Radio Rodja 756AM

News Updates :

Biography

Ceramah

Siyar

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Perkara Yang Mencegah Datangnya Hidayah

Sabtu, 25 Mei 2013

Tidak Punya Kesiapan Menerima Hidayah.
Sesungguhnya hal ini telah saya sebutkan, yaitu bahwa hati orang yang bersangkutan tidak punya kesiapan untuk menerima hidayah, tidak punya kemauan untuk itu, tidak menyukainya, tidak mencarinya, dan tidak pula menginginkannya dengan keinginan yang keras.

Sesungguhnya sebagian orang ada yang tidak memperhatikan apakah dirinya beroleh petunjuk ataukah sesat. Dia pun tidak punya perhatian untuk menimba ilmu atau meraih faidah yang berguna. Dia sama sekali tidak perhatian untuk menuntut ilmu agama atau tidak menuntutnya.

Akan tetapi, seandainya keluarganya tidak punya roti (beras), tentulah problem ini lebih penting baginya daripada mengetahui makna surat al Fatihah atau hal-hal yang dpat menunjukinya kepada masalah-masalah agamanya yang bersfiat fardhu 'ain atau sunnah Nabi Shallahu alahi wasslam dalam shalatnya.

Orang seperti ini tidak punya kesiapan untuk menerima hidayah dan tidak pula memperhatikannya. Sehubungan dengan hal ini Allah Ta'ala telah berfirman:

"Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu." (QS. al-Anfal [8] : 23)

Dalam kitab Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah Shallahu alaihi wassalam bersabda, "Perumpaan hidayah dan ilmu yang diperintahkan oleh Allah kepadaku untuk menyampaikannya sama dengan hujan yang menimpa bumi".

Selanjutnya, Rasululllah Shallahlu alaihi wassalam membagi-bagi bumi ini ke dalam beberapa bagian sesuai dengan kondisinya. "Maka sebagian di antara bumi ini ada yang subur", dalam teks lain disebutkan "baik, mau menerima air sehingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan rumput yang banyak".

Ini adalah perumpaan orang-orang yagn mau menerima hidayah, kemudian menyebarkannya kepada orang lain.

"Sebagiannya ada yang dapat menahah air, maka Allah menjadikannya berguna bagi manusia, sehingga mereka dapat beroleh minuman dan bercocok tanam".

Ini adalah perumpamaan orang-orang yang mau menimba ilmu, tetapi tidak mengajarkannya kepada orang lain. Golongan ini relatif baik, tetapi tidak seperti golongan yang pertama.

"Dan sebagian yang lainnya ada kawasan yang tiada lain hanyalah ketandusan belaka, tidak dapat menahan air tidak dapat menumbuhkan tetumbuhan".

Ini adalah perumpaan tentang orang-orang yang telah berpaling dari hidayah. Selanjutnya, Rasulullah saw. bersabda, "Seperti itulah perumpaan orang yang beroleh manfaat dari ilmu yang diperintahkan Allah kepadaku untuk menyampaikannya, kemudian menjadi orang yagn berilmu, lalu mengajarkannya (kepada orang lain), dan perumpamaan orang yang tidak mau memperhatikan hal tersebut serta tiak pula mau menerima hidayah Allah yang disampaikan olehku".

Orang Yang Lalai Itu Ada Dua Macam:
Pertama, sebagian dari mereka terdiri dari golongan yang fasiq lgi bobrok tak ubahnya seperti hewan atau kedudukannya sama seperti hewan ternak. Semoga Allah melindungi kit adari hal i tu. Kepentingannya hanyalah hawa nafsunya. Dia tidak mengenal, baik Al-Qur'an maupun Sunnah. Adakalanya dia menjalani siang dan malam harinya tanpa mengetahui hendak ke manakah dia pergi dan apakah yang ada dihadapnnya?

Kedua, golongan yang lainnya adalah golongan yang lalai lagi kurang akalnya. Mereka banyak di dapati di daerah pedalaman da tempat-tempat yang tidak mendapat penerangan dari cahaya Islam dan tidak pula pernah tersentuh oleh dakwahnya. Untuk itu sudah menjadi kewajiban bagi para ulama, para mahasiswa, da para da'i untuk pergi ke sana guna mengajari mereka agama Islam, karena sesungguhnya mereka, tidak diragukan lagi, mempunyai tanggung jawab untuk mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan dakwha kepada orang-orang itu.

Berteman dan Bergaul Dengan Orang-Orang Yang Jahat.
Salah seorang yang shalih mengatakan: "Jauhilah oleh kalian teman yang buruk dan tiada yang membahayakan Abu Thalib selain teman-teman sekedudukannya, karna sesungguhnya tatkala ditawarkan kepadanya kalimah laa ilaaha illallooh, lalu dia hendak mengucapkannya, maka teman-teman sekedudukannya berkata kepadanya: "Jangan kau ucapkan kalimat itu!" Ali Ra pernah berkata: "Berbekallah kalian dari teman-teman sekedudukan yang baik, karena sesungguhnya mereka adalah penolong di dunia dan di akhirat".

Mereka bertanya, "Wahai Abul Hasan (Ali Ra), kalau menjadi penolong di dunia kami mengerti, tetapi bagaimana dengan menjadi penolong di akhirat?"

Ali menjawab, "Tidakkah kalian mendengar firman Allah Ta'ala yang menyebutkan:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa". (QS. Az-Zukhruf [43] : 67)

Semoga Allah selalu melindungi kita dari teman-teman yang jahat, karena sesungguhnya Rasulullah Shallahu alaihi wasslam, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shahihain menyebut mereka seperti peniup perapaian pande besi. Rasulullah Shallahu alaihi wassla pernah besabda, "Seseorang itu akan dihimpunkan bersama dengan orang yang disukainya".

Dalam hadist lain Beliau Shallahu alaihi was salam pernah bersabda pula, "Seseorang itu dinilai berdasarkan tuntunan teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang diantara kalian memperhatikan sispa yagn akan dijadikan teman dekatnya". (HR. Abu Dawud dan Tirmizi)

Oleh karena itu, Imam Syafi'i rahimahumullah mengatakan dengan rendah diri dalam bait-bait syairnya:

"Aku menyukai orang-orang shalih,
meskipun diriku bukan termasuk di antara mereka,
mudah-mudahan aku beroleh syafa'at dari mereka,
Dan aku benci,
terhadap orang-orang yang kerjanya hanya maksiat,
meskipun kita mempunyai pekerjaaan yang sama.
Semoga Allah melindungi kita dari teman-teman yang buruk,
yaitu orang-orang yang tidak membantu untuk berdzikir."

Penyakit syubhat adalah penyakit keraguan. Penyakit ini sulit disembuhkan. Allah Ta'ala berfirman,

بَلِ ادَّارَكَ عِلْمُهُمْ فِي الْآخِرَةِ ۚ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِّنْهَا ۖ بَلْ هُم مِّنْهَا عَمُونَ

"Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana), malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta darinya". (QS. An-Naml [27] : 66).

Kemudian, penyakit syahwat dapat menjerumuskan farji dan lisan kebanyakan kaum muslimin, terkecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah, kedalam perbuatan fahisyah (zina), dan menggelincirkan telapak kakinya ke dalam kenistaan yang membuat Tuhan murka, karena kemaksiatan da hal-hal yang diharamkan-Nya. Penyakit ini sulit disembuhkan, meskipun lebih ringan daripada penghalang sebelumnya, karena penyakit ini menyebar melalui kemaksiatan dan dosa-dosa besar.

Penawa kedua penyakit ini dengan mempertebal keyakinan, mempertajam padangan hati, dan memperbanyak pengetahuan agama Islam. Sementara penawar penyakit syahwat, bersikap sabar dengan semua ketentuan dan hukum Allah. Wallahu'alam. 
Selasa, 12 Rajab 1432/14 Juni 2011
oleh DR. Abdullah  'Aidh Al-Qarni 

Pergilah Ke Negeri Yang Kekal

"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan, dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal". (QS : Al-Imran : 133-136)

Rasulullah shallahu alaihi wassalam dahulu seringkali berbicara tentang surga. Yang beliau maksud adalah keridhaan Allah.Sebagian orang pernah meminta kekuasaan kepada beliau. Beliau bersabda, "Surga".

Orang-orang pun bertanya, "Apa yang anda ingin kami lakukan?".
"Kalian jual diri kepada Allah", jawab beliau.
"Lalu apa yang akan kami dapat?", tanya mereka.
"Surga", jawab beliau.
Mereka berkata, "Kalau begitu, transaksi ini sangat menguntungkan.Kami tak akan membatalkanya".

Rasulullah shallahu alaihi wassalam tidak menjanjikan kepada mereka istana, emas, perak, atau kedudukan, tetapi semata-mata surga.

Mereka ditempa matahari,lapar, dan dahaga. Tubuh mereka cacad, karena luka-luka. Mereka sakit, cerai-berai, diusir, dan dipenjara.

Tetapi, mereka tidak menghendaki apa-apa selain Allah, kemudian surga.

Abdullah bin Hudzaifah, ketika menjadi tawanan, dibawa menghadap Raja Persia. Sang Raja berkata kepadanya, "Hai Abdullah bin Hudzaifah, apakah kamu bersedia keluar dari agama Muhammad dengan imbalan keberi separuh kerajaanku?"

Abdullah bin Hudzaifah menjawab, "Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sekedip matapun aku tidak akan mundur dari agama Muhammad, walaupun engkau memberiku seluruh kerajaanmu dan kerajaan bapak dan kakekmu!", ujarnya.

Rasulullah shallahu alaihi wassalam mengajar para shahabat beliau bahwa dunia ini berumur pendek, enam puluh tahun, tujuh puluh tahun. Betapapun laparnya seseorang, betapapun dahaganya, betapapun ia tidur diatas tikar kasar, dan betapa berat kesulitan yang ia hadapi, tapi dia beramal demi surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda ketika sedang duduk bersama para shahabat di tempat kediaman Amir, "Tadi malam aku masuk surga dan aku mendengar suara terompah Bilal". Lalu Rasulullah shallahu alaihi wassalam, bertanya kepada Bilal, "Bilal, apa yang dahulu kami lakukan, sehingga kamu masuk surga?". Bilal menjawab, "Rasulullah, saya tidak banyak berpuasa, shalat, atau sedekah. Hanya saja setiap kali berwudhu, saya pasti shalat dua rakaat setelahnya", jawabnya.

Suatu hari Rasulullah shallahu alaihi wassalam, menyeru para shahabat dari atas mimbar :

"Adakah yang menggiatkan diri menuju surga? Sesungguhnya surga itu, demi Allah yang menggenggam jiwaku, adalah yang megah, cahaya yang gemerlap, sungai yang bergelombang. Adakah yang menggiatkan diri menuru surga?".

Para shahabat menyahut, "Kami, wahai Rasulullah".

"Ucapkan, 'Insya Allah", pesan beliau.

Para shahabat berangkat menuju perang Uhud ... dalam keadaan perut lapar, kerongkongan haus, rumah berbuat dari tanah. Mereka patahkan sarung pedang dengna lutut, karena mereka menghendaki surga. Sewaktu berhadapan dengan kaum kafir, sebagian dari mereka melarikan diri. Tapi Anas ibnun Nadhr terus bertempur. Sa'ad bin Mu'adz bertanya, "Kemana kamu hendak pergi, Anas?"

Ia menjawab, "Menjauhlah dariku, Sa'ad! Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sungguh aku mencium bau surga merebak dari kaki Gunung Uhud!".

Kaum Muslimin berbaris dalam perang Badr. Rasulullah shallahu alaihi wassalam lalu tampil dengan baju besinya, dan bersaba :

"Hai pasukan Badr, demi Allah, sungguh dia telah memperindah surga untuk kalian. Jarak antara kalian dan surga tidak lebih dari sekadar kalian terbunuh oleh mereka. Dengan begitu kamu akan masuk surga".

Rasulullah shallahu alaihi wassalam menyerukan jihad. Hanzhalah yang sedang menikmati malam pertama pengantin dan belum mandi junub, ikut berangkat. Ia sandang pedangnya dan bertmpur sampai syahid terbunuh.

Rasulullah shallahu alaihi wassalam menatap ke arah langit, tapi kemudian beliau palingkan lagi wajahnya. "Coba tanya keluarga Hanzhalah, apa yang telah dilakukannya!", pinta beliau.

Para shahabat pun menanyai mereka. Mereka mengantarkan bahwa dia berangkat perang dalam keadaan junub. Kemudian Rasulullah shallahu alaihi wassalam memberitahu mereka bahwa para malaikat telah memandikannya. Selamat buat dia!"

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengn memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga mereka membunuh atau dibunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung". (QS : At-Taubah : 111).

Yang paling kita takutkan adalah kalau kita tunduk kepada dunia, puas dengan istana dunia, dengan villa dunia, dan meninggalkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Lebih dari itu, di sana pun tidak ada penyakit, tidak ada kegilisahan, kecemasan, maupun kesedihan. Mereka juga tidak kecing, membuang kotoran, dan tidak sedih. Hati mereka satu, bersidh dair iri, dengki, dan dendam.

Rasulullah shallahu alaihi wassalam, bersabda :

"Aku masuk surga dan melihat sebuah istana putih. Aku bertanya, "Milik siapa istana ini? Mereka menjawab, 'Miliki Umar ibn Khaththab. Aku ingin masuk, tetapi teringat kecemburuan Umar". Mendengar itu, Umar menangis. Katanya, "Apakah saya akan cemburu kepadamu, wahai Rasulullah?".

Seolah-olah dia berkata, "Engkaulah yang memberi hidayah kepadaku, sehigga aku masuk Islam. Engkau yang mengenalkan aku kepada Allah. Engkau pula yang memasukkan aku ke surga dengan izin Allah. Mana mungkin aku cemburu kepadamu, wahai Rasulullah?"

Kemudian Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda :

"Siapa yang bersedia membunuh Khalid bin Sufyan, salah seorang penjahat, dan aku jamin masuk surga?"

Abdullah bin Unais, seorang pemueda berusia tiga puluh tahun, spontan menjawab, "Apakah anda jamin saya masuk surga, wahai Rasulullah?".

Beliau menegaskan, "Aku jamin masuk surga".

Tidak lama setelah itu, Abdullah bin Unais, membunuhnya dan membawa kepalanya kepada beliau. Katanya, "Rasulullah,berilah saya sesuatu yang menjadi tanda bahwa saya meruakan salah satu penghuni surga".

Rasulullah shallahu alaihi wassalam, bersabda :

"Ambillah tongkat ini sebagai tanda (perjanjian0 antara aku dan kami sewaktu kita bertemu Allah di hari Kiamat di mana kamu bertelekan padanya. Orang yang bertelekan pada tongkat di surga jumlahnya sedikit".

Abdullah pun mengambil tongkat itu dengan penuh keyakinan. Karena itu, dia selalu membawanya, saat tidur mapun bangun. Bahkan saat matipun tongkat itu dikubur bersamanya. Dia akan membawanya bertemu Rasulullah shallahu alaihi wassalam di hari Kiamat, dan akan bertelekan padanya di dalam surga.

Seorang pria Badui menghadap Nabi shallahu alaihi wassalam, lalu menyatkan beriman dan mengikuti beliau. Dalam peperangan Nabi shallalahu alaihi wassalam berhasil mendapatkan tawanan wanita. Beliau membagikannya kepada para pasukan, termasuk kepada orang Badui tadi.

Tetapi orang itu berkata : "Bukan untuk ini saya mengikut anda".

Rasulullah shallahu alaihi wassalam, bersabda, "Kalau kamu jujur, pasti Allah akan membalas kejujuranmu".

Kemudian, Allah memberinya apa yang ia angan-angankan. Ia terbunuh dalam pertempuran dan manjadi salah seorang syuhada. Wallalu'alam.

Jumat, 21/10/2011 18:01 WIB | Arsip | Cetak
oleh DR. Abdullah 'Aid Al-Qarni

Menghadapi Detik-Detik Terakhir Kehidupan

Bersiap-siaplah menghadapi detik-detik kematan, yang pasti tiba. Setiap kita pasti mati. Setiap kita pasti akan mengalami sekarat. Kita pasti akan menemui kematian itu. Semua orang – baik raja maupun hamba sahaya, atasan maupun bawahan, kaya ataupun miskin – telah merasakannya. Semua bangsa telah merasakan pendihnya kematian.

Amr Ibn Ash, yang dijuluki ‘Urthubun’ (orang yang amat cerdik) karena begitu cerdiknya, tengah mengalami sekarat. Ia tidak bisa menghindar dari kematian. Kematian melumpuhkan daya orang-orang yang amat cerdik, menguras habis tenaga orang-orang kuat, meluluhlantakkan bangunan si kaya.

Saat sakaratul maut menjelang sang tokoh itu, anaknya, Abdullah, yang ahli zuhud dan ahli ibadah, berbisik kepadanya, “Ayah, gambarkanlah kematian itu kepadaku. Tentu ayah orang yang paling jujur dalam menggambarkannya”, ujar Abdullah.

“Anakku “, ucap Amr ibn Ash. “Demi Allah, rasanya gunung-gunung seperti diimpitkan ke atas dadaku. Aku seakan bernapas melalui lubang jarum”, jawab Amr ibn Ash.

Ibnu Rajab menyebutkan bahwa Umar ra, pernah berkata kepada Ka’ab al-Ahbar, “Coba beri aku gambaran tentang kematian”, ujarnya. “Amirul Mukminin, perumpaan kematian itu tidak lain seperti orang yang dipukul dengan ranting kayu bidara atau kayu thalh (pohon akasia) yang berduri. Kematian ranting tersebut ditarik, bersamaan dengan itu setiap pembuluh darah dibadan pun ikut tertarik”, tambahnya.

Allah Ta’ala berfirman :
فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ ﴿٨٣﴾

وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ ﴿٨٤﴾

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لَّا تُبْصِرُونَ ﴿٨٥﴾

فَلَوْلَا إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ ﴿٨٦﴾

تَرْجِعُونَهَا إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ ﴿٨٧﴾

“Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai dikerongkongan, dan kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu memang tidak dikuasasi (oleh Allah), kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu) jika kamu orang yang benar”. (QS : Al-Waqi’ah : 83-87)

Kemudian, Allah Ta'ala :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴿٢٧﴾

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal”. (QS : Ar-Rahman : 26-27)

Hasan al-Basri menasihati anak-anak dan murid-muridnya, “Kematian mengeruhkan kehidupan dunia, sehingga tidak menyisakan secuilpun kegembiraan pada mereka yang punya hati”, cetusnya. “Para pembesuk datang menjenguk orang yang sakit, tetapi mati itu dialami oleh orang yang membesuk dan yang dibesuk”, tambahnya.

Kisah riwayat hidup Ar-Rabi’ bin Khaitsam, ahli zuhud dan ahli ibadah, dikisahkan bahwa suatu kali ia jatuh sakit, lalu orang-orang bertanya, “Tidakkah perlu kami panggil dokter?”, tanyanya. Khaitsam menjawab, “Awalnya saya sudah berpikir untuk memanggil seorang dokter, tetapi dokter dan pasiennya sama-sama akan mati”, ucapnya.

Dari Abu Bakar Ash-Siddiq ra, yang shahih dituturkan bahwa ketika ia sedang sekarat, orang-orang berkumpul di dekatnya. “Wahai Khalifah Rasulullah, tidakkah perlu kami penggilkan seroan tabib?”, tanya mereka. “Sudah. Sudah ada tabib yang datang melihat kondisiku”, jawabnya. “Lalu apa katanya”, tanya mereka. Katanya, “Aku berbuat sekehendak-Ku”, jawab Khalifah.

Kemudian,di dalam kitab Washaayal-Ulama Indal-Maut (Wasiat Para Ulama Menjelang Kematian), disebutkan sebuah riwayat dari Abu Darda’ra, saat ia berjuang menghadapi sakaratul maut, “Adakah orang yang beramal untuk persiapan menghadapi kematian yang amat berat ini? Adakah oran gyang beramal untuk persiapan menghadapi sakitnya kematian? Adakah orang yang beramal untuk persiapan di kala ia terbaring tidak berdaya di atas pembaringan seperti ini?”

وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ ﴿٢٨١﴾

“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan)”. (QS : Al-Baqarah : 281)

Sungguh kebanyakan, manusia terlena dan mabuk, mereka tidak menyadari tentang akan datangnya kematian, yang pasti menghampiri mereka. Di mana mereka tidak dapat lagi dari kematian yang akan merenggut nyawanya. Tidak ada satupun manusia yang dapat lari dari kematian yang akan tiba itu.

Fiman-Nya :

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً حَتَّىَ إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ ﴿٦١﴾
ثُمَّ رُدُّواْ إِلَى اللّهِ مَوْلاَهُمُ الْحَقِّ أَلاَ لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ ﴿٦٢﴾

“Dan Dialah penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga kematian datang kepada salah seorang diantara kamu, melaikat-malaikat Kami mencabaut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya. Kemudian mereka (hamba-hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) ada pada-Nya. Dan Dialah pembuat perhitungan yang paling tepat”. (QS : Al-An’am : 61-62)

Pemusnah kenikmatan ad alah mati, yang memisahkan kumpulan, merenggut anak-anak. Kematian datang dengan bencana dan petaka, lalu meninggalkan mereka tergeletak dalam kegelapan. Begitulah kematian. Manusia banyak yang melalaikannya. Mereka seakan tak pernah akan menghadapi kematian. Mereka berpesta dengan kehidupannya. saat menjemut maut/al-qalam.

Jum`at, 16 Jumaadits Tsani 1432/20 Mei 2011
oleh DR. Abdullah 'Aidh Al-Qarni

Jangan Menjadi Peminta-Minta

Ketika bersama dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam dalam suatu peperangan yang terkenal , Muadz ra bercerita, “Aku bersama dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, lalu aku mendekatkan unta kenderaanku kepada unta kenderaannya”. Muad ra berada di dekat Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam.

Ketika rombongan sedang berjalan Muadz ra sedang menyendiri bersama Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam. Dapat dibayangkan, jika seandainya berada dalam kerumuman ribuan pasukan, kemudian anda mempunyai kesempatan untuk menyendiri dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, pembaca risalah, petunjuk, di tengah perjalanan, hanya anda dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam?

Ketika Muadz ra menyendiri bersama dengan Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, Muadz ra bermaksud mengajukan pertanyaan yang besar kepadanya atau mengajukan salah satu pertanyaan yang paling besar dalam sejarah manusia. Adapun ahli dunia pasti akan bertanya atau mengajukan pertanyaan yang paling besar dalam sejarah manusia.

Adapun ahli dunia psti akan bertanya untuk kepentingan dunianya dan ahli kedudukan pasti akan bertanya untuk kepentingan kedudukannya.

Firman Allah Ta’ala :

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ ﴿١٦﴾

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sisa-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS : Hud : 15-16)

Muadz ra mendekat kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam dan demikian pula sebaiknya, dan dalam kesempatan yang sangat berharga ini Muadz ra meminta supaya diangkat menjad amir atau suatu kedudukan atau meminta agar Rasul Shallahu alaihi wa sallam memberinya banyak harta. Akan tetapi, Muadz menolak semaunya itu dan tiada yang ingin ditanyakannya kecuali pertanyaan yang besar untuk kepentingan akhirat.

emikian itu, karena manusia datang kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam sebagian dari mereka ada yang meminta harta, maka Rasul Shallahu alaihi wa sallam, maka Rasul Shallahu alaihi wa sallaml memberinya, ada yang meminta kedudukan, maka Rasul pun memberinya, dan sebagian yang lainnya lagi ada yang meminta keperluan lainnya, maka Rasul pun memberinya pula.

Allah berfirman :

كُلاًّ نُّمِدُّ هَؤُلاء وَهَؤُلاء مِنْ عَطَاء رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاء رَبِّكَ مَحْظُورًا ﴿٢٠﴾

انظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَلَلآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلاً ﴿٢١﴾

“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu dan kemurahan Tuhanmu tidak dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya”. (QS : al-Israa’ : 20-21)

“Ambillah semua dunia kalian dan biarkanlah hatiku bebas merdeka lagi menyendiri. Karena sesungguhnya akau adalah orang yang palng banyak hartamu diantara kamu, meskipun kalian mengiraku sendirian lagi negatif”.

Rasul Shallahu alaihi wa sallam membagi-bagikan ghaniman perang Hunain yang menurut ahli sirah jumlahnya sebanyak 24.000 ekor kambing, 7.000 ekor unta, selain sapi, emas dan perak.

Akan tetapi Abu Bakar, Umar, Muadz, Ubay, Abu Dzar, dan Abu Hurairah, tiada seorangpun dari mereka yang memintanya. Tiada lain yang datang meminta hanyalah orang-orang yang baru masuk Islam. Mereka datang kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam yang meminta bagian darinya. Kalbu mereka masih memerlukan penyempurnaan dalam hal ketauhidan, keimanan, dzikir, dan amal shalih.

Hakim ibn Hizam datang, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, berilah aku. “Beliau menjawab, “Tidakkah engkau lihat kumpulan ternak kambing yang ada diantara kedua bukit itu? Semuanya boleh kamu ambil”, maka Hakim pun mengambilnya.

Pada hari kedua Hakim datang lagi dan berkata, “Wahai Rasulullah, berilah aku”. Rasulullah, bersabda, “Ambillah ini”. Rasul Shalllahu alaihi wa sallam, memberinya. Pada hari ketiga dia datang lagi dan berkata, “Wahai Rasulullah, berilah aku”. Rasulullah memberinya 100 ekor unta lagi.

Pada hari keempat Hakim datang lagi, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, berilah aku “. Hakim ibn Hazim adalah salah seorang hartawan Makkah. Dialah yang mengelambui Ka’bah sendirian setahun. Sedang tahun lainnya dilakukan oleh penduduk Makkah secara ramai-ramai , maka Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam berpaling ke arahnya dan bersabda:

“Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini manis lagi hijau, tetapi tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. (HR : Bukhari dan Tirmidzi)

Hakim lalu berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, demi Allah, aku tidak akan berani meminta lagi kepada seorang manusia pun sesudah engkau”. Maksudnya, “Aku tidak akan meminta-minta lagi kepada orang lain sesudahmu”. Disebutkan hingga terhadap ‘athonya (gajinya) sendiri Hakim tidak mau memintanya kepada seorang pun diantara para Khalifah.

Abu Bakar ra memberinya atho’, tetapi Hakim menolak. Umar ra pun memberinya pula atho’, tetap Hakim tetap menolak.

Umar berkata, “Aku nyatakan kepada kalian semua, hai manusia, bahwa sesungguhnya Hakim telah kuberikan kepadanya, atho’nya, tetapi ia menolak, tidak mau menerimanya. Wallahu’alam. 
Jum`at, 16 Jumaadits Tsani 1432/20 Mei 2011
oleh Dr. Aidh Abdulah Al-Qarni

Jangan Sia-Siakan Usiamu

Tiap-tiap sesuatu dapat dicari penggantinya,kecuali usia. Dan, tiap-tiap sesuatu bila telah lenyap, adakalanya dapat dikembalikan melalui suatu jalan atau lainnya, kecuali usia. Karena apa yang telah berlalu dari usia tidak dapat dikembalikan dan ia pergi untuk selamanya.

Apa yang sudah berlalu dari usia, berarti lenyap yang diharapkan masih belum pasti, dan bagimu hanyalah saat sekarang yang sedang dijalani.

Allah Ta'ala berfirman :
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ

"Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?" (QS. Fathir [35] : 37)

Huruf ma disebutkan dalam penggunaannyadakalanya sebagai huruf maushul yang berarti: "Dalam yang cukup untuk berpikir" atau sebagai huruf mashdar yang berarti: "Untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir" dalam kehidupan ini.

Allah Ta'ala berfirman :

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَقَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ

"Allah bertanya: 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggi di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami tinggal di (dibumi) sehari atau setengah hari'." (QS. Al-Mu'muninun [23] : 112-113)

Allah Ta'ala berfirman :

قَالَ إِن لَّبِثْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ لَّوْ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَأَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَفَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

"Kamu tidak tinggal (di bumi), melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada tuhan(yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) Arsy yang mulia." (QS. Al-Mu'muninun [23] : 114-116)

Ibnu Abbas ra telah menceritakan bahwa Rasulullah shallahu alaihi was sallam pernah bersabda: "Ada dua nikmat yang keduanya memperdaya kebanyakan manusia,yaitu sehat dan waktu luang." (HR. Muslim)

Hal yang paling menyia-nyiakan usia adalah melakukan kedurhakan. Ulama salaf yang shalih sangat antusias dalam memelihara usia dan menggunakan sebaik-baiknya. Apabila menggunakan usianya untuk maksiat, berarti lenyaplah dunia dan akhiratnya. Semoga Allah melindungi kita dari kedurhakaan.

Sesungguhnya ulama salaf dahulu menjauhi banyak hal yang diperbolehkan karna kawatir terjerumus ke dalam hal yang dimakruhkan. Berbeda dengan kita sekarang, sesungguhnyakit tidak ragu lagi mengerjakan kedurhakaan, bukan lagi sekadar hal-hal yang diperbolehkan.Semoga Allah mengampuni kita semua.

Pernah dikatakan kepada Kanzun Ibnu Wabrah, salah seorang ahli ibadah: "Duduklah bersama kami", maka ia menjawab: "Tahanlah matahari!" Yakni agar tidak datang dan pergi menggerogoti usia.

Kita datang dan pergi untu keperlulan kita,
dan keperluan orang hidup iut tiada habisnya,
akan berhentilah keperluan seseorang dengan kematiannya,
selama seseorang masih hidup,
perputaran siang dan malam hari,
telah membuat anak kecil beruban dan oran tua mati,
bila malam telah membuat tua siang harinya,
datanglah sesudahnya siang hari yang muda.

Orang-orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam kehidupan di dunia, dan durhaka kepada Allah Ta'ala, dan tidak mau bertaubat, maka hanya kebinasaan ketika nanti di akhirat, dan tidak ada lagi pintu taubat baginya. Wallahu'alam.
 
Ahad, 05/06/2011 15:09 WIB
oleh DR. Abdullah 'Aidh Al-Qarni 

Jalan Lapang Bagi Kehidupan

Selasa, 21 Mei 2013

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ ﴿١٩﴾

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu." (QS. Muhammad [47] : 19)

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٥﴾ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنْ الشَّاكِرِينَ ﴿٦٦﴾

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Oleh karena itu, hendaklah Allah saja, yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (QS. Az-Zumar [39] : 65-66)

Yaitu ajaran tauhid yang ditafsirkan oleh Nabi Shallahu alaihi wassallam dalam aktivitas kehidupannya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah Ta'ala melalui firman-Nya yang menyitir kata-katanya:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ ﴿٨٠﴾

"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku." (QS. Asy-Syu'ara [26] : 80)

Dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa Ibnu Abbas r.a mengatakan firman-Nya :

حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ ﴿١٧٣﴾

"Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung." (QS. Ali-Imran [3] : 173)

Ibrahim alaihis sallam mengucapkannya saat dilemparkan ke dalam api, maka Allah menjadikan api itu sejuk dan kesalamatan baginya. Nabi Muhammad Shallahu alaihi wassalam telah mengucapkannya saat orang-orang munafik mengatakan kepadanya sebagaimana yang disitir oleh firman-Nya:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ ﴿١٧٣﴾

Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangkamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu justeru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung". (QS. Ali Imran [3] : 173)

Ajaran tauhid bukan sekadar mengucapkan "laa ilaaha illalloh", kemudian amal perbutan disuatu sisi, sedangkan "laa ilaha illahoh" di sisi lain yang berseberangan.

Memang banyak orang mengucpkan "laa ilaaha illahoh", tetapi karena mengingkari pemahamannya, mereka tidak terpengaruh olehnya dan cahaya "laa ilaahaa illalloh" tidak mereka realisasikan dalam kehidupannya. Mereka mengucapkannya, kemudian menjauhi masjid. Mereka mengucapkan "laa ilaahaa illalloh", tetapi makan dari riba, berpakaian dari riba, minum dari riba, dan mengambil dengan cara riba, kemudian seseorang diantara mereka mengangkat kedua tangannya seusai shalat dan berdo'a; "Ya Tuhanku! Ya Tuhanku," sedang perutnya dipenuhi dengan riba.

Di manakah "laa ilaaha illalloh"?

Mereka mengucapkan "laa alaaha illalloh", kemudian mengingkari hijab, meninggalkan, dan menolaknya. Seorang wanita keluar rumahnya, dia mengucapkan "laa ilaaha illalloh", sedang amalnya bertolak belakang dengan prinsip "laa ilahaa illlalloh". Dia keluar memamerkan perhiasan dan kecantikan serta menanggalkan kehormatan, iman, dan rasa malunya kepada laki-laki fasiq, suka melacur. Kita pun tidak dapat mengadu, selain hanya kepada Allah.

Sesungguhnya ajaran "laa ilaaha illalloh" dalam kehidupan para shahabat pada masa lalu mempunyai makna tersendiri, cahaya, dan cita rasa yang lain. Di kalangan para shahabatlah terdapat contoh-contoh yang benar dalam mengimplementasikan makna "laa ilaaha illallalloh", yaitu kamu korbankan jiwa dan ragamamu hanya kepada Yang Maha Tunggal lagi Maha Esa, Allah SWT.

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿١١١﴾

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu." (QS. At-Taubah [9] : 111)

Makna "la ilaaha illalloh" menurut ulama salaf ialah janganlah Anda melewatkan satu shalat pun di dalam masjid selama Anda kuat lagi mampu.

Berikut ini adalah Sa'id ibnul Musayab, salah seorang tabi'in, dalam sekaratul mautnya dia bersumpah dengan nama Allah seraya mengatakan, "Tidaklah sekali-kali muadzdzin menyerukan adzannya sejak 40 tahun yang silam, melainkan aku telah berada dalam masjid".

Kami katakan, "Wahai Sai'id sesungguhnya telah didapati di kalangan kaum muslim orang-orang yang tidak mengenal masjid. Jika mereka datang ke masjid, maka dengan sikap riya', pamer, dan basa-basi."

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ﴿٥٩﴾

"Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan." (QS. Maryam [19] : 59)

Wahai Ibnul Musayyab, sesungguhnya al-Qur'an yang dahulu biasa dibaca di rumah-rumah kaum Muhajirin dan kaum Anshar, sekarang telah berubah karena telah diganti di kebanyakan rumah menjadi nyanyian asmara, suara dawai, musik, gitar, gendang, dan gitar. Kami pun hanya bisa mengadu keadaan kami kepada Allah Ta'ala.

Rasulullah Shallahu alaihi wassalam mengirimkan pasukan ke gelapan malam dan mereka mengangkat dua orang shahabat untuk piket, yaitu Ammar ibnu Yasir dan Abbas ibnu Bisyr. Keduanya diberi tugas untuk menjaga pasukan yang sedang berjuang di jalan Allah di kegelapan malam, sedang Rasulullah Shallahu alaihi wassalam telah bersabda, "Ada dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang semalaman berjaga di jalan Allah." (HR. Tirmidzi)

"Dan mata yang menghindar dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah".

Akan tetapi, pada masa sekarang terdapat ribuan mata, saat hati mereka kosong dari "laa ilaaha illalloh", mengumbar penglihatannya melihat hal-hal yang diharamkan, lupa kepada Tuhan yang menguasai bumi dan langi, yang pandangan-Nya kepada hamba lebih cepat daripada pandangan hamba kepada kemaksiatan.

Peliharalah kedua matamu, jika memperlihatkan kepadamu aib suatu kaum. Katakanlah kepadanya, "Hai mata, orang lain mempunyai banyak mata!"

Abbas ibnu Bisyr dan Ammar Ibnu Yasir pun bangkit untuk piket jaga. Ammar berkata kepada Abbad, "Apakah engkau jaga di permulaan malam hari atau penghujungnya?". Abbad menjawab, "Aku piket di permulaan malam hari". Abbad pun bangkit untuk melakukan piket dan jaga.

Dalam tugas jganya Abbas senbaru melakukan shalat dan menangis. Ketika musuh mengirimkan anak panah kepadanya saat ia sedang shalat, ia mencabut anak panah yang mengenai dirinya dan melanjutkan shalatnya.

Mereka mengirimkannya lagi untuk kedua kalinya dan ia langsung mencabutnya, dan mereka mengirimkannya lagi untuk ketiga kalinya. Iapun mencabut sendiri. Ketika darahnya banyak yang keluar, ia mempersingkat shalatnya dan bersalam. Lalu ia memanggil Ammar seraya berkata, "Hai Ammar, sekarang giliranmu jagamu. Demi Allah yang tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Seandainya aku tidak kawatir terbunuh, karena musuh nanti akan masuk, tentulah aku tidak akan memutuskan shalatku, meskipun harus mati".

"Kami berasal dari kaum yang bila diseru untuk mengerjakan shalat, mereka tetap menghadapkan wajahnya ke arah Ka'bah, dan menyerukan takbirnya bersama dengan ar-Ruhul Amin, meskipun peperangan membasahi bumi dengan darah merah segar".

Akan tetapi, sesudah generasi ini datanglah satu kaum yang meninggalkan shalat shubuh, kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah. Wallahlu'alam.
Senin, 18/07/2011 13:33 WIB 
oleh DR. Abdullah 'Aid Al-Qarni

Jagalah Pendengaranmu Dari Nyanyian

oleh DR Abdullah 'Aid Al-Qarni
 
Dalam kitab shahih al-Bukhari, Imam Bukhari mengatakan, pada hari raya, Aisyah ra menuturkan Rasulllah shallahu alaihi wassalam mendatangiku. Saat itu itu, aku di rumah bersama dua orang gadis temanku dan keduanya sedang asyik mendengarkan lagu-lagu peristiwa Bu'ats. Lalu beliau shallahu alaihi wassalam, langsung membaringkan dirinya diatas tempat tirdur sambil memalingkan dirinya di atas tempat tidur, seraya memalingkan wajahnya.

Lalu, Abu Bakar datang menegurku, "Nyanyian itu senandung setan, menurut Nabi shallahu alaihi wassalam", ucapnya.

Hadist diatas mengandung beberapa persoalan yang penting untuk diketahui antara lain :

Peristiwa Buats, peristiwa pertempuran yang amat sengit antara suku Khazraja dan Aus. Keduanya adalah dua suku besar di Madinah. Peperangan itu disebut dengan :"Peirstiwa Buats", adalah karena terjadi di Buats, salah satu daerah di pinggiran kota Madinah.

Namun, karunia Allah Ta'ala, akhirnya hati kedua suku itu bisa bersatu dalam naungan Islam. Hal ini, ditegaskan Allah dalam firman-Nya :

"Dan yang mempersatukan hati mereka, walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana". (QS : al-Anfal : 63)

Begitulah, kedua suku itu sebenarnya berasal dari satu keturunan, yaitu al-Azd. Namun, syetan berhasil meniupkan hawa kedengkian ke dalam jiwa mereka, sehingga terjadilah perang saudara yang cukup sengit diantara mereka. Tentang peristiwa ini Aisyah mengatakan, "Peristiwa Bu'ats merupakan peristiwa yagn sengaja dipersembahkan Allah untuk Rasulullah shallahu alaihi wassalam.

Mengapa demikian?

Karena, atas kebijaksanaan Allah, Rasulullah shallahu alaihi wassalam, diutus atau diperintahkan berhijrah ke Madinah setelah peristiwa Buats. Dikisahkan, dalam peristiwa itu suku Aus berperang dan saling membunuh satu sama lain, sehingga orang-orang tua mereka banyak yang mati terbunuh dan tinggal tersisa para pemudanya. Ini merupakan karunia Allah. Pasalnya, bila orang-orang tua masih ada pada saat Rasulullah datang di Madinah, bisa jadi mereka saat itu telah melekat unsur-unsur kejahiliahan, sebagaimana kaum kafir Quraisy. Lain halnya dengan para generasi muda mereka kebanyakan mereka masih belum begitu terkontaminasi dengan sisi-sisi negatif kejahiliahan.

Singkatnya, peristiwa Buats merupakan sejarah kelam dan menyakitkan bagi suku Khazraj dan Aus.Dan kaum Yahudi selalu berupaya memisahkan hati mereka yang telah disatukan oleh Islam. Yakni dengan selalu mengungkit kembali peristiwa tersebut untuk mengadu domba dan membangkitkan emosi kedua belah pihak.

Yang demikian itu, karena kaum Yahudi mengetahui bahwa suku Aus dan Khazraj akan mudah terpancing emosi, keduanya manakala diingatkan kembali pada peristiwa itu.

Terkait dengan perkataan Aisyah ra, "Lalu Abu Bakar datang dan menegurku". Abu Bakar adalah orang yang paling mudah marah. Bahkan, Umar ra pernah berkata, "Aku selalu menjaga kemarahan Abu Bakar". Namun, demikian Allah Ta'ala mengetahui keikhlasan, ketaatan, dan ketulusannya dalam beribadah. Karena itulah, maka Allah pun mengangkat martabatnya menjadi umat Muhammad shallahu alaihi wassalam yang paling mulia.

Syahdan, kebiasaan atau adat penduduk Habasah dahulu, adalah bermain dan bersenandung di masjid. Dalam senandung itu, mereka sering mengatakan, "Syahdan, Muhammad adalah hamba yang shaleh. Syahdan Muhammad adalah hamba yang shaleh". Perkataan seperti ini, tentu saja tidak sesuai dengan martabat dan kedudukan Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Sebab, sebuah syair mengatakan, "Bukankah sebilah pedang akan berkurang wibawanya, jika dikatakan, tongkat itu lebih tajam dari pedang".

Ketika anda bermaksud memuji orang yang terhormat misalnya, tetapi anda berkata kepadanya, "Engkau adalah manusia ... ", apakah ini suatu pujian?

Seperti kita ketahui bersama Muhammad shallahu alaihi wassalam adalah hamba yang shaleh. Bahkan, ia adalah penghulu atau pemimpinnya orang-orang yang shaleh diseluruh pelosok dunia ini. Namun, ketika mendengar senandung itu, beliau shallahu alaihi wassalam ternyata tetap tersenyum.

Dalam riwayat lain disebutkan, ketika melihat mereka (penduduk Habasyah) itu bermain dan bersenandung di masjid, Umar ra mengambil kerikil-kerikil masjid dan melempar mereka. Lalu, ia berkata, "Bukankkah ini di masjid Rasulullah?"

Kemudia ia menengok dan melihat Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Maka, ia pun berhenti. Lantas, Rasulullah shallahu alaihi wassalam menghampirinya, dan berkata, "Ya, Umar, biarkanlah mereka".

Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah berkata, "Biarkanlah mereka, agar kaum Yahudi mengetahui, bahwa dalam agama kita terdapat kelonggaran". Yakni, kemudahan, keringanan dan toleransi. Mendengar nasihat tersebut, Umar pun pergi meningggalkan mereka.

Setelah itu, Rasulullah shallahu alaihi wassalam berkata kepada Aisyah, "Apakah kamu ingin melihat pertunjukkan ini?". Aisyah berkata, "Ya". Maka Rasulullah shallahu alaihi wassalam menaruh Aisyah dibelakang punggungnya. Lalu Aisyah menempelkan pipinya ke pipi Rasulullah shallahu alailhi wassalam samil melihat pertunjukkan itu. Setelah beberapa lama, Rasulullah shallahu alaihi wassalam bertanya kepadanya, "Sudah puaskan kamu? "Sudah", jawab Aisyah. Maka Rasullullah shallahu alaihi wassalam berdiri. Lantas, Aisyah pun pergi seraya membenarkan cadarnya.

Hari Raya kaum msulimin itu ada dua : Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.

Anas menuturkan, ketika Rasulullah shallahu alaihi wassalam datang di Madinah, para penduduknya telah memiliki dua hari khusus untuk bersenang-senang. Maka beliau shallahu alaihi wassalam. Maka beliau shallahu bertanya pada mereka, "Hari apakah kedua hari ini?". Mereka menjawab, "Kami biasa bermain-main dalam kedua hari itu pada masa jahiliah". Maka, Rasulullah berkata, "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengganti kedua hari ini untuk kelian dengan yang dua hari yang lebih baik :Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitrie".

Jadi, hari raya bagi umat Islam adalah Idul Adha dan Idul Fitrie. Karenanya, barangsiapa membuat perayaan-perayaan baru diluar kedua hari raya ini, dan kemudian mengkultuskan dan mengagung-ngagungkannya, niscaya ia telah berbuat kesalahan dan mengada-ada. Singkatnya, sebagai umat Islam, kita tidak mengenal Hari Ibu, Hari Anak, Hari Nasional, dan Hari Natal, dan Hari Tahun Baru Masehi, yang semuanya itu, tidak dibenarkan dalam agama Islam.

Sedangkan hari Jum'at, bisa juga disebut sebagai hari raya kecil bagi umat Islam. Karena itu, agungkanlah hari Jum'at dengan berdzikir, membaca al-Qur'an dan melaksanakan shalat Jum'at yang disyariatkan dalam agama Islam.

Di dalam Islam diperbolehkan bersuka ria dan bersenang-senang dengan permainan yang mubah pada hari raya. Misalnya, menyenandungkan syair-syair tanpa iringan gendang, seruling, gitar dan lain sebagainya. Diperbolehkan juga merayakan hari raya dengan berwisata, berekreasi, bersenda gurau, bercanda, bercengkerama, dan berpesta makanan ala kadarnya. Itulah bentuk-bentuk keckeriaan dan kesukariaan yang diajarkan oleh para ulama.

Kemudian, muncul pertanyaan, apakah nyanyian itu diperbolehkan apa tidak?

Yang benar, bahwa nyanyian yang diiringi dengan alat-alat musik, seruling, gitar, gendang, biola, dan sejenisnya adalah hukumnya haram.

Rasulullah shallahu alahi wassalam, menegaskan keharamannya ini dalam hadist-hadistnya. Adapun dalam al-Qur'an, haramnya nyanyian (lagu-lagu) ini diisyaratakan oleh firman-Nya :

"Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokkan". (QS : Lukman : 6).

Yang dimaksud dengan perkataan yang tidak berguna oleh ayat diatas, tak lain adalah lagu-lagu, atau nyanyian. Tentang hal ini, Ibnu Mas'ud menegaskan, "Aku bersumpah atas nama Allah, bahwa yang dimaksud itu adalah nyanyian (nyanyian)". Dalam shahih Bukhari, saat mengomentari pendapat Abu Malik al-Asyari, Imam Bukhari menuturkan, "Rasullulah shallahu alaihi wassalam, bersabda, "Beberapa kaum dari umatku kelak akan menghalalkan pakaian sutera, minuman keras, dan alat-alat musik". Dalam penghalalan ini, terjadi setelah jelas diharamkan oleh agama. Jadi, betapapun, beberapa hal itu tetap haram.

Menurut Ibnu Mas'ud, nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati manusia sebagaimana air hujan menumbuhkan biakkan cendawan. Karena itu, seorang mukmin diharamkan mempergunakan kedua telinganya untuk mendengarkan nyanyian yang diiringi dengan suara-suara alat musik, kendang, biola, gitar, drum, seruling dan sejenisnya.

Apalagi seorang wanita . Nyanyian atau bernyanyi dengan diiringi denan suara alat musik itu sangat diharamkan dan tercela. Maka itu, marilah kita memohon perlindungan dan keselamatan dari Allah agar terlindung dari semau itu.

Hakikatnya, nyanyian itu bisa melalaikan seseorang berdzikir kepada Allah, membutakan hati, menjauhkan ruh dari ketaatan , menghambat tujuan, dan dapat menyeret manusia pada perbuatan zina dan keji.

Umar bin Abdul Aziz berkata kepada anak-anaknya, "Jauihilah nyanyian, karena ia akan mendekatkan perbuatan zina!". Sementara itu, Uqbah bin Amir menasihati anak-anaknya sebagai berikut, "Jauhilah nyanyian-nyanyiah, sebab ia akan melalaikan kalian dari al-Qur'an dan menghalang-halangi dari mentaati Allah".

Nyanyian dapat menumbuhkan kemunafikan didalam hati. Pasalnya, orang yang selalu mendengarkan lagu-lagu (nyanyian) setiap pagi dan petang, niscaya pada diri orang itu akan terlihat kemunafikan. Paling tidak, ia akan memperlihatkan kebaikan-kebaikannya dalam menyembunyikan kejelekan-kejelekannya dihadapan orang lain. Dan itu itu disebabkan oleh nyanyian.

Nyanyian menimbulkan keasingan pada diri seorang hamba terhadap Tuhannya. Kalau sudah demikian, niscaya ia tidak akan memiliki semangat sedikit pun untuk berdzikir kepada Allah dan juga membawa al-Qur'an. Yakni, sebagaimana dilukiskan Ibnu Qayyim dalam syairnya :

"Mereka memperhatikan al-Qur'an kala dialunkan, bukan karena takut, melainkan hanya berpura-pura, namun saat nyanyian dilagukan, mereka berjoget. Sungguuh, tak sedikit mereka bersujud demi Allah".

Orang-orang yang suka bernyanyi dan mendengarkan lagu-lagu menganggap keindahan lagu-lagu itu segalanya. Karena itu, mereka tak bisa merasakan keindahan dan bergetar sedikitpun saat al-Qur'an dibaca. Wallahu'alam. Selasa, 22/11/2011 09:32 WIB | Arsip | Cetak (eramuslim.com)

Jadilah Salah Satu Dari Tujuh

oleh DR. Abdullah 'Aid Al-Qarni
Abu Hurairah ra menuturkan, aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda, "Tujuh macam manusia yang akan mendapat naungan Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Mereka adalah pertama, seorang pemimpin yang adil, kedua, seorang pemuda yang tumbuh berkembang dalam ibadah kepada Allah, ketiga, dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah, dan berpisah karena Allah, keempat, seseorang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian dan kemudian bercucuran air matanya, kelima, seseorang yang hatinya tertambat pada masjid-masjid, keenam, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikannya (sedekahnya) itu hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan koleh tangan kanannnya, ketujuh, seseorang yang ketika dipanggil oleh seseorang wanita yang bermartabat dan cantik jelita, ia menjawab, "Sesungguhnya akut takut kepada Allah, Tuhan semesta alam".

Ketujuh macam orang itu, menurut para ulama, termasuk para penganut Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dan yang dimaksud adalah bukan tujuh individu, melainkan tujuh golongan.

Adapun golongan pertama, adalah golongan pemimpn yang adil. Mereka itu adalah setiap orang yang berbuat adil terhadap orang-orang yang dipimpinnya, baik ia seorang pemimpin dalam arti umum - sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah atau pun pemimpin dalam arti khusus.

Bahkan,menurut sebagian ulama, seorang guru yan berbuat adil terhadap murid-muridnya, misalnya kemudian ia menilai hasil ujian mereka dengan adil, maka ia termasuk orang yang adil, sebagaimana dimaksud oleh hadist ini.

Ketika seorang guru menguji murid-muridnya, misalnya kemudian ia menilai hasil ujian mereka dengan adil, maka ia termasuk orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak naungan lain selain naungan-Nya.

Sedangkan yang sayogyanya diperbuat oleh setiap mukmin adalah, berupaya semaksimal mungkin agar dirinya memiliki salah satu sifat dari ketujuh golongan ini. Atau, kalau bisa, hendaknya ia berusaha agar memiliki dua, atau tiga dari ketujuh sifat itu.

Dan, hal itu sangat mudah bagi siapa saja yang dimudahkan Allah. Bahkan, sangat ringan bagi siapa yang dirinya diringan Allah Ta'ala.

Terbukti, orang-orang mengakui Umar ibn Abdul Aziz ra, salah satu seorang Khalifah dari Bani Umawiyyah, sebagai orang yang pada dirinya terdapat beberapa sifat dari ketujuh golongan tadi. Diantaranya, pertama, ia adalah seorang pemuda yang tumbuh berkembang, atau menghabiskan masa mudanya dalam peribadahan kepada Allah, kedua, ia pemimpin yang adil, ketiga, hatinya selalu tertambat di masjid-masjid.Dengan demikian, sangat mungkin pula,ia termasuk orang yang senang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian kemudian air matanya bercucuran. Bahkan, tidak berlebihan pula, bial ia diyakini sebagai seseorang yang mencintai kaumnya, karena Allah dan bersama-sama mereka dalam mencintai Allah.

Perkataan Rasulullah shalllahu alaihi wassalam, "Tujuh macam manusia yang akan mendapat naungan Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungn selain naungan-Nya", ini mengabarkan, bahwa pada hari kiamat kelak tidak ada tempat bernaung satupun, selain naungan Allah. Pada hari itu, juga tidak tempat teduh satupun, selain keteduhan yang diberikan Allah Ta'ala.

Begitulah, pada hari kiamat kelak tidak ada naungan, tak ada pohon, tak tempat berteduh, dan tak ada sesuatu pun yang bisa melindungi manusia dari sengatan terik matahari yang pada saat itu sangat dekat sekali dengan kepala seluruh manusia.

Al-Miqdad ibn al-Awwad mengatakan, "Aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wassalam mengatakan, "Matahari, pada hari kiamat kelak, akan sangat dekat dengan kepala manusia, dan bahkan, jarak antara matahari dan manusia saat itu, hanya satu mil saja. Miqdad berkata, "Demi Allah, aku tidak tahu, apakah yang dimaksud dengan satu mil itu adalah milnya alat celak mata, ataukah mil itu yang dimaksud berlaku umum?".

Disebutkan, pada hari itu Sang Maha Perkasa nampak dengan segala keagungannya dan kebesaran-Nya duduk di singgsana yang amat agung. Menurut sebuah riwayat, saat itu, singgasana Allah ini dipikul oleh delapan malaikat dan Allah berada diatasnya dengan segala keagungan, kebesaran, kemuliaan-Nya yang tiada bandingan sedikitpun. Semua itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Entah bagaimana, di mana, seperti apa, dan laksana apa? Yang jelas, Dia akan berahta di singgasana-Nya sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an.

Kemudian, dari atas singgasana-Nya itu, Allah akan menyeru dengan suara-Nya yang terdengar sama oleh mereka yang dekat dan mereka yang jauh. "Akulah Sang Raja Mahadiraja" - yang Mahasuci lagi Mahaagung.Dialah sang Raja, yakni sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur'an, "Yang menguasai Hari Pembelasan". (QS : al-Fatihah : 3). Artinya, tidak ada raja selain Dia.

Dalam sebuah hadist Qudsi, disebutkan Allah Ta'ala, berfirman : "Akulah Sang Raja, dimanakah raja-raja dunia?". Kemudian Dia mengulanginya lagi hingga tiga kali, "Akulah Sang Raja, dimanakah raja-raja dunia?".

Lalu Dia bertanya, "Milik siapakah kekuasaan pada hari ini? Milik siapakah kekuasaa hari ini? Miliki siapakah kekuasaan pada hari ini? Lantas, Allah menjawabnya sendiri seraya berkata, "Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan". (QS : Ghafir : 16)

Sesaat kemudian, Allah Ta'ala mengawali panggilannya. Dia berkata, "Mana orang-orang yang cinta-mencitai dalam kebesaran-Ku? Pada hari ini, aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku,sedang hari ini tidak ada naungan selain naungan-Ku".

Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Menurut riwayat ini, ketika seluruh manusia - dari sejak dahulu kala, hingga akhir zaman nanti - dikumpulkan menjadi satu, Allah aka menyeru mereka. Dia akan berkata, "Mana orang-orang saling mencintai dalam kebesaran-Ku? Pada hari ini, aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku. Maka, bangkitlah orang-orang itu menuju Allah Azza Wa Jalla. Wallahu'alam.Senin, 31/10/2011 12:39 WIB | Arsip | Cetak (eramuslim.com)

Jadilah Pemburu Surga

Islam tidak akan dapat tegak, kecuali dengan perjuangan para penganutnya. Islam tidak akan tertanam, kecuali dengan siraman darah. Oleh karena itu, guru kita, Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa salam, gagah berani – dalam semua arti yang dikandung kata – ‘berani’. Para sahabat beliau juga orang-orang yang pemberani. Abu Bakar seorang siddiq, Umar terbunuh, Utsman juga tewas, Ali mandi darah. Delapan puluh persen sahabat beliau terbunuh. 
 
Sehari sebelum perang Uhud, Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda diatas mimbar :
“Demi Allah yang menggenggam jiwaku, setiap orang yang terbunuh di jalan Allah pasti datang pada hari Kiamat seperti keadaannya ketika terbunuh didunia. Warnanya warna darah, tapi baunya bau minyak kesturi”.

Dalam hadist lainnya Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya Allah berfirman kepada para syuhada pada hari Kiamat. Siapa yang membunuh kalian?” Mereka menjawab, “Musuh-musuh-Mu”. Dia berfirman lagi, “Mengapa kalian dibunuh?” Mereka menjawab,”Kami terbunuh karena perjuangan di jalan-Mu. ‘Dia berfirman, “Aku telah mengampuni kalian”.

Kita perlu menengok perang Uhud agar kita bisa melihat, bagaimana para leluhur kita dahulu, bagaimana keadaan kita sekarang, an apa yang kita berikan kepada Islam?

Mana para syuhada hari ini?
Mana para pahlawan Islam hari ini?
Mana peran kita dalam menyebarkan Islam hari ini?
Mana darah? Mana harta? Mana waktu? Mana pengorbanan?
Semuanya kosong.

Sehari sebelum pecah perang Uhud, Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam bermusyawarah dengan para sahabat. Beliau mengumumkan hendak memerangi Abu Sufyan dan kaum musyrikin. Beliau bertanya kepada para sahabat, “Bagaimana pendapat kalian?Apakah kita memerangi mereka di lorong-lorong kota atau kita cegat mereka di gunung Uhud”.

Orang-orang tua menjawab, “Wahai Rasulullah, lebih baik kia tetap di tempat, bertahan di lorong-lorong dan rumah-rumah kita. Kalau mereka malsuk kota.klta perangi mereka”. Beliau pun setuju. Tetapi, baru selesai ucapan itu, para sahabat yang berusia muda, yan g berjumlah delapan puluh orang, keluar, lalu menghunus pedang dan memasang besi pelindung di kepala. Kemudian mereka melantunkan nasyid di luar masjjid dengan suara lantang.”Kami adalah orang-orang yang membaiat Muhammad untuk berjihad selamakami hidup”, tandas mereka.

Kemudian, seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh tahun berkata nyaring,”Wahai Rasulullah, pimpinlah kami ke Uhud. Jangan halangi kami masuk surga! Demi Allah, saya pasti masuk surga”. Mendengar gelora penuh semangat itu, Rasulullah bangkit. Setiap bulu di tubuh beliau berdiri. Setiap tetes darah beilaiu bergejolak. Beliau lalu berdiri. Beliau mengumumkan bahwa pintu-pintu surga telah dibuka dan Allah telah menempatkan diri kepada hamba-hamba-Nya . “Dengan apa kamu masuk surga?”, tanya beliau kepada para pemuda itu?

Para pemuda itu menjawab, “Dengan dua h al. Pertama, saya mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan saya tidak lari dari medan pertempuran”. Kemudian air mata Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam mengalir. Dengan mengangkat kedua tangan beliau bersabda, “Kalau kamu jujur kepada Allah, Dia pasti akan membalas kejujuranmu”.

Allah berfirman :
“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS : al-Ankanbut : 69)

Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, tak lama, berangkat menuju medan perang. Beberapa saat sebelum perang berkecamuk, beliau mencabut pedangnya dan bertanya, “Siapa yang ma memegang pedang ini?”. “Kami semua ingin memegangnya”, jawab para sahabat. Abu Dujanah bertanya, “Apa hak pedang ini, wahai Rasulullah?”, tanyanya. “Haknya adalah menebaskannya kepada kaum kafir hingga ia bengkok”, tegas Rasulullah.

Pernah anda mendengar ada pedang yang bengkok, karena digunakan membunuh musuh? Ya, ada .. dengan telapak tangan sahabat-sahabat Muhammad Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam. Kemudian Abu Dujanah mengambil pedang itu, sambi bersyair.

“Akulah yuang berjanlji kepada kekasihku,
Tatkala kami befrada di gunung diantara rumpun kurma ..
Untuk selamanya tidak berdiri di barisan belakang
Aku membunuh dengan pedang Allah dan Rasul ..”

Kemudian Abu Dujanah menggunakan pedang untuk berperang dan membunuh orang-orang kafir, hingga pedang itu bengkok. Lalu, dia mengembalikan pedang bengkok kepada Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam. Para pahlawan lahir bermunculan.

Pintu-pintu surga dibuka. Para malaikat ikut meramaikan pertempuran. Pintu-pintu langit dibuka, menurunkan tentara yang dikomandani Jibril as. Dan turun diatas gunung Uhud.

Agama ini lenyap dari muka bumi atau kebenaran ini yang menang.

Tentu, kemenangan islam yang akan datang. Tak akan berhasil mereka yang menodai dan menggunakan agama hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat dengan melakukan kerjasama dengan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya. Wallahu’alam.

DR. Abdullah Aidh Al-Qarni Kamis, 28/10/2010 12:50 WIB | email | print (eramuslim.com)

Dengarlah Kabar dari Neraka


"Kalau para budak sudah tua dalam perbudakan,para raja membebaskan mereka laksana orang baik,Tuhanku, Engkau lebih pantas melimpahkan kemurahan ini, Aku sudah tua dalam perbudakan, bebaskan daku dari Neraka". Allah Ta'ala berfirman tentang salah seorang penjahat,

خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ﴿٣٠﴾ ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ ﴿٣١﴾ ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ ﴿٣٢﴾ إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ ﴿٣٣﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣٤﴾ فَلَيْسَ لَهُ الْيَوْمَ هَاهُنَا حَمِيمٌ ﴿٣٥﴾ وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنْ غِسْلِينٍ ﴿٣٦﴾ لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِؤُونَ ﴿٣٧﴾

"(Allah berfirman), Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api Neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dialah orang yang tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka pada hari ini di sini tidak ada seorang teman pun baginya. Dan tidak ada makanan (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa."(QS. Al-Haaqqah [69] : 30-37)

Khudzuuh-jahiima shalluuhu artinya mengikuti kedua tangan di belakang punggung pundak. Tsumma fii silsilatin dzar'uha sab'uuna dziraa'an faslukuuh: dia ditusuk dengan rantai besi hingga tembus pada mulut sampai ke anusnya. Na'udzu billah.

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا ﴿٦٦﴾

Para ulama berkata: "Wajah mereka dibolak-balikkan ke kanan dan ke kiri." Allah Ta'ala berfirman: "Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata, 'Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul'."(QS. al-Ahzab [33] : 66)

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي عَذَابِ جَهَنَّمَ خَالِدُونَ ﴿٧٤﴾لَا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ وَهُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ ﴿٧٥﴾

"Sungguh, orang-orang yang berdosa itu kekal di dalam azab Nereka Jahanam. Tidak diringankan (azab) itu dari Neraka, dan mereka berputus asa di dalamnya."(QS. Az-Zukruf [43] : 74-75)

Kekekalan di sini adalah bagi orang yang tidak memeluk Tauhid. Adapun penganut Tauhid yang berdosa, mereka tidak kekal di dalam Neraka. Mereka mungkin masuk Neraka. Ada yang tinggal selama seribu tahun, ada yang seratus tahun, ada pula yang tinggal selama sepuluh tahun. Kita berlindung kepada Allah dari Neraka.

Kaum Ahlus Sunnah menyakini bahwa para pelaku dosa besar tidak kekal di dalam Neraka. Mungkin saja mereka masuk Neraka, tapi kemudian dikeluarkan darinya. Allah berfirman:

إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا ﴿٢١﴾ لِلْطَّاغِينَ مَآبًا ﴿٢٢﴾ لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا ﴿٢٣﴾ لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا ﴿٢٤﴾ إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا ﴿٢٥﴾ جَزَاء وِفَاقًا ﴿٢٦﴾ إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا ﴿٢٧﴾ وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا ﴿٢٨﴾ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا ﴿٢٩﴾ فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا ﴿٣٠﴾

"Sungguh, (Neraka) Jahanam itu (sebagai) tempat mengintai (bagi penjaga yang mengawasi isi Neraka), menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama, mereka tidak measakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan, dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu Kitab (buku catatan amalan manusia). Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain azab."(QS. An-Naba' [78] : 21-30)

Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ ﴿٦﴾ إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ ﴿٧﴾ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ ﴿٨﴾ قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ ﴿٩﴾ وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴿١٠﴾ فَاعْتَرَفُوا بِذَنبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ السَّعِيرِ ﴿١١﴾

"Dan orang-orang yang ingkar kepada Tuhannya, akan mendapat azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara Neraka yang mengerikan, sedang Neraka itu membara, hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaga (Neraka) itu bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia?)' Mereka menjawab, 'Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakannya dan kami katakan, "Allah tidak menurunkan sesuatu apapun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar'." Dan mereka berkata, 'Sekiranya, (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala'. Maka mereka mengakui dosanya. Tetapi, jauhlah dari (rahmat Allah) bagi penghuni Neraka yang menyala-nyala itu."(QS. Al-Mulk [67] : 6-11)

Wahai kaum Muslimin, dengarlah kisah tentang orang-orang shaleh itu berlindung kepada Allah dari Neraka.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ﴿٦٥﴾ إِنَّهَا سَاءتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا ﴿٦٦﴾

"Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal,' sungguh, Jahanam iu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman."(QS. Al-Furqan [25] : 65-66)

Di sini Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang shaleh itu berlindung kepada Allah dari Neraka dan bahwa mereka memohon kepada Allah agar Dia menjauhkan azab Neraka dari mereka. Para ulama menyebutkan dengan sejumlah sanad yang shahih bahwa Aisyah r.a Isteri Rasulullah shallahu alaihi wassalam, dahulu membaca berulang-ulang firman Allah sambil menangis:

فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ ﴿٢٧﴾ إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ ﴿٢٨﴾

"Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab Neraka. Sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu. Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan, Maha Penyayang."(QS. At-Thur [52] : 27-28).

Waki', penulis kitab az-Zuhud meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa dia membaca firman Allah:

وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِم مِّن قَبْلُ إِنَّهُمْ كَانُوا فِي شَكٍّ مُّرِيبٍ ﴿٥٤﴾

"Dan diberi penghalang antara mereka dengan apa yang mereka inginkan sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang sepaham dengan mereka yang terdahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam."(QS. Saba' [34] : 54).

Ia pun menangis hingga pingsan dan disiram air untuk menyadarkannya kembali.

Ibnu Taimiyah mengisahkan tentang Ali Ibnul Fudhail bin Iyadh, salah seorang saleh dan ahli zuhud terkenal. Ibnu Taimiyah berkata: "Ayahnya shalat dengan membaca surat ash-Shaafat. Anaknya, Ali, adalah orang yang paling takut kepada Allah. Ia sedang shalat dibelakang ayahnya. Ketika al-Fudhail membaca:

وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ ﴿٢٤﴾ مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ ﴿٢٥﴾ بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ ﴿٢٦﴾

"Tahanlah mereka (di tempat perhentian), sesungguhnya mereka akan ditanya, 'Mengapa kamu tidak tolong menolong?' Bahkan mereka pada hari itu menyerah kepada keputusan Allah."(QS. Ash-Shaafat [37] : 24-26)

Mendengar bacaan itu Ali dan anaknya jatuh pingsan. Orang-orang lalu menggotongnya pulang ke rumah. Mereka mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi ternyata ia telah mati. Kisah ini dituturkan oleh Ibnu Katsir dan Syaikhul Isalm Ibnu Taimiyah. Kisah ini benar-benar terjadi. Wallahu'alam.

Senin, 26/09/2011 10:26 WIB
oleh DR. Abdullah 'Aidh Al-Qarni 

Ibadah

Ilmiah

Akhlaq

 
© Copyright Blog Arulli Munadiyan 2013 | Template Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates.