Radio Rodja 756AM

News Updates :

Biography

Ceramah

Siyar

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi. Tampilkan semua postingan

Kisah Nabi Idris ‘Alaihissalam

Sabtu, 27 Juli 2013

Idris ‘alaihissalam adalah salah satu di antara nabi-nabi Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dua kali dalam Alquran, namun tidak menceritakan kepada kita kisahnya atau kisah kaumnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كَلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anbiya’: 85)

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا {56} وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا {57}

“Dan ceritakanlah (wahai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Alquran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi.— Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS. Maryam: 56-57)

Menurut Al Hasan Al Bashri, maksud “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi,” adalah ke surga. Ada pula yang berpendapat, bahwa maksudnya ke langit yang keempat sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Isra’-Mi’raj.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Isra’-Mi’raj pernah melewati Nabi Idris, dimana ketika itu ia berada di langit keempat, lalu Beliau mengucapkan kepadanya. Beliau bersabda, “Lalu aku mengucapkan salam kepadanya, ia pun menjawabnya dan berkata, ‘Selamat datang seorang saudara yang saleh dan nabi yang saleh…dst’.” (HR. Bukhari)

Ada riwayat bahwa Nabi Idris adalah seorang penjahit, ia tidaklah menancapkan jarum kecuali mengucapkan “Subhaanallah.”

Ibnu Ishaq menyebutkan, bahwa Idris adalah orang yang pertama menulis dengan pena.

Sebagian ulama menerangkan, bahwa zaman Idris adalah sebelum Nabi Nuh ‘alaihissalam, sedangkan yang lain berpendapat bahwa masanya adalah setelah Nabi Nuh ‘alaihissalam, ia hidup di zaman Bani Israil.

Tentang wafatnya diperselisihkan, ada yang berpendapat bahwa ia tidak mati, tetapi diangkat ke langit dalam keadaan hidup sebagaimana Nabi Isa ‘alaihissalam diangkat. Ada pula yang berpendapat, bahwa ia wafat sebagaimana rasul-rasul yang lain wafat.

Tentang ayat, “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi,” Mujahid berkata, “Idris diangkat dan tidak wafat sebagaimana Isa diangkat.” Ibnu Katsir mengomentari perkataan Mujahid, ia berkata, “Jika maksudnya tidak wafat sampai sekarang, maka perlu ditinjau kembali, tetapi jika maksudnya diangkat ke langit dalam keadaan hidup lalu diwafatkan di sana, maka tidak bertentangan dengan riwayat yang lalu dari Ka’ab Al Ahbar, wallahu a’lam.”

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man waalaah.

Marwan bin Musa

Maraaji’:
Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
Qashashul Anbiya’
Al Maktabatusy Syamilah
dll.

Artikel www.KisahMuslim.com

Mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Memiliki 9 Istri?

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan sembilan wanita. Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari poligami beliau ini. Pertama, beliau tidak menikahi wanita-wanita yang masih gadis, padahal beliau mampu untuk melakukannya. Gadis yang beliau nikahi hanya satu orang saja (Aisyah). Sebagian istri beliau adalah janda-janda yang telah memiliki anak, seperti Ummu Salamah, Khodijah, yang lain adalah janda seperti Hafshah, Zainab, dll. Tujuan beliau menikahi ummahatul mukminin tersebut bukan untuk mencari kepuasan, kalau tujuannya mencari kepuasan pastilah beliau menikahi para gadis.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau menikahi banyak wanita agar sunnah-sunnah yang tidak tampak kecuali di rumah, bisa diriwayatkan secara utuh. Istri-istri beliau berperan dalam meriwayatkan sunnah-sunnah beliau saat di rumah dan para sahabat meriwayatkan sunnah-sunnah beliau ketika di luar rumah. Seandainya beliau hanya beristrikan empat wanita, dua, atau satu saja, maka sunnah-sunnah beliau di rumah hanya disandarkan pada orang yang sangat sedikit, sehingga Allah perintahkan beliau untuk menikahi sembilan perempuan agar riwayat-riwayat tersebut disandarkan kepada orang yang banyak (sehingga menguatkan riwayatk tersebut).

Tujuan lainnya adalah menundukkan hati kabilah-kabilah besar agar mereka memeluk Islam. Seperti pernikahan beliau dengan Zainab binti Huyai bin Akhtab radhiallahu ‘anha, kemudian masuklah segolongan orang Yahudi ke dalam Islam. Demikian juga pernikahan beliau dengan Zainab binti Jahsy radhiallahu ‘anha yang menjadikan kabilah dari Zainab ini masuk Islam. Juga pernikahan beliau dengan anak Abu Bakar dan Umar, yakni Aisyah dan Hafshah radhiallahu ‘anhum, sehingga hubungan beliau semakin dekat dengan dua sahabatnya ini layaknya menteri-menteri beliau.

Jadi Allah memerintahkan beliau menikahi banyak wanita memiliki hikmah dan pelajaran yang banyak, baik hikmah tersebut kita ketahui atau hikmah itu Allah simpan dalam ilmu-Nya saja, dan hal ini termasuk kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara kekhususan lain bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bisa jadi beliau melewati dua atau tiga hari dalam keadaan berpuasa. Beliau berbuka ketika maghrib lalu melanjutkan puasanya di esok hari atau bahkan sampai lusa. Pada saat para sahabat mengetahui hal ini, mereka pun merasa khawatir dengan kondisi beliau, beliau menjawab “Aku berbeda dengan kalian. Saat aku tertidur Rabb ku memberiku makan dan minum.” Kekhususan lain bagi beliau adalah ketika beliau wafat di hari Senin, beliau baru dimakamkan di hari Rabu. Jasad beliau sama sekali tidak berubah, berbeda dengan orang lain jika mengalami hal serupa tanpa diberikan formalin dan keadaan kota Madinah yang sangat panas, keadaan fisik beliau tidak berubah sama sekali.

Dengan demikian kita bisa mengetahui keistimewaan yang diberikan Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kekuatan fisik beliau, kekhususan boleh menikahi sembilan wanita, bahkan kekhususan setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber dari ceramah Syaikh Muhammad al-Arifi:
Artikel www.KisahMuslim.com

Sejarah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (Bagian 1)

Sejarah Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Kehidupan Bangsa Arab sebelum Kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Kehidupan Agama
Pada awalnya, mayoritas Bangsa Arab mengikuti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yaitu ajaran tauhid untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala.

Setelah berlalunya waktu yang panjang, mereka melalaikan hal tersebut, walaupun ada sisa-sisa peninggalan ajaran tauhid Nabi Ibrahin ‘alaihissalam.

Hingga suatu saat di Mekah tersebutlah seorang yang bernama Amr bin Luhay dari suku Khuza’ah yang sangat dihormati dan dimuliakan kaumnya karena kedermawanan dan prilakunya yang baik. Suatu ketika, ia pergi ke Syam dan di sana melihat masyarakatnya menyembah berhala sebagai bentuk ibadah. Ia menyimpulkan bahwa itu adalah perbuatan baik. Sekembalinya dari Syam, Amr pun membawa berhala yang bernama Hubal dan meletakkannya di ka’bah. Lalu dia mengajak kaumnya untuk melakukan apa yang dilakukan penduduk Syam.

Karena pengaruh kedudukannya, tak lama penduduk Mekah pun menjadi penyembahan berhala dan menjadi agama baru bagi mereka. Ajaran tersebut dengan cepat menyebar ke wilayah Hijaz (Mekah dan sekitarnya) hingga menyebar luas meliputi Jazirah Arabi. Bahkan, di sekitar Ka’bah ada ratusan berhala yang disembah. Dari sanalah mulai lagi bermunculan berbagai bentuk kesyirikan, bid’ah, dan khurafat di masyarakat Arab.

2. Kehidupan Sosial
Struktur kehidupan sosial masyarakat Arab berkelas dan bersuku-suku. Adanya pemandangan yang sangat kontras antara kaum bangsawan dengan segala kemewahan dan kehormatannya dengan rakyat jelata dengan segala kekurangan dan kehinaan yang tak terperi.

Kehidupan antar suku pun penuh dengan persaingan yang sering mengakibatkan pertikaian dengan bumbu fanatisme kesukuan yang kental. Setiap anggota suku pasti membela orang yang satu suku dengannnya, tak peduli perbuatannya benar atau salah, sehingga terkenal ucapan di antara mereka,

أنصر أخاك ظالما أومظلوما

“Bantulah saudaramu, baik dia berbuat zalim atau dizalimi.”

Perlakuan terhadap wanita juga tak kalah zalimnya. Laki-laki dapat melakukan poligami tanpa batas, bahkan dapat menikahi dua bersaudara sekaligus. Demikian pula mereka dapat dapat menceraikannya sesuka. Sementara itu perzinahan merupakan masalah biasa. Bahkan ada suami yang memerintahkan istrinya tidur dengan laki-laki lain semata-mata ingin mendapatkan keturunan mulia dari lakilaki tersebut. Kelahiran anak perempuan menjadi aib yang berat mereka tanggung, bahkan dikenal di sebagian mereka istilah wa’dul banat (mengubur anak wanita hidup-hidup).

Perjudian dan minuman keras juga merupakan hal yang sangat lumrah dilakukan di tengah masyarakat, bahkan menjadi sumber prestise tersendiri.

Kesimpulannya, kondisi sosial mereka sangatlah parah, sehingga kehidupan berlangsung tanpa aturan layaknya binatanag.

3. Kondisi Ekonomi
Masyarakat Arab adalah masyarakat pedagang. Sebagian kecil penduduk pinggiran negeri, hidup secara bertani dan memelihara hewan ternak. Mereka belum mengenal dunia perindustrian. Hasil-hasil produksi biasanya mereka dapatkan dari Yaman atau Syam (Syam pada masa sekarang meliputi Palestina, Lebanon, Yordan, dan Suria).

Kemiskinan cukup mewarnai kehidupan masyarakat, meskipun ada sejumlah pedagang besar dan bangsawan.

4. Akhlak terpuji
Betapapun demikian, bangsa Arab masih memiliki beberapa akhlak yang sangat terpuji, walau kadang ditampilkan dengan cara yang salah. Diantaranya adalah kedermawanan, memenuhi janji, menjaga kemuliaan jiwa dan pantang dihina, pemberani, lemah lembut suka menolong dan sederhana.

Bersambung…

Sumber: Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, judul asli Arahiqul makhtum Syekh Syafiyurrahman Mubarakfury, di terjemahkan Abu haidir, Kantor dakwah dan bimbingan bagi pendatang Al-Sulay, Riyadz, KSA.

Artikel www.KisahMuslim.com

Sejarah Rasullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam (Bagian 2)

Kelahiran dan Masa Pertumbuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada hari senin pagi 9 Rabi’ul Awwal, tahun Gajah. Bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April 571 M. (Banyak pendapat ulama tentang kapan waktu Nabi Muhammad dilahirkan. pen.)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan dari suku Quraisy, yaitu suku yang paling terhormat dan terpandang di tengah masyarakat Arab pada waktu itu. Dari suku Quraisy tersebut, Beliau dari bani Hasyim, anak suku yang jug apaling terhormat di tengah suku Quraisy.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir dalam keadaan yatim. Karena bapaknya; Abdullah telah meninggal ketika ibunya; Aminah mengandungnya di usia dua bulan.

Setelah melahirkannya, sang ibu segera membawa bayi tersebut ke kakeknya Abdul Mutthalib. Betapa gembiranya sang kakek mendengar berita kelahiran cucunya. Lalu dibawanya bayi tersebut ke dalam Ka’bah, dia berdoa kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya. Anak tersebut kemudian diberi nama Muhammad; nama yang belum dikenal masyarakat Arab waktu itu. Lalu pada hari ketujuh setelah kelahirannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikhitan.
Kehidupan di Bani Sa’ad

Selain ibunya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disusukan juga oleh Tsuwaibah; budak Abu Lahab. kemudian, -sebagaimana adat kebiasaan masyarakat perkotaan waktu itu- Ibunya mencari wanita pedesaan untuk menyusui putranya. maka terpilihlah seorang wanita yang bernama Halimah binti Abi Dzu’aib dari suku Sa’ad bin Bakar, yang kemudian lebih di kenal dengan panggilan Halimah as-Sa’diyah.

Sesungguhya atas kehendak Allah jualah, hingga Halimah as-Sa’diyah menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kecilnya. Sebab ketika pertama kali ditawarkan untuk menyusuinya, dia terasa enggan menerimanya, karena rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam anak yatim yang tidak dapat diharapkan imbalan materi yang layak darinya. tetapi, ketika tidak didapatkan lagi bayi lain untuk disusui, maka diapun menerima bayi Muhammad untuk disusui di perkampungan Bani Sa’ad.

Ternyata dia tidak salah pilih, karena yang dia susui telah Allah persiapkan menjadi manusia paling agung di muka bumi ini yang akan membawa jalan terangbagi umatnya yang beriman. maka wajar, setelah itu kehidupan Halimah as-Sa’diyah penuh dengan keberkahan.

Demikianlah, 5 tahun pertama kehidupan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia lalui di daerah perkampungan dengan kehidupan yang masih asri dan udara segar di lembah Bani Sa’ad. hal tersebut tentu saja banyak berpengaruh bagi pertumbbuhan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik secara fisik maupun kejiwaan.
 
Peristiwa Pembelahan Dada (Syaqqus Shadr)
Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 5 tahun, dan saat beliau masih dalam perawatan Halimah as-Sa’diyah di perkampungan Bani Sa’ad terjadilah peristiwa besar yang sekaligus menunjukkan tanda-tanda kenabiannya kelak. Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah Pembelahan Dada (Syaqqus Shadr).

Suatu hari, ketika rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermain bersama teman-temannya, tiba-tiba datang malaikat Jibril menghampiri dan menyergapnya. Lalu dia dibaringkan, kemudian dadanya di belah, lalu hatinya di ambil selanjutnya dikeluarkan segumpal darah darinya, seraya berkata: “Inilah bagian setan yang ada padamu.” Kemudian hati tersebut dicuci di bejana emas dengan air Zam-Zam, setelah itu dikembalikan ke tempat semula.

Sementara itu, teman-teman sepermainannya melaporkan kejadian tersebut kepada Halimah seraya berkata: “Muhammad dibunuh…Muhammad dibunuh. ”Maka mereka bergegas menghampiri tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semula, disana mereka mendapatkan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan pucat pasi.

Setelah kejadian tersebut, Halimah sangat khawatir terhadap keselamatan Muhammad kecil shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhirnya tak lama setelah itu, dia memutuskan untuk memulangkannya kepada ibunya di kota Mekkah. Maka berangkatlah Halimah ke Mekkah dan dengan berat hati dikembalikannya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ibunya.

Bersambung…

Sumber: Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, judul asli Arahiqul makhtum Syekh Syafiyurrahman Mubarakfury, di terjemahkan Abu haidir, Kantor dakwah dan bimbingan bagi pendatang Al-Sulay, Riyadz, KSA.
 
http://kisahmuslim.com

Kisah Nabi Shalih ‘Alaihissalam

Rabu, 24 Juli 2013

Di daerah Hijr yang terletak antara Hizaj dan Syam, dimana tempat tersebut sekarang disebut “Madaa’in Shalih” ada sebuah kabilah yang tinggal, namanya kabilah Tsamud. Nenek moyang mereka nasabnya sampai kepada Saam bin Nuh.

Kehidupan mereka makmur, mereka memahat gunung dan menjadikannya sebagai rumah. Mereka menempati rumah itu di musim dingin untuk melindungi mereka dari hujan dan angin kencang. Mereka juga membuat istana pada tanah-tanah yang datar yang mereka tempati di musim panas. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepada mereka nikmat yang begitu banyak, Dia memberikan kepada mereka tanah yang subur, air tawar yang melimpah, kebun-kebun yang banyak, tanaman-tanaman, dan buah-buahan. Akan tetapi, mereka membalas nikmat tersebut dengan sikap ingkar, mereka kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak menyembah-Nya, yang mereka sembah malah patung dan menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah. Kepada patung-patung itu, mereka berdoa, mempersembahkan korban, dan memberikan sikap tadharru’ (perendahan diri) kepadanya.

Maka Allah ingin memberi mereka hidayah dengan mengutus seorang nabi di antara mereka, yaitu Nabi Shalih ‘alaihissalam. Ia adalah seorang yang mulia, bertakwa dan dicintai di kalangan mereka.

Mulailah Nabi Shalih ‘alaihissalam mengajak mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan menyembah patung-patung, ia berkata kepada mereka, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan yang berhak disembah bagimu selain Dia.” (Al A’raaf: 73)

Tetapi kaumnya malah mengatakan, “Wahai Shalih, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (QS. Huud: 62-63)

Meskipun begitu, Nabi Shalih ‘alaihissalam tidak membalas ejekan mereka dan tetap terus mendakwahi mereka. Beliau mengingatkan mereka dengan peristiwa yang menimpa umat-umat sebelum mereka berupa pembinasaan yang disebabkan kekafiran dan sikap keras mereka. Beliau berkata, “Dan ingatlah olehmu di waktu Allah menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) setelah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (QS. Al A’raaf: 74)

Nabi Shalih ‘alaihissalam juga mengingatkan nikmat-nikmat Allah kepada mereka, “Apakah kamu akan dibiarkan tinggal di sini (di negeri kamu ini) dengan aman,–Di dalam kebun-kebun serta mata air,–Dan tanam-tanaman dan pohon-pohon kurma yang mayangnya lembut.–Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin;–Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku;–Dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melewati batas, – Yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan“. (QS. Asy Syu’ara: 146-152)

Selanjutnya beliau menerangkan kepada mereka jalan yang lurus, yaitu beribadah hanya beribadah kepada Allah, dan bahwa sekiranya mereka mau meminta ampun dan bertaubat kepada Allah, niscaya Allah akan mengampuni dan menerima taubat mereka, Beliau berkata, “”Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud: 61)

Maka berimanlah segolongan kaumnya yang fakir, sedangkan golongan yang kaya tetap kafir dan bersikap sombong sambil mendustakan, mereka berkata, ““Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu, kita benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila,–Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang sangat pendusta lagi sombong.” (QS. Al Qamar: 24-25)

Ketika itu Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, “Tahukah kamu bahwa Salih diutus (menjadi Rasul) oleh Tuhannya?”

Maka golongan yang beriman tetap percaya dengan apa yang dibawa Nabi Shalih, mereka berkata, “Sesungguhnya Kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya.” (QS. Al A’raaf: 75)

Sedangkan orang-orang kafir tetap di atas kesesatannya dan dengan tegas mereka berkata, “Sesungguhnya Kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu.” (QS. Al A’raaf: 76)

Ketika Nabi Shalih melihat mereka tetap berada di atas kekafiran dan kesesatannya, maka ia berkata, ““Wahai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Maka kamu hanya menambah kerugian kepadaku.” (QS. Huud: 63)

Nabi Shalih ketika itu berdakwah kepada kaumnya dengan akhlak dan adab yang mulia, Beliau berdakwah kepada mereka dengan hikmah, nasihat yang baik, dan terkadang dengan berdebat pada saat dibutuhkan berdebat untuk menguatkan bahwa beribadah kepada Allah itulah yang benar dan merupakan jalan yang lurus.

Akan tetapi kaumnya tetap saja berada di atas kekafiran, bahkan mereka sampai membuat makar untuk Nabi Shalih ‘alaihissalam agar manusia tidak ada yang beriman. Pernah suatu hari Nabi Shalih mengajak mereka beribadah kepada Allah dan menerangkan nikmat-nikmat Allah yang besar, dan bahwa nikmat tersebut harus disyukuri dan diingat, tetapi mereka malah mengatakan kepadanya, “Kamu tidak lain hanya seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Asy Syu’araa: 54)

Maka Nabi Shalih menanyakan kepada mereka mukjizat yang mereka inginkan, lalu mereka menunjukkan kepada sebuah batu besar yang berada di samping mereka, agar dari batu tersebut keluar onta yang bunting dan mereka sebutkan pula sifat-sifat onta yang mereka inginkan agar Shalih tidak mampu mewujudkannya, lalu Nabi Shalih berkata kepada mereka, “Bagaimana menurut kalian, jika aku memenuhi permintaan kalian, apakah kalian mau beriman kepadaku, membenarkanku, dan beribadah kepada Allah yang telah menciptakan kalian?” Mereka menjawab, “Ya.” Bahkan mereka berjanji demikian kepada Nabi Shalih.

Maka Nabi Shalih berdiri dan shalat, kemudian berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meminta agar Allah mewujudkan permintaan mereka.

Setelah beberapa saat kemudian, muncullah seekor onta betina yang bunting dan besar dari batu itu sebagai bukti yang jelas dan dalil yang kuat terhadap kenabian Shalih. Maka ketika kaum Shalih melihat onta itu dengan bentuk yang menakjubkan, sebagian kaumnya beriman, tetapi kebanyakan mereka kafir dan tetap di atas kesesatannya. Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepada Shalih agar memerintahkan kaumnya tidak menyakiti onta itu, maka Shalih berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhammu. Onta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al A’raaf: 73)

Keadaan tetap terus seperti itu hingga berlalu waktu yang panjang, ketika itu onta tersebut meminum air sumur pada hari tertentu, sedangkan mereka meminum air sumur pada hari yang lain secara bergiliran, dan pada hari ketika onta meminum air sumur sedangkan mereka tidak, maka mereka memerah susunya, lalu onta itu mengeluarkan susu yang cukup buat mereka semua, akan tetapi setan menghasut mereka, ia menghias kepada mereka jalan yang buruk sehingga mereka pura-pura tidak tahu peringatan Nabi Shalih kepada mereka, hingga akhirnya mereka sepakat untuk membunuh onta itu. Saat itu, jumlah orang yang sepakat untuk membunuhnya Sembilan orang sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala di surat An Naml: 48,

“Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.” (QS. An Naml: 48)

Selanjutnya mereka bersepakat dengan kaum mereka yang lain untuk melaksanakan niat buruk itu. Saat itu, yang bertindak langsung untuk membunuhnya adalah orang yang paling celaka di antara mereka dan paling besar kerusakannya, ada yang mengatakan, bahwa namanya adalah Qudar bin Salif.

Maka pada pagi hari, kaum Shalih berkumpul di suatu tempat yang luas menunggu kehadiran onta itu untuk mewujudkan niat jahat mereka itu. Tidak lama kemudian, onta yang besar itu pun lewat, lalu salah seorang di antara mereka maju dan memanahnya dengan panah yang tajam yang mengenai betisnya, sehingga onta itu jatuh ke tanah, maka Qudar bin Salif menusuknya dengan pedang hingga onta itu pun mati. Ketika itu Nabi Shalih ‘alaihissalam mengetahui perbuatan yang dilakukan kaumnya itu yang ditambah dengan sikap mengejek beliau ‘alaihissalam dan mengolok-oloknya dengan berkata, “Wahai shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada Kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah).” (QS. Al A’raaf: 77)

Maka Allah mewahyukan kepadanya bahwa azab akan turun menimpa kaumnya setelah berlalu tiga hari, Shalih pun berkata kepada kaumnya, ““Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS. Huud: 65)

Meskipun mereka sudah diancam, tetapi mereka malah mendustakannya bahkan mengejek beliau. Maka ketika malam harinya segolongan orang-orang kafir dari kaum Shalih berkumpul dan bermusyawarah untuk membunuh Nabi Shalih agar mereka dapat bebas darinya sebagaimana mereka dapat bebas dari onta itu, hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Mereka berkata, “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada ahli warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”.–Dan mereka merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (QS. An Naml: 49-50)

Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menyegerakan azab untuk sembilan orang itu, Dia mengirimkan kepada mereka batu besar dan membinasakan mereka.

Selanjutnya setelah berlalu tiga hari, maka orang-orang kafir keluar pada pagi hari dari hari ketiga sambil menunggu benarkah azab dan siksaan akan menimpa mereka, maka tidak beberapa lama datanglah suatu suara keras yang mengguntur dari langit dan goncangan bumi yang keras dari bawah mereka, sehingga nyawa mereka melayang, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Allah Ta’ala berfirman, “Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.–Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa.” (QS. An Naml: 52-53)

Demikianlah Allah mengazab kaum Shalih karena kekafiran dan sikap keras kepala mereka, dan karena mereka berani membunuh onta Allah itu serta mengolok-olok Nabi-Nya dan tidak beriman kepadanya. Maka setelah pembinasaan itu, Nabi Shalih dan kaumnya yang beriman berdiri memperhatikan mereka, Shalih berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (QS. Al A’raaf: 79)

ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Tabuk pada tahun ke-9 H, beliau melewati perkampungan Tsamud (sekarang dikenal dengan nama “Maad’in Shaalih”), lalu beliau memerintahkan para sahabatnya untuk tidak melewatinya kecuali dalam keadaan menangis dengan tunduk dan takut karena khawatir mereka ditimpa seperti yang menimpa penduduknya, beliau bersabda,

لاَ تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلاَءِ الْقَوْمِ الْمُعَذَّبِينَ إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلاَ تَدْخُلُوا
 
 عَلَيْهِمْ أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ

“Janganlah kamu masuk ke (perkampungan) kaum yang diazab ini, kecuali dalam keadaan menangis. Jika tidak bisa menangis, maka janganlah memasukinya agar tidak menimpa kamu apa yang menimpa mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga memerintahkan mereka agar tidak meminum airnya.

Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.


Maraaji’:
Al Qur’anul Karim
Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
Qashashul Anbiya’ (Ibnu Katsir)
dll.


Oleh: Marwan bin Musa
Artikel www.KisahMuslim.com

Kisah Nabi Yunus ‘Alaihissalam

Di daerah Mosul, Irak, terdapat sebuah kampung bernama Ninawa yang penduduknya berpaling dari jalan Allah yang lurus dan malah menyembah patung dan berhala. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin memberikan petunjuk kepada mereka dan mengembalikan mereka ke jalan yang lurus, maka Dia mengutus Nabi Yunus ‘alaihissalam untuk mengajak mereka beriman dan meninggalkan sesembahan selain Allah ‘Azza wa Jalla.

Akan tetapi mereka menolak beriman kepada Allah dan tetap memilih menyembah patung dan berhala. Mereka lebih memilih kekafiran dan kesesatan daripada keimanan dan petunjuk, mereka mendustakan Nabi Yunus ‘alaihissalam, mengolok-olok dan menghinanya. Maka Nabi Yunus pun marah kepada kaumnya dan tidak berharap lagi terhadap keimanan mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mewahyukan kepada Yunus untuk memberitahukan kaumnya, bahwa Allah akan mengadzab mereka karena sikap mereka itu setelah berlalu tiga hari. Lalu Nabi Yunus menyampaikan perihal adzab itu kepada kaumnya dan mengancam kaumnya dengan adzab Allah, kemudian ia pergi meninggalkan mereka.

Ketika itu, kaum Yunus telah mengetahui, bahwa Nabi Yunus telah pergi meninggalkan mereka sehingga mereka yakin adzab akan turun dan bahwa Yunus adalah seorang nabi, maka mereka segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kembali kepada-Nya, dan menyesali sikap mereka.

Ketika itu, kaum lelaki, wanita, dan anak-anak menangis karena takut adzab menimpa mereka, dan mereka berdoa dengan suara keras kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar adzab itu diangkat dari mereka. Saat Allah melihat jujurnya taubat mereka, maka Dia menghilangkan adzab itu dari mereka serta menjauhkannya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)

Setelah peristiwa itu, Yunus tetap meninggalkan kampung kaumnya karena marah padahal Allah belum mengizinkannya, maka Yunus pergi ke tepi laut dan menaiki kapal. Pada saat Yunus berada di atas kapal, maka ombak laut menjadi dahsyat, angin menjadi kencang dan membuat kapal menjadi oleng hingga hampir saja tenggelam[1].

Oleh ketika itu, kapal yang ditumpangi membawa barang-barang yang berat, lalu sebagiannya dilempar ke laut untuk meringankan beban. Tetapi ternyata, kapal itu tetap saja oleng hampir tenggelam, maka para penumpangnya bermusyawarah untuk meringankan beban kapal dengan melempar seseorang ke laut, maka mereka melakukan undian dan ternyata undian itu jatuh kepada diri Yunus, tetapi mereka tidak mau jika Yunus harus terjun ke laut, maka undian pun diulangi lagi, dan ternyata jatuh kepada Yunus lagi, hingga undian itu dilakukan sebanyak tiga kali dan hasilnya tetap sama. Maka Yunus bangkit dan melepas bajunya, kemudian melempar dirinya ke laut.

Pada saat yang bersamaan, Allah telah mengirimkan ikan besar kepadanya dan mengilhamkan kepadanya untuk menelan Yunus dengan tidak merobek dagingnya atau mematahkan tulangnya, maka ikan itu melakukannya. Ia menelan Nabi Yunus ke dalam perutnya tanpa mematahkan tulang dan merobek dagingnya, dan Yunus pun tinggal di perut ikan itu dalam beberapa waktu dan dibawa mengarungi lautan oleh ikan itu. Ketika Yunus mendengar ucapan tasbih dari kerikil di bawah laut, maka di kegelapan itu Yunus berdoa, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Yunus berada dalam tiga kegelapan; kegelapan perut ikan, kegelapan lautan, dan kegelapan malam. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala,

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”–Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiyaa’: 87-88)

Para ulama berselisih tentang berapa lama Nabi Yunus tinggal di dalam perut ikan. Menurut Qatadah, tiga hari. Menurut Abu Ja’far ash-Shaadiq, tujuh hari, sedangkan menurut Abu Malik, empat puluh hari. Mujahid berkata dari asy-Sya’bi, “Ia ditelan di waktu duha dan dimuntahkan di waktu sore.”

Wallahu a’lam.

Kemudian Allah memerintahkan ikan itu memuntahkan Yunus ke pinggir pantai, lalu Allah tumbuhkan di sana sebuah pohon sejenis labu yang memiliki daun yang lebat yang dapat menaungi Nabi Yunus dan menjaganya dari panas terik matahari. Allah Ta’ala berfirman,

“Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.– Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.” (QS. ash-Shaaffaat: 145-146)

Ketika Yunus dimuntahkan dari perut ikan yang keadaannya seperti anak burung yang telanjang dan tidak berambut. Lalu Allah menumbuhkan pohon sejenis labu, dimana ia dapat berteduh dengannya dan makan darinya. Selanjutnya pohon itu kering, lalu Yunus menangis karena keringnya pohon itu. Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Apakah kamu menangis karena pohon itu kering. Namun kamu tidak menangis karena seratus ribu orang atau lebih yang ingin engkau binasakan.”

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Yunus agar kembali kepada kaumnya untuk memberitahukan mereka, bahwa Allah Ta’ala telah menerima taubat mereka dan telah ridha kepada mereka. Maka Nabi Yunus ‘alaihissalam melaksanakan perintah itu, ia pergi mendatangi kaumnya dan memberitahukan kepada mereka wahyu yang diterimanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kaumnya pun telah beriman dan Allah memberikan berkah kepada harta dan anak-anak mereka, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam firman-Nya,

“Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.–Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. ash-Shaaffaat: 147-148)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi Yunus ‘ailaihissalam dalam Alquran, Dia berfirman,

“Dan Ismail, Alyasa’, Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” (QS. Al An’aam: 86)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji Nabi Yunus ‘alaihissalam dalam sabdanya,

لاَ يَنْبَغِي لِعَبْدٍ أَنْ يَقُولَ: أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى

“Tidak layak bagi seorang hamba mengatakan, “Saya (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih baik daripada Yunus bin Mata.” (Muttafaq ‘alaih)

Beliau mengucapkan demikian karena tawadhunya. Ada pula yang berpendapat, bahwa beliau mengucapkan demikian karena sebelumnya tidak mengetahui bahwa dirinya lebih utama di atas para nabi yang lain. Ada pula yang berpendapat, bahwa beliau mengucapkan demikian untuk menghindari adanya sikap orang bodoh yang merendahkan martabat Nabi Yunus karena kisah yang disebutkan dalam Alquran, wallahu a’lam.

Dan tentang doa Nabi Yunus ‘alaihissalam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ
 
 الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ

“Doa Dzunnun (Nabi Yunus ‘alaihissalam) ketika di perut ikan adalah “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Sesungguhnya tidak seorang muslim pun yang berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah akan mengabulkan doanya.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.



Maraaji’:
Alquranul Karim
Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Abu Yahya Marwan)
Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
Shahih Qashashil Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy)
Maktabah Syaamilah
dll.
Oleh: Marwan bin Musa
Artikel www.KisahMuslim.com

Kisah Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam

Nabi Ya’qub ‘alaihissalam adalah salah seorang di antara para nabi. Beliau adalah putera Ishaq bin Ibrahim ‘alahimas salam. Kelahiran Ya’qub telah disampaikan oleh para tamu Nabi Ibrahim yang terdiri dari beberapa malaikat dari istrinya Sarah. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

“Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub. “ (QS. Huud: 71)

Kisah Nabi Ya’qub secara panjang lebar akan diceritakan bersama kisah Nabi Yusuf, insya Allah. Oleh karena itu, kisah yang disebutkan di sini hanyalah sebatas pengantar saja.

Nabi Ya’qub dari sejak kecil hingga dewasa tumbuh dengan mendapatkan perhatian dari Allah dan rahmat-Nya. Oleh karena itu, ia berjalan di atas jalan hidup ayahnya dan kakeknya. Nabi Ya’qub memiliki dua belas orang anak yang Allah sebut mereka dengan sebutan asbath (keturunan Ya’qub). Dari istrinya yang bernama Rahiil lahirlah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan Bunyamin. Dan dari istrinya yang bernama Laya lahirlah Ruubil, Syam’un, Laawi, Yahuudza, Isaakhar dan Zabilon.

Dari budak milik Rahiil lahir Daan dan Naftaali, dan dari budak milik Layaa lahir Jaad dan Asyir.

Di antara sekian anaknya, yang paling tinggi kedudukannya, paling bertakwa dan paling bersih hatinya, di samping paling muda usianya adalah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Oleh karena itulah Nabi Ya’qub memberikan perhatian dan kasih sayang lebih kepadanya. Hal ini sudah menjadi tabiat, yakni ayah sangat sayang kepada anak yang paling kecil sampai ia dewasa dan kepada yang sakit sampai ia sembuh.

Nabi Ya’qub adalah seorang ayah yang patut dijadikan teladan, dimana beliau mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang baik, memberikan nasihat kepada mereka dan menyelesaikan masalah mereka. Namun selanjutnya, saudara-saudara Yusuf dihasut oleh setan untuk berlaku jahat kepada Yusuf ketika mereka mengetahui perhatian ayahnya kepada Yusuf. Sampai-sampai mereka hendak membunuh Yusuf, namun kemudian sebagian mereka mengusulkan untuk melempar Yusuf ke sumur yang jauh agar dibawa oleh kafilah yang lewat dan menjadi budak mereka. Ketika Yusuf tidak kunjung pulang, maka Nabi Ya’qub bersedih dengan kesedihan yang dalam karena berpisah dengan puteranya, bahkan ia sampai menderita buta karena rasa sedih yang begitu dalam. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’ala menjadikannya dapat melihat kembali.

Setelah berlalu waktu yang cukup lama, Nabi Ya’qub ‘alaihissalam pun sakit, ia kumpulkan anak-anaknya dan berpesan kepada mereka agar tetap beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, demikian juga tetap beriman dan beramal saleh. Allah Ta’ala berfirman:

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Mahaesa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 133)

Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.



Maraaji’:
Al Qur’anul Karim
Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
Shahih Qashashil Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy)
dll.
Oleh: Marwan bin Musa
Artikel www.KisahMuslim.com


Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam (bagian – 4)

Kesedihan Ya’qub Semakin Bertambah Namun Tetap Tidak Berputus Asa

Maka ayah mereka pergi meninggalkan anak-anaknya dan mulai menangisi Yusuf dan saudaranya sampai matanya buta karena rasa sedih yang mendalam, lalu anak-anak mereka berkata, “Demi Allah, kamu senantiasa mengingat Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa”.

Yakni sehingga badannya semakin kurus dan kekuatannnya semakin lemah.

Ya’qub menjawab, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.”

Maka Nabi Ya’qub meminta mereka mencari Yusuf dan saudaranya, ia menyadari sebagai seorang mukmin bahwa dirinya tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Selanjutnya anak-anaknya pergi menuju Mesir pada kesekian kalinya untuk mencari saudara mereka dan mencari sebagian makanan dengan membawa barang-barang yang kurang berharga. Ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata, “Wahai al-Aziz! Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada Kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah.”
Yusuf Memberitahukan Jati Dirinya

Lalu Yusuf menimpali kata-kata mereka secara tiba-tiba dengan ucapan ini, “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?”.

Mereka pun balik menjawab, “Mereka berkata, “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?”.

Yusuf menjawab, “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

Maka saudara-saudaranya pun meminta maaf kepadanya dan mengakui kesalahannya, lalu Yusuf memaafkannya dan memintakan ampunan kepada Allah untuk mereka, lalu Yusuf bertanya kepada mereka tentang ayahnya. Dari berita yang disampaikan, Yusuf mengetahui bahwa ayahnya telah buta matanya karena kesedihannya atas kehilangan Yusuf, lalu Yusuf berkata kepada mereka, “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku.”

Kemudian mereka membawa gamisnya dan keluar dari Mesir menuju kampung mereka di Palestina. Di tengah perjalanan, sebelum kafilah itu datang, Nabi Ya’qub telah merasakan wangi Nabi Yusuf, ia berkata, “Sesungguhnya aku mencium wangi Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)“.

Keluarganya berkata, “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.”
Pertemuan Yusuf dengan Ayahnya

Setelah berlalu beberapa hari, saudara-saudara Yusuf kembali kepada ayahnya dan memberitahukan kabar gembira tentang saudara mereka Yusuf, lalu mereka mengeluarkan gamis Yusuf dan meletakkan ke wajah ayahnya, maka penglihatannya pun kembali normal.

Ketika itu, saudara-saudara Yusuf meminta kepada ayahnya agar memintakan ampunan untuk mereka kepada Allah, maka Nabi Ya’qub menjanjikan akan memintakan ampunan untuk mereka nanti di waktu sahur, karena waktu tersebut lebih mustajab.

Selanjutnya Ya’qub beserta anak-anaknya (Bani Israil) pergi meninggalkan Palestina menuju Mesir, dan saat mereka masuk ke negeri Mesir, maka mereka disambut dengan sambutan yang besar. Yusuf juga memuliakan kedua orang tuanya dan menempatkannya di kursinya. Ketika itu, Ya’qub dan istrinya beserta sebelas anaknya tidak sanggup menahan dirinya untuk sujud sebagai penghormatan kepada Yusuf, dan ingatlah Yusuf akan mimpinya terdahulu ketika ia masih kecil; dan bahwa matahari dan bulan adalah ibu dan bapaknya, sedangkan sebelas bintang adalah saudara-saudaranya. Yusuf berkata, “Wahai ayahku Inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf: 100)

Ketika Nabi Yusuf memegang pemerintahan Mesir, maka Yusuf menggunakan kesempatan itu untuk mengajak rakyatnya menyembah Allah dan setelah selesai urusannya dan ia merasa bahwa hidupnya tidak lama, ia pun berkata sambil mengakui nikmat Allah, menyukurinya dan berdoa agar tetap di atas Islam sampai akhir hayat, Yusuf berkata, ” Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101)

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang orang yang paling mulia? Beliau menjawab, “Yaitu orang yang paling bertakwa.” Maka para sahabat berkata, “Bukan ini maksud pertanyaan kami?” Beliau pun bersabda, “Yaitu Yusuf seorang Nabi Allah putera Nabi Allah putera Nabi Allah putera kekasih Allah.”

Kisah Nabi Yusuf ini secara panjang lebar disebutkan Allah dalam surah Yusuf.

Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Oleh: Marwan bin Musa

Maraaji’:
Al Qur’anul Karim
Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Abu Yahya Marwan)
Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
Shahih Qashashil Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy)
dll.

Baca artikel sebelumnya;

Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam (bagian – 01)
Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam (bagian – 02)
Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam (bagian – 03)
 
Oleh: Marwan bin Musa  
http://kisahmuslim.com
 

Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam (bagian – 3)

Raja Bermimpi
Pada suatu hari raja tidur dan bermimpi melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus, dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering, maka raja pun segera bangun dari tidurnya dalam keadaan terkejut, ia pun segera mengumpulkan para pemukanya dan menceritakan mimpinya itu serta meminta mereka menakwil mimpi itu, tetapi mereka semua tidak sanggup. Mereka juga berusaha memalingkan raja dari mimpi itu agar tidak dibuat cemas olehnya sambil berkata, “Itu adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu mentakwikan mimpi itu.” (QS. Yusuf: 44)

Meskipun demikian, raja tetap gelisah atas mimpinya itu dan terus berusaha mengetahui maksud mimpinya, hingga akhirnya tukang pemberi minum raja ingat dengan Nabi Yusuf dan meminta raja masuk ke dalam penjara untuk menemui Yusuf. Ketika itulah ia meminta Nabi Yusuf menakwil mimpi raja itu, maka Yusuf menakwilnya, bahwa sapi yang gemuk dan tujuh bulir itu adalah tujuh tahun dimana pada tahun itu penuh dengan kebaikan dan keberkahan.

Nabi yusuf ‘alaihissalam tidak hanya menakwilkan mimpi, tetapi menawarkan cara terbaik bagi mereka dalam mengatasinya, yaitu mereka harus menyimpan hasil tanaman mereka untuk menghadapi tahun-tahun kemarau dengan cara membiarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk dimakan sampai Allah akan membukakan kelapangan.

Ketika tukang pemberi minum raja telah mengetahui takwilnya, maka ia segera kembali ke raja dan memberitakan apa yang dikatakan Yusuf kepadanya, maka raja pun bergembira sekali, lalu raja bertanya tentang orang yang menakwil mimpinya itu, maka tukang pemberi minum raja memberitahukannya, yaitu Yusuf. Mendengar jawabannya, maka raja segera meminta Yusuf dibawa ke hadapannya. Lalu utusan raja segera menemui Yusuf dan menyuruh Yusuf mengikuti ajakan raja untuk menemuinya, tetapi Yusuf menolak menemuinya sampai jelas kebersihan dirinya dan bahwa dirinya tidak bersalah, agar raja mengetahui tentang apa yang terjadi pada kaum wanita di kota itu.
Keluarnya Yusuf dari Penjara dan Menjadi Pejabat Mesir

Maka raja pun mengirim utusan untuk menemui istri al-’Aziz dan wanita-wanita lainnya serta bertanya kepada mereka tentang masalah Yusuf, mereka pun mengakui kesalahan mereka serta menyatakan tobatnya, mereka berkata, “Mahasuci Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.”

Istri al-’Aziz juga menjelaskan kebersihan Yusuf di hadapan manusia.
Yusuf Bertemu Saudara-saudaranya

Ketika itulah, raja mengeluarkan ketetapan bersihnya Yusuf dari tuduhan yang ditujukan kepadanya dan memerintahkan agar Yusuf dikeluarkan dari penjara, ia juga memuliakan Yusuf dan mendekatkan dirinya kepadanya, lalu raja memberikan pilihan kepadanya untuk memilih jabatan yang ia mau, maka Yusuf berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri Mesir. Sesungguhnya aku orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)

Raja pun setuju terhadap permintaan Yusuf itu karena amanah dan ilmunya.

Selanjutnya, apa yang dimimpikan raja pun terwujud satu persatu, Di tengah-tengah pembagian bahan makanan pokok yang dilakukan Yusuf kepada rakyat tiba-tiba Yusuf bertemu dengan orang-orang yang ia kenali, baik bahasanya, fisiknya, dan nama-namanya. Orang-orang ini datang secara tiba-tiba tanpa disadari sebelumnya, dan ternyata mereka adalah saudara-saudaranya; anak-anak ayahnya; Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Yusuf mengenali mereka, namun mereka tidak mengenalnya lagi. Merekalah yang dahulu melempar Yusuf ke dalam sumur ketika ia masih kecil, namun sekarang mereka datang karena butuh bahan makanan. Yusuf pun berbuat baik kepada mereka, dan mereka juga bermuamalah secara baik kepadanya. Selanjutnya Yusuf menanyakan keadaan mereka dan jumlah mereka, lalu mereka memberitahukan bahwa jumlah mereka ada dua belas orang, seorang dari mereka pergi dan masih ada saudara kandungnya yang sedang bersama ayahnya karena ayahnya mencintainya dan berat melepasnya.

Setelah Yusuf menyiapkan bahan makanan untuk mereka, dimana masing-masing mereka memperoleh seukuran beban unta, maka Yusuf berkata, “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik? Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat takaran lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku.” (QS. Yusuf: 59-60)

Saudara-saudara Yusuf berkata, “Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (kemari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya.”

Lalu Yusuf memerintahkan para pelayannya untuk memasukkan barang-barang (penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka, agar mereka mengetahuinya ketika mereka telah kembali kepada keluarganya, yakni agar mereka mengembalikan barang-barang itu ke Mesir atau karena Yusuf khawatir nanti mereka tidak mendapatkan sesuatu untuk menukar lagi. Yang demikian dilakukan Yusuf agar mereka bersedia kembali lagi kepadanya.

Kemudian saudara-saudara Yusuf pulang menemui ayah mereka sambil berkata, “Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat takaran (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami agar kami mendapat takaran, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.”

Tetapi Nabi Ya’qub menolaknya, kemudian saudara-saudara Yusuf pergi mendatangi barang mereka untuk mengeluarkan isi barang bawaan mereka, tetapi mereka dikejutkan dengan adanya barang mereka yang lama yang mereka jadikan sebagai alat tukar, maka mereka memberitahukan kepada ayah mereka bahwa barang bawaan mereka dikembalikan, dan mereka pun segera mendesak ayah mereka dengan menyebutkan maslahatnya bagi keluarga mereka ketika memperoleh makanan. Mereka juga menguatkan azamnya untuk menjaga saudara mereka, Bunyamin. Mereka juga mendorong ayah mereka dengan sungguh-sungguh agar takaran bagi saudara mereka bertambah, karena Yusuf memberikan untuk setiap orangnya seukuran beban unta.

Maka ayah mereka berkata, “Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh.”
Saudara-saudara Yusuf Kembali ke Mesir

Setelah mereka memberikan janji mereka, Maka Ya’qub berkata, “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini).”

Nabi Ya’qub juga berpesan kepada mereka dengan berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan; meskipun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri.”

Maka berangkatlah saudara-saudara Yusuf ke Mesir dan masuk ke pintu gerbangnya mengikuti saran ayah mereka agar mereka tidak tertimpa ‘ain (penyakit dari mata) karena penampilan mereka yang rupawan atau agar mereka mendapat berita tentang Yusuf. Selanjutnya, ketika mereka telah berada di depan Yusuf, maka Yusuf mengajak saudaranya yang paling kecil itu (Bunyamin), mendekatkannya dan berbincang-bincang secara berduaan dengannya, dan memberitahukan bahwa dirinya adalah Yusuf; saudaranya.
Siasat Yusuf agar Saudara Kandungnya Tetap Bersamanya

Selanjutnya disiapkanlah perbekalan untuk saudara-saudara Yusuf agar mereka pulang dengan membawanya, tiba-tiba Yusuf ingin saudaranya tetap bersamanya, maka Yusuf menyuruh para pelayannya untuk meletakkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. kemudian berteriaklah seseorang sambil menyerukan, “Wahai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri.”

Kemudian saudara-saudara Yusuf pun segera menanyakan sesuatu yang hilang itu, lalu orang yang berseru itu memberitahukan, bahwa piala raja hilang dan raja telah menjanjikan untuk memberikan upah berupa bahan makanan (seberat) beban unta. Tetapi saudara-saudara Yusuf tidak menerima tuduhan itu sehingga muncul dialog yang dalam dengan Yusuf, mereka bukan sebagai pencuri dan mereka pun mau bersumpah untuk hal itu, lalu para penjaga berkata, “Apa balasannya jika kamu dusta?”

Mereka menjawab, “Balasannya ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya).”

Menurut syariat Nabi Ya’qub ‘alaihissalam, bahwa barang siapa mencuri maka hukumannya ialah si pencuri dijadikan budak satu tahun bagi orang yang dicuri.

Oleh karena Yusuf mengetahui, bahwa yang hukuman tersebut adalah hukuman yang berlaku pada syariat Bani Israil, maka ia menerima hukuman itu, tidak mengikuti hukuman yang diberlakukan di Mesir, dan saudara-saudaranya pun setuju terhadap hukuman itu, maka Yusuf memerintahkan para pengawalnya untuk memeriksa karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian mereka menemukan piala raja itu dari karung saudaranya.

Mereka (saudara-saudara Yusuf) pun berkata, “Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya), “Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu terangkan itu”. (QS. Yusuf: 77)

Maka saudara-saudaranya pun ingat akan janji mereka kepada ayah mereka, yaitu akan mengembalikan saudara mereka yang paling kecil ini “Bunyamin” kepada ayah mereka. Mereka pun berkata kepada Yusuf, “Wahai al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya. Oleh karena itu, ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik.”

Yusuf berkata, “Aku mohon perlindungan kepada Allah dari menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka kami benar-benar sebagai orang-orang yang zalim.” (QS. Yusuf: 78-79).

Maka ketika mereka berputus asa dari pada keputusan Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. berkatalah yang tertua di antara mereka, “Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya. Kembalilah kepada ayahmu dan Katakanlah, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan kami sekali-kali tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Selanjutnya, jika ayah ragu-ragu, katakan kepadanya, “Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar“. (QS. Yusuf: 80-82).

Ayah mereka (Nabi Ya’qub) menjawab, “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Bersambung…



Maraaji’:
Al Qur’anul Karim
Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Abu Yahya Marwan)
Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
Shahih Qashashil Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy)
dll.

Baca artikel sebelumnya;
Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam (bagian – 01)
Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam (bagian – 02)
 
Oleh: Marwan bin Musa  
http://kisahmuslim.com

Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam (bagian – 2)

Istri Al Aziz Menggoda Yusuf

Waktu pun berlalu dan Yusuf semakin dewasa, ia tumbuh sebagai pemuda yang kuat dan sangat tampan. Istri Al ‘Aziz selalu memperhatikan Yusuf setiap harinya dan tertarik kepadanya, mulailah ia menampakkan rasa sukanya melalui isyarat dan sindiran, tetapi Yusuf berpaling darinya dan tidak peduli terhadapnya, maka mulailah wanita ini berpikir bagaimana caranya agar dapat merayu Yusuf.

Suatu hari, ketika suaminya pergi meninggalkan istana, istrinya memanfaatkan kesempatan itu, ia berhias dan memakai pakaian yang indah, mengunci pintu rumahnya dan mengajak Yusuf untuk masuk ke kamarnya serta memintanya melakukan perbuatan keji dengannya.

Akan tetapi Nabi Yusuf ‘alaihissalam dengan sifat ‘iffah (menjaga diri) dan sucinya menolak ajakannya, ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)

Lalu Yusuf segera pergi menuju pintu untuk keluar dari tempat itu, namun istri Al ‘Aziz tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera menarik Yusuf dari belakang untuk menghalanginya keluar dan menahan gamisnya hingga robek. Tiba-tiba, suaminya yaitu Al Aziz (mentri Mesir) pulang, suasana pun semakin kritis, istri Al ‘Aziz segera meloloskan diri dari keadaan kritis itu di hadapan suaminya dan menuduh Yusuf sebagai orang yang khianat serta berupaya menzaliminya, ia pun berkata kepada suaminya, “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (QS. Yusuf: 25)

Terhadap tuduhan itu Nabi Yusuf segera membela diri dan berkata, “Dialah yang merayu diriku.”
Maka suaminya meminta penyelesaian kepada salah seorang keluarganya, lalu aggota keluarga itu berkata tanpa ragu, “Lihatlah! Jika baju gamisnya koyak di depan, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.– Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita Itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf: 26-27)

Lalu suaminya menoleh kepada istrinya, dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 28)

Selanjutnya Al ‘Aziz meminta Yusuf untuk membiarkan masalah ini dan tidak membicarakannya di depan seorang pun, lalu suaminya meminta istrinya meminta ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahannya.

Penduduk Mesir meskipun mereka menyembah patung, namun mereka tahu bahwa yang dapat mengampuni dan menyiksa hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya Al ‘Aziz menyuruh istrinya meminta 
ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berkumpulnya Wanita-wanita Mesir Atas Undangan Istri Al ‘Aziz
Semua pihak pun sepakat untuk menyembunyikan masalah ini, namun demikian ternyata berita merayunya istri Al ‘Aziz kepada Yusuf telah tersebar di istana, dan wanita-wanita kota itu pun telah membicarakannya, yakni bahwa istri Al ‘Aziz menggoda pelayannya, yaitu Yusuf.

Istri Al ‘Aziz pun mengetahui keadaan itu hingga ia marah dan ingin menunjukkan alasan terhadap tindakannya itu kepada kaum wanita yang membicarakan dirinya, dan bahwa ketampanan Yusuf itulah yang membuat dirinya melakukan hal itu.

Maka istri Al ‘Aziz mengundang kaum wanita kepadanya dan ia telah mempersiapan untuk mereka tempat yang istimewa, ia juga telah memberikan masing-masing mereka sebilah pisau beserta buahnya, lalu istri Al ‘Aziz menyuruh Yusuf keluar.

Yusuf pun keluar menuruti perintah majikannya, maka ketika kaum wanita melihatnya, mereka semua terpesona dengan ketampanannya dan tanpa sadar mereka melukai tangan mereka dengan pisau, sampai-sampai mereka semua mengira bahwa Yusuf adalah seorang malaikat. Istri Al ‘Aziz pun berkata, “Itulah orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Yusuf: 32)

Yusuf Memilih di Dalam Penjara
Maka kaum wanita pun menerima alasan istri Al ‘Aziz, dan ketika Yusuf melihat keadaan seperti itu, ia berdoa, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)

Hampir saja terjadi fitnah di Madinah karena rasa cinta kaum wanita kepada Yusuf, maka pihak berwenang memandang bahwa Yusuf perlu dipenjarakan sampai waktu tertentu.

Mereka pun memenjarakan Yusuf dan tinggallah Yusuf di penjara selama beberapa waktu, dan ternyata ada pula dua orang yang masuk penjara bersamanya, yang satu sebagai tukang roti, sedangkan yang satu lagi tukang pemberi minum raja. Keduanya melihat akhlak Nabi Yusuf yang begitu mulia dan ibadah yang dilakukannya yang mengagumkan sehingga keduanya mendatangi Yusuf dan menceritakan mimpi keduanya kepada Yusuf sebagaimana yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya, “Berkatalah salah seorang di antara keduanya, “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur.” Dan yang lainnya berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.” berikanlah kepada kami takwinya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menakwilkan mimpi).” (QS. QS. Yusuf: 36)

Maka Nabi Yusuf menakwil mimpi keduanya, namun sebelumnya Nabi Yusuf mengajak mereka beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Selanjutnya, Ia menakwil mimpi mereka berdua, bahwa di antara mereka berdua ada yang akan keluar dari penjara dan kembali bekerja seperti semula memberi minum kepada raja, sedangkan yang satu lagi akan disalib dan burung akan memakan kepalanya.

Sebelum pemberi minum dikeluarkan dari penjara, Nabi Yusuf meminta kepadanya agar menyampaikan masalah dirinya kepada raja bahwa dia tidaklah bersalah dan bahwa dia dipenjara secara zalim agar Ia dimaafkan dan dikeluarkan dari penjara, tetapi setan membuat tukang pemberi minum raja ini lupa tidak menyebutkan masalah Yusuf kepada raja sehingga Yusuf tetap tinggal di penjara beberapa tahun lamanya. Maka berlalulah waktu dan terjadilah apa yang ditakwikan Yusuf itu terhadap keduanya.

Baca artikel sebelumnya;
Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam (bagian – 1)



Maraaji’:
Al Qur’anul Karim
Hidayatul Insan bitafsiril Qur’an (Abu Yahya Marwan)
Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
Shahih Qashashil Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy)
dll.

Oleh: Marwan bin Musa  

Artikel www.KisahMuslim.com

Ibadah

Ilmiah

Akhlaq

 
© Copyright Blog Arulli Munadiyan 2013 | Template Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates.