadi penyebab sang anak berbuat demikian. Mereka pun kemudian berpikir keras, bagaimana cara merubah sikap si anak? Mereka pun berniat memberi pelajaran kepada anak tersebut.

Suatu hari, atas kesepakatan bersama, uang saku yang rutin diterima setiap hari, pagi itu tidak diberikan. Si anak pun segera protes dengan kata-kata kasar, "Mengapa Papa tidak memberiku uang saku? Mau aku mati kelaparan di sekolah ya?"

Sambil tersenyum si ayah menjawab, "Untuk apa uang saku, toh nanti habis lagi?"

Demikian pula saat sarapan pagi, dia duduk di meja makan tetapi tidak ada makanan yang tersedia. Anak itu pun kembali berteriak protes, "Ma, lapar nih. Mana makanannya? Aku buru-buru mau ke sekolah."

"Untuk apa makan? Toh nanti lapar lagi?" jawab si ibu tenang.

Sambil kebingungan, si anak berangkat ke sekolah tanpa bekal uang dan perut kosong. Seharian di sekolah, dia merasa tersiksa, tidak bisa berkonsentrasi karena lapar dan jengkel. Dia merasa kalau orangtuanya sekarang sudah tidak lagi menyayanginya.

Pada malam hari, sambil menyiapkan makan malam, sang ibu berkata, "Anakku. Saat akan makan, kita harus menyiapkan makanan di dapur. Setelah itu, ada tanggung jawab untuk membersihkan perlengkapan kotor. Tidak ada alasan untuk tidak mengerjakannya dan akan terus begitu selama kita harus makan untuk kelangsungan hidup. Sekarang makan, besok juga makan lagi. Hari ini mandi, nanti kotor, dan harus juga mandi lagi. Hidup adalah rangkaian tanggung jawab, setiap hari harus mengulangi hal-hal baik. Jangan berdalih, tidak mau melakukan ini itu karena dorongan kemalasan kamu. Ibu harap kamu mengerti."
Si anak menganggukkan kepala, "Ya Ayah-Ibu, saya mulai mengerti. Saya juga berjanji untuk tidak akan mengulangi lagi."

Sikap Tanggung Jawab
Dalam kehidupan, kita selalu memikul tanggung jawab. Sedari kecil, remaja, dewasa, hingga tua, kita akan terus menerus melakukan aktivitas-aktivitas kecil maupun besar sebagai bentuk kewajiban yang kita emban. Dan, jika kita mengabaikannya, dampak negatif akan kita rasakan.

Karena itu, hanya dengan selalu melakukan kebiasaan positif, dengan kesadaran penuh dan dilakukan secara terus menerus, maka sikap tanggung jawab akan menjadi ciri khas kita yang dapat membawa diri pada kehidupan yang lebih baik dan lebih bermutu.

Salam sukses, luar biasa!!!
 
Andrie Wongso
Selasa, 28 Agustus 2007




Sikap dan Pola Pikir yang Positif

Seseorang akan dapat merubah dunia ini jika ia mampu mengubah dirinya sendiri. Untuk dapat menciptakan budaya yang sehat dan positif di dalam lingkungan sekitar kita, maka diri kita juga dituntut untuk bersikap lebih positif. Jadi setiap perubahan mestinya dimulai dari dalam diri kita sendiri, dan yang pertama kali harus diubah adalah pola berpikir kita. Sikap dan pola berpikir sangat erat kaitannya.

Dr. William James, Father of America psychology, mengatakan : "We can alter our lives by altering our altitudes – Manusia dapat mengubah kehidupannya dengan mengubah sikap dan cara berpikirnya." Orang yang terbiasa berpikir positif selalu menemukan solusi-solusi cerdas. Sebab pikiran yang positif dapat bekerja secara sederhana, mencari ide dan segala kemungkinan untuk berhasil.

Contohnya tentang sebuah kisah antara seorang ayah dan anak :
Suatu hari sang ayah sengaja membawa pekerjaan kantor ke rumah supaya semua tugas pekerjaan dapat segera dituntaskan. Tetapi sesampainya di rumah, anaknya merengek terus mengajaknya bermain. Sang ayah keberatan memenuhi permintaan anaknya, maka dicarilah akal supaya anaknya diam dan ia mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan pekaerjaannya.

Pada saat itu, ia melihat sebuah majalah yang memuat peta dunia. Muncullah ide untuk menggunting peta dunia tersebut menjadi beberapa bagian. Setelah itu, sang ayah memberikan potongan-potongan peta dunia itu kepada anaknya seraya berkata, “Nak, kalau kamu sudah selesai menyatukan potongan-potongan kertas ini, maka ayah akan menemanimu bermain.”

Sang ayah berpikir bahwa pekerjaan menyatukan potongan peta dunia itu akan sulit sekali dan memakan waktu sekurang-kurangnya 30 menit. Sehingga ia dapat leluasa menggunakan jeda waktu tersebut untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Tetapi tidak lama kemudian, sekitar 5 menit, sang anak sudah kembali kepada ayahnya sambil memberikan potongan-potongan peta dunia yang telah disatukan. Sang ayah tercengang, “Hah, mana mungkin anak sekecil ini sudah tahu dimana letak America, Afrika. Dan Eropa, Aneh sekali?” Karena potongan peta itu benar-benar terletak pas pada posisi yang seharusnya.

Maka dengan penuh keheranan sang ayah bertanya kepada anaknya : “Bagaimana kamu bisa melakukannya ?” Keheranan sang ayah terjawab, tatkala anak itu berkata, “Tidak sulit, Ayah, menggabungkan potongan-potongan kertas itu. Karena dibalik gambar peta itu ada gambar kepala manusia. Jadi saya benarkan saja kepala manusianya, maka benarlah gambar dunia ini.”

Anak kecil itu sanggup menyelesaikan soal yang sulit sebab ia berpikir secara sederhana saja. Tidak ada prasangka, keinginan untuk dipuji, kebencian dan pikiran negatif lain yang mempengaruhi anak tersebut. Ternyata begitu mudah menemukan solusi cerdas yang mempermudah kehidupan kita dengan berpikir positif. Jadi apa salahnya kita menerima setiap kenyataan apa adanya, dan memandang sisi positif untuk menemukan solusi cerdas berikutnya. Tanyakan pula, apa ruginya berpikir positif, dan apa untungnya selalu berpikir negatif?

Sama sekali tidak ada keuntungan bila kita hanya memikirkan sisi negatif dari setiap kenyataan yang harus kita terima. Yang ada hanyalah belenggu, yang menyebabkan kita tidak tenang bekerja dan menghambat kemajuan. Dengan berpikir positif maka kita akan menemukan banyak sekali jalan keluar. Sebaliknya, bila kita berpikir negatif maka kita akan selalu menemukan halangan. John Wooden, mantan pelatih basket UCLA, menegaskan, “Segalanya ternyata paling baik bagi orang-orang yang memetik manfaat dari bagaimana segalanya terjadi.” So Be Positive!

Semoga bermanfaat, dan Salam Hebat Luar Biasa !
www.rudylim.com

Sempurna

Alkisah ada seorang pedagang batu perhiasan yang sangat terkenal. Ia ahli dalam menilai kualitas batu permata dan batu-batu perhiasan terbaik di dunia. Karena tersohor, keahlian yang dianggap langka itu pun terdengar oleh seorang raja yang sangat kaya. Konon, raja kaya ini memiliki aneka macam jenis batu paling baik di seantero negeri. Koleksi permatanya selalu mengundang decak kagum bagi siapa saja yang melihatnya. Karena itulah, si raja menjadi sombong dengan semua yang dimilikinya.

Mendengar keahlian si pedagang, maka dipanggillah ia menghadap sang raja. Selain ingin menyombongkan koleksi batu yang dimilikinya, sang raja juga ingin menguji kehebatan si pedagang dalam menilai batu-batu koleksinya.

Singkat kisah, si pedagang pun menghadap sang raja. “Wahai pedagang, aku dengar kau dikenal sebagai ahli bebatuan terbaik. Coba katakan, mana batu paling sempurna dari koleksiku. Batu itu kelak akan aku berikan pada putra mahkotaku, jika sudah saatnya aku turun tahta,” seru sang raja.

Mendapat perintah itu, si pedagang batu segera melihat semua koleksi batu sang raja. Saking banyaknya koleksi—di mana semuanya bagus-bagus—ia butuh waktu hingga satu minggu lamanya. Hingga, suatu hari ia melaporkan hasil pencariannya kepada sang raja. “Baginda, semua koleksi sudah dilihat. Tapi maaf, tak ada satu pun batu yang terlihat sempurna menurut pengamatan hamba.”

Raja pun tersinggung. “Hai, kamu pedagang batu yang sok tahu! Semua batuku adalah batu paling bagus, paling sempurna. Berani-beraninya kamu mengatakan tak ada batu sempurna di antara batu terbaik itu.”

“Ampun Tuanku. Hamba hanya seorang pedagang batu yang mengutarakan hasil pengamatan sesuai tugas yang Tuan berikan. Namun, seperti yang hamba katakan, tak ada batu sempurna yang pantas Tuan wariskan pada putra mahkota. Sebab, kesempurnaan itu tidak akan ada artinya jika hanya kemewahan batu yang Tuan ingin wariskan. 'Kesempurnaan' yang sejati sebenarnya bukan muncul dari batu indah ini. Tapi, perhatian dan keikhlasan dalam mewariskan tahta untuk kepentingan rakyat semualah yang justru akan membuat batu apa pun yang dipilih untuk diwariskan, baru benar-benar bisa menjadi batu yang sempurna.”

Sang raja tercengang dengan ucapan tulus si pedagang batu. Ia kini tersadar, bahwa batu-batu sempurna yang dimilikinya tak ada artinya dibanding kesempurnaan dalam memberikan perhatian terbaik pada putra dan rakyatnya.

Kisah di atas merupakan sebuah gambaran, bahwa nilai kesempurnaan sesuatu sangatlah relatif. Bukan berarti mengejar kesempurnaan adalah hal yang salah. Bahkan sejatinya, mengejar kesempurnaan adalah sebuah “kewajiban”. Hal ini menjadi wajib karena tanpa mengejar kesempurnaan, kita justru tak akan bisa berkembang.

Bagi saya pribadi, sempurna hanyalah bagian dari sebuah predikat dari apa yang sudah, sedang, dan akan kita lakukan. Dan, karena sifatnya yang sangat relatif, sempurna bagi saya adalah “kependekan” dari sebuah perjalanan menuju paripurna. Ini bisa dipahami bahwa kita pasti selalu mengalami perjalanan demi perjalanan, untuk mencapai satu tahap kehidupan. Dan, begitu paripurna atau telah lengkap, kita akan menuju pada perjalanan berikutnya. Di sinilah nilai “kesempurnaan” seseorang akan terwujud, yaitu ketika ia mau terus berjuang, terus berkarya, dan terus berupaya. Sehingga, “tugas” sebagai manusia seutuhnya, yang diciptakan Sang Mahakuasa dengan peran dan tugas masing-masing, akan benar-benar membawa “kesempurnaan”, yakni berupa kebaikan bagi alam semesta.

Ahad, 25 November 2012
Oleh Andrie Wongso

Pemancing Kecil

Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat sangat menikmati permainannya.

Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.

Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan? Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman ramah.

"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.

"Lho, kalau diperhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang ditawarkan kepadamu, kenapa ditolak?"

"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.

"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya, paman beri kamu alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"

Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil tangkapan berada diujungnya.

Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.

Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?"

Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik. Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."

Pembaca yang budiman,

Sama seperti dalam kehidupan ini, sebenarnya untuk meraih kesuksesan kita tidak membutuhkan teori-teori yang rumit. Semua sederhana saja. Sepanjang kita tahu apa yang kita mau, dan kemudian mampu memaksimalkan potensi yang kita miliki sebagai modal, terutama dengan menggali kelebihan dan mengasah bakat kita, maka kita akan bisa mencapai apa yang kita impikan dan cita-citakan. Apalagi, jika semua hal tersebut kita kerjakan dengan senang hati dan penuh kesungguhan.

Dengan mampu mematangkan kelebihan-kelebihan kita secara konsisten, maka sebenarnya kita sedang memupuk diri kita untuk menjadi ahli di bidang yang kita tekuni. Sehingga, dengan profesionalisme yang kita miliki, apa yang kita perjuangkan pasti akan membuahkan hasil yang paling memuaskan.

Salam sukses, luar biasa!!

Senin, 28 November 2011
Oleh Andrie Wongso

Mengubah Nasib

Untuk mengubah nasib menjadi lebih baik, bukan semata soal relasi, soal hoki, atau soal keajaiban. Mengubah nasib sebenarnya—bahkan 100%—berada di tangan kita penentunya. Ini sejalan ungkapan dalam Islam yang berlaku universal yang menganjurkan tentang tanggung jawab sebagai pribadi, yakni: “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa mereka berusaha mengubahnya sendiri!”

Bagi saya, nasib memang kita sendiri yang memegang. Nasib kita adalah apa yang kita perjuangkan selama ini. Nasib kita adalah apa yang kita kerjakan selama ini. Sepanjang kita sudah berusaha, sudah bekerja, sudah berjuang, nasib hanya “menunggu” untuk berubah. Tentu, untuk sampai pada pertanyaan nasib seperti apa yang akan kita ubah, kita perlu memiliki target besar yang menantang.

Ambil contoh saat saya ke Jakarta kali pertama dulu, saya pun memiliki impian besar. Di sanalah saya menancapkan target untuk ditaklukkan. Karena itu, meski kemudian harus memulai dari bawah, menjadi tukang angkut barang, bekerja di pabrik sabun, dan berbagai pekerjaan kasar lainnya, saya sepenuhnya selalu sadar, bahwa itu semua hanyalah “fondasi” yang harus saya bangun untuk mengubah nasib. Sehingga, meski berat, saya terus meyakinkan diri sendiri, “Ini hanya proses. Ini semata perjuangan yang harus saya lakukan untuk mewujudkan impian.” Dengan cara itu, saya terus menguatkan fondasi keyakinan, bahwa semua proses itu hanyalah “jembatan” menuju pada terwujudnya impian.

Ibarat membuat bangunan kokoh yang perlu fondasi kuat agar tahan lama, pada masa itulah saya menyadari, bahwa semua pasti melalui proses penguatan. Karena itu, saat-saat berat, saat-saat penat, saat-saat berkeringat, saya justru bersyukur, inilah masa di mana saya akan jadi insan luar biasa yang bisa menjadi hebat.

Inilah salah satu kunci mengubah nasib, yakni menyadari bahwa semua harus melalui proses. Meski panjang dan melelahkan, sepanjang kita mempunyai target besar yang menantang, maka proses itu akan menjadi “kenikmatan”. Sehingga, saat sedih karena belum mencapai impian, saat kecewa ketika belum menjadi kenyataan, akan menjadi “makanan sehari-hari” yang bisa jadi “vitamin” yang memperkaya mental.

Dengan pengertian tersebut, pelan-pelan nasib akan mengalami perubahan. Jalannya pun bisa bermacam-macam. Ada yang di tengah jalan bertemu dengan orang yang bisa membukakan jalan. Ada yang di tengah jalan bertemu dengan kesempatan yang bisa dimaksimalkan. Ada yang di masa perjuangan bertemu dengan kondisi yang memungkinkan terjadinya perubahan. Saat itulah—yang sering kali kemudian dikonotasikan dengan datangnya hoki, atau bahkan datangnya bantuan Tuhan—yang kemudian benar-benar mengubah nasib seseorang.

Dan, sebagaimana kisah sukses banyak orang hebat, jika ditelusuri kehidupannya, pasti mengalami semua proses tersebut. Punya cita-cita atau target besar—yakni mengubah nasib, baik dikatakan atau tidak—kemudian berjuang memenuhi tujuan tersebut, melalui proses yang sering kali penuh ujian dan cobaan, hingga kemudian menemukan kesempatan untuk mencapai perubahan yang didambakan. Semua proses tersebut berjalan linear. Bahkan, bagi orang yang terkesan “sukses dengan mudah”, pasti ada cerita perjuangan di balik kesuksesannya. Karena sejatinya, mengubah nasib tak kan bisa bersifat instan.

Dengan kesadaran bahwa mengubah nasib tak bisa instan, maka seharusnya kita sadar, bahwa perjuangan tak boleh berhenti. Bahkan, ketika nasib yang kita damba sudah tercapai, sebenarnya kita sendiri sedang menuju pada “perjalanan” mengubah nasib berikutnya. Sebab, selalu ada yang namanya hukum perubahan. Maka, mereka yang tak waspada, sukses yang didapat bisa jadi hanya akan bertahan sesaat.

Mari, terus pelihara semangat mengubah nasib dengan terus berjuang, belajar, dan bekerja tanpa henti. Dengan cara tersebut, kita pun akan selalu siap di segala kondisi. Kita akan menjadi insan yang mampu terus menggali potensi, hingga mampu meraih prestasi demi prestasi.

Selamat berjuang. Salam sukses, luar biasa!

Rabu, 16 Januari 2013
Oleh Andrie Wongso

Menghilangkan Konsep Diri Negatif

Individu dengan konsep diri positif akan memaknai segalanya dengan nilai-nilai positif. Sedang individu dengan konsep diri negatif akan memaknai setiap pengalaman dan ujian yang didapat dalam hidup dengan cara pandang negatif.

Pernahkah kita merasa bahwa keseimbangan adalah salah satu bentuk keadilan Yang Mahakuasa pada diri setiap individu? Keseimbangan dalam artian sisi positif dan negatif yang ada dalam diri setiap individu seperti kebaikan dan keburukan menjadi satu kesatuan utuh. Positif dan negatif berada berdampingan. Keduanya saling tarik-menarik dan muncul ke permukaan menjadi salah satu karakter dalam diri kita. Individu dengan konsep diri positif akan memaknai segalanya dengan nilai-nilai positif. Sedang individu dengan konsep diri negatif akan memaknai setiap pengalaman dan ujian yang didapat dalam hidup dengan cara pandang negatif. William D. Brooks dan Philip Emmer memberi lima ciri untuk orang dengan konsep diri negatif yaitu :

1. Orang dengan konsep diri negatif akan peka terhadap kritik. Adanya kritik tidak akan diterima dengan tangan terbuka tapi justru akan membuatnya naik pitam dan mudah marah. Dengan begitu orang dengan konsep diri seperti ini akan selalu menghindari dialog terbuka dan bersikeras mempertahankan pendapatnya.

2. Orang dengan konsep diri negatif juga responsif sekali terhadap pujian yang diterimanya. Bisa terlihat dari antusiasmenya ketika menerima pujian.

3. Hiperkritis terhadap orang lain dalam artian ia selalu mengeluh, mencela, dan meremehkan siapa pun.

4. Merasa tidak disenangi orang lain, merasa tidak diperhatikan. Karena itu reaksi awal terhadap orang lain adalah menganggap mereka sebagai musuh.

5. Orang dengan konsep diri negatif tidak suka dengan persaingan dan menghindari sebuah kompetisi.

Berbanding terbalik dengan konsep diri negatif adalah konsep diri positif. Ciri yang terdapat dalam konsep diri postif adalah:

1. Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah.

2. Ia merasa setara dengan orang lain.

3. Ia menerima pujian tanpa rasa malu.

4. Ia menyadari bahwa setiap orang punya berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang seluruhnya tidak disetujui masyarakat.

5. Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

Tentu saja konsep diri negatif ini bukan harga mati dalam diri individu. Sudah menjadi hukum alam bahwa siapa yang mau bergerak untuk berubah maka perubahan itu akan datang padanya.

Yang penting untuk diingat adalah konsep diri negatif yang dibiarkan terus dalam diri kita tidak akan membawa kita pada titik keberhasilan tapi akan menjerumuskan dalam lubang yang sama bernama nasib yang tidak akan berubah.

Kamis, 3 Januari 2013
Oleh Tim AndrieWongso

Membangun Citra Diri Melalui Personal Branding

Pernahkan Anda merasakan bahwa orang-orang yang seharusnya mengenal Anda ternyata tak memahami siapa Anda sebenarnya? Pernahkah Anda merasakan bahwa hubungan-hubungan di dalam kehidupan Anda menyimpang dari cita-cita Anda? Pernahkah Anda merasakan adanya ketidakselarasan yang mengganggu di antara kehidupan pribadi Anda dengan pekerjaan Anda?

Pertanyaan-pertanyaan itu dikemukakan oleh David McNally dan Karl D. Speak dalam buku Be Your Own Brand. Menurut mereka kasus tersebut terjadi karena ada jarak antara persepsi orang dengan kenyataan diri kita sebenarnya. Dan persoalan itu terletak pada personal branding kita yang tidak dikenal oleh orang lain. Atau mungkin karena kita sendiri yang salah “mengampanyekan” siapa diri kita karena personal branding kita yang kurang menonjol.

Di mata kedua penulis itu, setiap orang memiliki sebuah merek (brand), sama seperti produk komersial. “Merek Anda merupakan cerminan dari siapa diri Anda serta apa yang Anda yakini, yang secara nyata telah terungkap dari apa yang telah Anda lakukan dan bagaimana Anda melakukan hal tersebut,” paparnya. Namun kebanyakan dari kita gagal mengembangkan personal branding-nya sehingga banyak kalangan dekat pun tak paham siapa kita dan apa yang kita kehendaki. Ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk memperbaikinya.

Kembangkan dan perbaiki merek

Caranya bisa dengan menjawab sejumlah pertanyaan ini. Kompetensi-kompetensi seperti apa yang harus kita berikan dalam kehidupan kita? Standar seperti apa yang dapat kita bangun di atasnya? Style seperti apa yang akan membantu memenuhi dimensi-dimensi yang pelik dari merek kita?

Banggalah terhadap personal branding sendiri

Apabila kita ingin dipandang sebagai sebuah merek pribadi (personal branding) yang kuat, kita harus memutuskan apa yang akan kita pertahankan dan kemudian kita harus mempertahankannya sampai pada tingkat tertentu.

Jangan berpura-pura

Personal branding yang kuat dibangun dengan menentukan pilihan-pilihan secara sadar, berhati-hati dan teliti berdasarkan pada apa yang sungguh-sungguh kita pertahankan. Dan sekali pilihan-pilihan tersebut ditentukan, kita harus bersedia mempertahankannya. Merek yang benar-benar kuat akan mencerminkan nilai-nilai dan pendirian dari pemiliknya.

Konsistensi, konsistensi, dan konsistensi

Apabila kita bertindak berdasarkan suatu sistem kepercayaan yang masuk akal, orang-orang tentu akan melihat konsistensi di dalam tindakan kita dan sejalan dengan itu akan belajar untuk menghargai kita.

Pastikan bahwa kemasan kita mencerminkan isinya

Merek kita merupakan suatu persepsi yang tersimpan dalam benak orang lain. Ini berarti bahwa segala sesuatu yang mereka lihat, mereka dengar, mereka pahami, mereka rasakan, bahkan yang mereka ragukan, akan ditambahkan kepada gambaran menyeluruh mereka mengenai kita. Bagaimana pun penampilan kita dan cara kita berbicara dapat menjadi alat yang luar biasa untuk membangun personal branding yang kuat.

Merek-merek yang hebat dapat dikenali dari persahabatan yang mereka pelihara

Menjadi merek yang kuat berarti orang-orang memahami bahwa nilai-nilai tertentu merupakan hal esensial agar kita dapat menjadi diri kita sebagaimana adanya. Teman-teman kita tertarik oleh nilai-nilai tersebut. Mereka tidak akan mengubah kita menjadi oran lain. Mereka melihat diri kita sebagaimana adanya dan mereka menghargai kita karena seperti apa diri kita merupakan hal yang relevan dengan kehidupan mereka. Solidaritas tersebut membangun semacam komunitas yang jauh lebih kuat dari komunitas mana pun.

Nah , mau seperti apa diri kita, bisa ditentukan dengan membangun personal branding

Selasa, 22 Januari 2013
Oleh Tim AndrieWongso

Layu Sebelum Berkembang

Alkisah, ada seorang anak yang sangat menyenangi bunga. Ia ingin rumahnya ditumbuhi oleh bunga-bunga indah. Karena itu, saat akan berulang tahun, ia pun meminta hadiah kepada orangtuanya.

“Papa, mama. Aku ingin sekali punya tanaman bunga yang indah seperti di taman kota, seperti waktu Papa ajak aku jalan-jalan tempo hari,” pinta si bocah.

Keesokan harinya, tepat di hari ulang tahunnya, permintaan itu dikabulkan. Sebuah pot bunga berisi tumbuhan segar diberikan sebagai hadiah.

“Terima kasih Pa, Ma.. Tapi, ini kok nggak ada bunganya?” tanya si bocah polos.
“Bunga yang kamu inginkan itu memang hanya tumbuh saat musimnya datang,” jawab kedua orangtua itu sabar. “Yang penting, rawat tanaman ini baik-baik, sirami, dan pelihara sungguh-sungguh.”

Si bocah pun mematuhi kata-kata orangtuanya. Setiap hari, disiraminya tanaman bunga yang diletakkan di pinggir jendela kamarnya itu. Hari demi hari berlalu. Tak terasa, sudah dua minggu lebih tanaman itu ada di kamar si bocah. Tanaman itu terlihat makin segar karena rajin disiram oleh si bocah. Tapi, yang ditunggu-tunggu si bocah tak kunjung tiba. Tanaman itu baru memunculkan satu dua kuncup calon bunga. Maka, si bocah pun bertanya kepada kedua orangtuanya.

“Papa Mama, mengapa aku sudah rajin menyiram dan merawat, yang muncul hanya kuncup ini? Mana bunganya?”

“Nak, sabar. Kuncup itu akan jadi bunga indah yang kamu inginkan. Terus rawat. Maka kuncup itu akan mekar pada waktunya…” nasihat kedua orangtuanya sabar.

Si bocah mengangguk. Namun, dalam hatinya ia sedikit kecewa. Sudah cukup lama ia menanam dan merawat, tapi yang ia dapat hanya kuncup bunga.

Tak terasa, seminggu kemudian, kuncup itu pun terlihat hendak mekar. Warna kuning merekah sudah terlihat dari dalam kuncup itu. Si bocah kegirangan. Dikiranya, bunga itu segera akan mekar. Maka, ia pun segera meraih kuncup bunga yang hendak merekah itu. Ia merasa, bunga itu harus dibantu untuk bisa keluar dan menghiasi kamarnya.

Tanpa ia sadar, tindakannya itu justru merontokkan bunga yang hendak mekar. Bunga yang memang sedang menunggu saat tepat untuk merekah itu justru layu saat dibantu tangan bocah untuk mekar. Bocah itu pun menangis. Ia menyesali perbuatannya yang hendak membantu mekarnya bunga, malah mematikan bunga itu.

Netter yang LuarBiasa,

Kisah tadi adalah sebuah pelajaran kehidupan, bahwa tidak ada sesuatu yang instan. Kita bisa saja mempercepat proses untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi, jika memang belum saatnya untuk “matang”, hampir bisa dipastikan, apa yang didapat, tak memiliki fondasi yang kuat. Akibatnya, sukses yang diperoleh pun akan mudah tumbang, mudah goyah, dan mudah pula ditiup badai kehidupan.

Karena itu, sadari sepenuhnya, bahwa semua butuh diperjuangkan dengan proses yang tak bisa instan. Justru, dengan melewati berbagai halangan, tantangan, dan kesulitan, akan mendewasakan.

Mari, jangan pernah menyerah saat proses hidup terasa menyulitkan. Sebab, di sanalah kita akan digembleng menjadi insan dengan “akar” kuat yang saatnya matang kelak, akan jadi pribadi hebat penuh manfaat.

Salam sukses, luar biasa!

Rabu, 5 Desember 2012
Oleh Andrie Wongso

Kekuatan Afirmasi

Jauh sebelum saya menjadi seperti saat ini, sebagaimana kebiasaan atau adat orangtua, mereka selalu membawa anaknya kepada tukang ramal. Konon, hal ini dilakukan agar apa yang kurang baik, bisa segera diantisipasi. Sedangkan yang baik-baik, bisa segera diwujudkan. Sayangnya, tidak semua perkataan tukang ramal menjadi hal yang positif jika dilakukan. Saat itu, saya ditanyai mulai dari shio, kelahiran, hingga beragam latar belakang lainnya. Lalu peramal itu menyebut, saya terlahir bakal susah. Dengan shio kuda yang saya miliki, saya “terbelenggu” bakal kerja keras seumur hidup. Intinya, nyaris tak ada yang baik tentang saya saat itu.

Beruntung, saya hidup dalam tradisi Tiongkok yang penuh dengan kisah inspiratif. Selain itu, budaya Jawa yang juga ada di sekeliling rumah tinggal saya pun cukup melekat kuat. Beberapa filosofi “penguat” kehidupan sering saya dengar dari penuturan orangtua atau orang sekeliling. Ayah saya pernah berkata: “Selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar.” Beliau menegaskan, bahwa selama mau bekerja keras, mau mencari, selalu ada peluang untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Sementara, dari filosofi Jawa, saya sering mendengar pepatah: jer basuki mawa beya, yang berarti bahwa semua hal yang ingin dicapai ada harganya, yakni, dengan kerja keras.

Dengan latar belakang itulah, saya seolah tak terpengaruh ucapan sang peramal. Bagi saya, di kemudian hari ketika sudah makin dewasa, ucapan pesimis justru menjadi cambuk. Saya ingin membuktikan, bahwa saya bukan seperti yang diucapkan. Karena saya adalah seseorang yang terlahir punya potensi.

Ketika kemudian berhasil mengubah nasib, saya memiliki sebuah ungkapan: “Tak mengapa 1000 orang meragukan saya. Namun jika diri sendiri yang meragukan, itu baru bencana!” Tentu, ungkapan itu muncul tidak dengan sendirinya. Semua melalui proses. Salah satunya, adalah proses bagaimana meyakinkan diri sendiri, proses “menaklukkan” diri sendiri. Sebab, saya yakin semua orang pasti pernah mendengar “anjuran” untuk mundur, takut, ciut, atau bahkan lari dari masalah, baik dari orang lain dari dalam pikiran kita sendiri.

Untuk itu, kita butuh penguat. Di sinilah, kekuatan afirmasi menjadi salah satu kunci utama ketika saya berjuang. Kekuatan afirmasi menjadi salah satu hal yang mendorong diri untuk terus berjalan mewujudkan impian.

Apa itu afirmasi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, afirmasi berarti penetapan yang positif, penegasan, dan peneguhan; atau pernyataan yang sungguh-sungguh. Kesungguhan ini salah satunya bisa dilakukan dengan mengulang-ulang pernyataan yang menguatkan tadi. Misalnya “saya bisa, saya bisa”, “saya mampu, saya mampu”. Sepertinya sederhana. Tapi, afirmasi akan memunculkan kekuatan yang luar biasa.

Kuncinya adalah menyimpan kondisi yang kita inginkan dalam pikiran. Kita lalu mengukuhkan kondisi itu seolah telah menjadi kenyataan. Ulangi terus afirmasi ini hingga meresap dalam diri kita, ke pikiran bawah sadar kita. Cara ini secara perlahan akan mengubah diri kita. Setiap ekspresi yang kita pancarkan dari dalam diri melalui perkataan dan tindakan, serta gerak tubuh adalah sesuai dengan kondisi yang kita inginkan. Hal ini nantinya akan memengaruhi lingkungan sekitar kita dan akhirnya lingkungan kita juga akan memancarkan kembali kondisi yang sesuai dengan kita inginkan.

Saran saya: miliki pikiran-pikiran positif saja. Nah, pikiran buruk tentunya tidak bisa kita cegah untuk masuk ke dalam benak kita. Namun, kita bisa segera menggantikan pikiran buruk itu dengan pikiran lain sesuai yang kita inginkan. Inilah saatnya kekuatan sebuah afirmasi mulai bekerja.

Dan tentu, semua itu tak akan jadi kekuatan jika kita hanya ”membiarkan” pada ranah berpikir saja. Yang pasti, tindakan demi tindakan harus terus kita lakukan. Selain itu agar maksimal, kita harus terlebih dulu memberi sebelum kita menerima apa yang kita inginkan. Misal, jika kita ingin merasakan cinta kasih, kita harus terlebih dulu menyebarkan cinta kasih kepada lingkungan kita. Jika kita ingin memiliki suatu keahlian tertentu, kita juga harus bersedia memberikan waktu dan tenaga untuk mempelajari keahlian itu secara tekun hingga akhirnya keahlian itu bisa kita kuasai dengan baik.

Mari, kita afirmasikan semua impian dan segera landasi dengan tindakan-tindakan positif. Niscaya, banyak jalan sukses akan terbuka untuk kita wujudkan.

Salam sukses luar biasa!

Sabtu, 12 Januari 2013
Oleh Andrie Wongso

Ibadah

Ilmiah

Akhlaq

 
© Copyright Blog Arulli Munadiyan 2013 | Template Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates.