Radio Rodja 756AM

News Updates :

Biography

Ceramah

Siyar

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Kisah Seorang Putri Sholihah yang Menakjubkan

Jumat, 26 Juli 2013


Kisah seorang wanita yang bernama 'Abiir yang sedang dilanda penyakit kanker. Ia mengirimkan sebuah surat berisi kisahnya ke acara keluarga mingguan "Buyuut Muthma'innah" (rumah idaman) di Radio Qur'an Arab Saudi, lalu menuturkan kisahnya yang membuat para pendengar tidak kuasa menahan air mata mereka. Kisah yang sangat menyedihkan ini dibacakan di salah satu hari dari sepuluh terakhir di bulan Ramadhan lalu (tahun 2011). Berikut ini kisahnya –sebagaimana dituturkan kembali oleh sang pembawa acara DR Adil Alu Abdul Jabbaar- :

Ia adalah seorang wanita yang sangat cantik jelita dan mengagumkan, bahkan mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kecantikannya merupakan tanda kebesaran Allah. Setiap lelaki yang disekitarnya berangan-angan untuk memperistrikannya atau menjadikannya sebagai menantu putra-putranya. Hal ini jelas dari pembicaraan 'Abiir tatkala bercerita tentang dirinya dalam acara Radio Qur'an Saudi "Buyuut Muthma'innah". Ia bertutur tentang dirinya:

"Umurku sekarang 28 tahun, seorang wanita yang cantik dan kaya raya, ibu seorang putri yang berumur 9 tahun yang bernama Mayaa'. Kalian telah berbincang-bincang tentang penyakit kanker, maka izinkanlah aku untuk menceritakan kepada kalian tentang kisahku yang menyedihkan….dan bagaimana kondisiku dalam menghadapi pedihnya kankerku dan sakitnya yang berkepanjangan, dan perjuangan keras dalam menghadapinya. Bahkan sampai-sampai aku menangis akibat keluhan rasa sakit dan kepayahan yang aku rasakan. Aku tidak akan lupa saat-saat dimana aku harus menggunakan obat-obat kimia, terutama tatkala pertama kali aku mengkonsumsinya karena kawatir dengan efek/dampak buruk yang timbul…akan tetapi aku sabar menghadapinya..meskipun hatiku teriris-iris karena gelisah dan rasa takut. Setelah beberapa lama mengkonsumsi obat-obatan kimia tersebut mulailah rambutku berguguran…rambut yang sangat indah yang dikenal oleh orang yang dekat maupun yang jauh dariku. Sungguh…rambutku yang indah tersebut merupakan mahkota yang selalu aku kenakan di atas kepalaku. Akan tetapi penyakit kankerlah yang menggugurkan mahkotaku…helai demi helai berguguran di depan kedua mataku.

Pada suatu malam datanglah Mayaa' putriku lalu duduk di sampingku. Ia membawa sedikit manisan (kue). Kamipun mulai menyaksikan sebuah acara di salah satu stasiun televisi, lalu iapun mematikan televisi, lalu memandang kepadaku dan berkata, "Mama…engkau dalam keadaan baik..??". Aku menjawab, "Iya". Lalu putriku memegang uraian rambutku…ternyata uraian rambut itupun berguguran di tangan putriku. Iapun mengelus-negelus rambutku ternyata berguguran beberapa helai rambutku di hadapannya. Lalu aku berkata kepada putriku, "Bagaimana menurutmu dengan kondisiku ini wahai Mayaa'..?", iapun menangis. Lalu iapun mengusap air matanya dengan kedua tangannya, seraya berkata, "Waha mama…rambutmu yang gugur ini adalah amalan-amalan kebaikan", lalu iapun mulai mengumpulkan rambut-rambutku yang berguguran tadi dan meletakkannya di secarik tisu. Akupun menangis melihatnya hingga teriris-iris hatiku karena tangisanku, lalu aku memeluknya di dadaku, dan aku berdoa kepada Allah agar menyembuhkan aku dan memanjangkan umurku demi Mayaa' putriku ini, dan agar aku tidak meninggal karena penyakitku ini, dan agar Allah menyabarkan aku menahan pedihnya penyakitku ini….

Keeseokan harinya akupun meminta kepada suamiku alat cukur, lalu akupun mencukur seluruh rambutku di kamar mandi tanpa diketahui oleh seorangpun, agar aku tidak lagi sedih melihat rambutku yang selalu berguguran… di ruang tamu…, di dapur…di tempat duduk…di tempat tidur…di mobil…tidak ada tempat yang selamat dari bergugurnya rambutku.

Setelah itu akupun selalu memakai penutup kepala di rumah, akan tetapi Mayaa putriku mengeluhkan akan hal itu lalu melepaskan penutup kepalaku. Iapun terperanjak melihat rambutku yang tercukur habis. Ia berkata, "Mama..kenapa engkau melakukan ini ?!, apakah engkau lupa bahwa aku telah berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu, dan agar rambutmu tidak berguguran lagi?!. Tidakkah engkau tahu bahwasanya Allah akan mengabulkan doaku…Allah akan menjawab permintaanku…!!, Allah tidak menolak permintaanku…!!. Aku telah berdoa untukmu mama dalam sujudku agar Allah mengembalikan rambutmu lebih indah lagi dari sebelumnya…lebih banyak dan lebih cantik. Mama…sudah sebulan aku tidak membeli sarapan pagi di sekolah dengan uang jajanku, aku selalu menyedekahkan uang jajanku untuk para pembantu yang miskin di sekolah, dan aku meminta kepada mereka untuk mendoakanmu. Mama…tidakkah engkau tahu bahwasanya aku telah meminta kepada sahabatku Manaal agar meminta neneknya yang baik untuk mendoakan kesembuhanmu??. Mamaa…aku cinta kepada Allah…dan Dia akan mengabulkan doaku dan tidak akan menolak permintaanku…dan Dia akan segera menyembuhkanmu"

Mendengar tuturan putriku akupun tidak kuasa untuk menahan air mataku…begitu yakinnya ia…, begitu kuat dan berani jiwanya…lalu akupun memeluknya sambil menangis…".

Putriku lalu duduk bertelekan kedua lututnya menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya berdoa agar Allah menyembuhkanku sambil menangis. Ia menoleh kepadaku dan berkata, "Mama..hari ini adalah hari jum'at, dan saat ini adalah waktu mustajaab (terkabulnya doa)…aku berdoa untuk kesembuhanmu. Ustadzah Nuuroh hari ini mengabarkan aku tentang waktu mustajab ini." Sungguh hatiku teriris-iris melihat sikap putriku kepadaku... Akupun pergi ke kamarku dan tidur. Aku tidak merasa dan tidak terjaga kecuali saat aku mendengar lantunan ayat kursi dan surat Al-Fatihah yang dibaca oleh putriku dengan suaranya yang merdu dan lembut…aku merasakan ketentaraman…aku merasakan kekuatan…aku merasakan semangat yang lebih banyak. Sudah sering kali aku memintanya untuk membacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas kepadaku jika aku tidak bisa tidur karena rasa sakit yang parah…akupun memanggilnya untuk membacakan al-Qur'an untukku.

Sebulan kemudian –setelah menggunakan obat-obatan kimia- akupun kembali periksa di rumah sakit. Para dokter mengabarkan kepadaku bahwa saat ini aku sudah tidak membutuhkan lagi obat-obatan kimia tersebut, dan kondisiku telah semakin membaik. Akupun menangis karena saking gembiranya mendengar hal ini. Dan dokter marah kepadaku karena aku telah mencukur rambutku dan ia mengingatkan aku bahwasanya aku harus kuat dan beriman kepada Allah serta yakin bahwasanya kesembuhan ada di tangan Allah.

Lalu aku kembali ke rumah dengan sangat gembira…dengan perasaan sangat penuh pengharapan…putriku Mayaa' tertawa karena kebahagiaan dan kegembiraanku. Ia berkata kepadaku di mobil, "Mama…dokter itu tidak ngerti apa-apa, Robku yang mengetahui segala-galanya". Aku berkata, "Maksudmu?". Ia berkata, "Aku mendengar papa berbicara dengan sahabatnya di HP, papa berkata padanya bahwasanya keuntungan toko bulan ini seluruhnya ia berikan kepada yayasan sosial panti asuhan agar Allah menyembuhkan uminya Mayaa". Akupun menangis mendengar tuturannya…karena keuntungan toko tidak kurang dari 200 ribu real (sekitar 500 juta rupiah), dan terkadang lebih dari itu.

Sekarang kondisiku –Alhamdulillah- terus membaik, pertama karena karunia Allah, kemudian karena kuatnya Mayaa putriku yang telah membantuku dalam perjuangan melawan penyakit kanker yang sangat buruk ini. Ia telah mengingatkan aku kepada Allah dan bahwasanya kesembuhan di tangan-Nya…sebagaimana aku tidak lupa dengan jasa suamiku yang mulia yang telah bersedekah secara diam-diam tanpa mengabariku yang merupakan sebab berkurangnya rasa sakit yang aku rasakan.

Aku berdoa kepada Allah agar menyegerakan kesembuhanku dan juga bagi setiap lelaki atau wanita yang terkena penyakit kanker. Sungguh kami menghadapi rasa sakit yang pedih yang merusak tubuh kami dan juga jiwa kami…akan tetapi rahmat Allah dan karuniaNya lebih besar dan lebih luas sebelum dan susudahnya"

(Diterjemahkan oleh Firanda Andirja, semoga Allah menyegerakan kesembuhan bagi ukhti 'Abiir)



Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 22-02-1433 H / 16 Januari 2011 M

www.firanda.com

Kisah Ashabul Ukhdud

Kamis, 18 Juli 2013

Ashabul ukhdud adalah kaum yang dilaknat oleh Allah. . Dengan api inilah mereka memaksa orang-orang yang beriman untuk kembali kepada agama mereka semula, agama yang menjadikan makhluk sebagai sesembahan selain Allah. Setiap orang yang beriman kepada Allah dan mengingkari peribadahan kepada selain-Nya, mereka lemparkan kedalam api, sebagaimana Allah kisahkan dalam ayat-Nya,

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” [Q.S. Al Buruj:4-9].

Tiba giliran seorang ibu yang sedang menggendong bayi mungil. Wanita itu dipaksa untuk memilih antara dua pilihan. Ia masuk kedalam api tersebut dalam keadaan beriman kepada Allah ataukah jiwanya selamat namun dia harus kembali kepada kekafiran. Demi melihat kobaran api yang menyala, timbul dari dalam dirinya keraguan dan rasa takut untuk tetap berada dalam keimanan. Ia tidak tega melihat keadaan anaknya yang dalam gendongannya. Apakah jiwa yang masih suci ini harus mati bersamanya. Allah pun memberikan kemampuan kepada bayi tersebut untuk berbicara. Bayi itupun berkata, ”wahai ibuku! Bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran”. Tatkala mendengar perkataan bayi tersebut, bulatlah tekadnya untuk masuk ke dalam kobaran api mempertahankan keimanannya.

Memang, telah menjadi ketetapan Allah, bahwa sebagian manusia akan menjadi musuh bagi sebagian lainnya. Tatkala ada yang membela kebenaran, ada pula orang yang menjadi pembela kebatilan. Demikian pula ketika Allah mengutus para Rasul dan para Nabi, dengan hikmah dan keadilan-Nya, Ia ciptakan musuh-musuh yang gigih menentang mereka. Ketetapan Allah ini akan berlaku pula kepada para pengikut mereka, supaya jelas siapakah yang jujur dan siapakah yang dusta dalam pengakuan keimanannya. Allah berfirman yang artinya, “Alif lam mim. Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan mengaku ‘kami beriman’ sedang mereka tidak diuji. Sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka sehingga Allah benar-benar mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah yang berdusta.” [Q.S. Al Ankabut:1-3].

Kisah kekejian yang luar biasa ini bermula dari seorang pemuda yang diutus oleh raja untuk belajar ilmu sihir kepada tukang sihir istana. Ia diharapkan akan dapat menggantikan tugas tukang sihir tersebut setelah kematiannya. Pemuda tersebut tinggal pada suatu kampung yang berbeda dengan tempat tukang sihir tersebut berada. Di tengah perjalanan antara kampung dan tempat tukang sihir berada, tinggallah seorang Rahib yang beriman kepada Allah. Ia hidup mengasingkan diri dari masyarakat yang telah rusak agamanya karena menjadikan raja mereka sebagai sesembahan.

Singkat kata setiap kali pemuda tersebut melewati tempat rahib ini, ia tertarik mendengar ajaran-ajaran yang dianut rahib tersebut. Mulailah ia singgah untuk menimba ilmu yang dibawa oleh sang Rahib. Tiap kali berangkat dan pulang dari belajar sihir, ia menyempatkan diri untuk belajar kepada rahib. Ia pun mempelajari dua ilmu yang tidak akan bersatu, ilmu sihir dan ilmu agama.

Suatu ketika, pemuda tersebut melihat binatang besar yang menghalangi perjalanan manusia. Maka timbullah keinginan dalam pikiran pemuda tersebut untuk menguji manakah ajaran yang lebih utama, ajaran rahib ataukah tukang sihir. Berdoalah ia kepada Allah, “Ya Allah, jika engkau lebih mencintai apa yang dibawa oleh rahib dari pada apa yang dibawa oleh tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini, supaya manusia bisa bebas dari gangguannya.” Ia pun melempar binatang tersebut dengan batu yang mengakibatkan binatang itu mati seketika. Yakinlah si pemuda tentang keutamaan dan kebenaran ajaran sang rahib.

Waktu terus berlalu, si pemuda menjadi terkenal sebagai orang yang mahir mengobati orang yang buta, sakit belang, dan penyakit lainnya. Suatu ketika datanglah seorang pejabat dekat raja. Dengan membawa hadiah yang banyak ia datang untuk minta disembuhkan dari kebutaan yang dideritanya. Pejabat itu mengatakan, “Hadiah-hadiah yang aku bawa ini kuberikan kepadamu jika engkau dapat menyembuhkanku.”Si Pemuda menjawab, “Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, Allahlah yang menyembuhkan, apabila engkau beriman kepada Allah aku akan berdoa kepada-Nya agar menyembuhkanmu.” Maka pejabat itu pun beriman kepada Allah, kemudian Allah menyembuhkan sakitnya.

Pulanglah sang pejabat kerumahnya dan kembali duduk bermajelis bersama raja. Demi melihat kesembuhan pejabat tersebut, heranlah raja. Ia bertanya, “Siapakah yang menyembuhkan penglihatanmu?” Sang Pejabat berkata, “Rabbku.” Mendengar jawaban tersebut murkalah sang raja, dengan marah ia mengatakan, “Apakah kamu mempunyai Rabb selain aku?” Sang pejabat menjawab, “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.” Seketika itu pula ia disiksa dan terus disiksa sampai akhirnya ia menunjukkan keberadaan si pemuda.

Dicarilah si pemuda tersebut, kemudian ditangkap dan dihadapkan kepada Raja. Raja mulai bertanya kepada si pemuda, ia tahu bahwa pemuda inilah orang yang ia utus untuk belajar kepada tukang sihir. Dengan nada lembut ia bertanya, “wahai anakku, sungguh sihirmu itu telah mencapai tingkatan untuk dapat menyembuhkan kebutaan, sakit belang dan lainnya.” Si pemuda menjawab, “Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, Allahlah yang menyembuhkan.” Maka pemuda inipun disiksa sebagaimana sang pejabat sampai akhirnya si pemuda menunjukkan keberadaan sang rahib.

Ditangkaplah sang rahib dan dipaksa untuk kembali kepada agama sang raja. Maka sang rahib ini menolak dan memilih tetap berada di atas agama Allah. Ia enggan untuk menjadikan makhluk sebagai tandingan bagi Allah. maka sang raja membunuh sang rahib yang beriman ini dengan cara yang keji. Dengan angkara murka sang raja menggergajinya sehingga terbelah menjadi dua bagian. Tidak berbeda pula nasib sang pejabat, ia pun dibunuh dengan digergaji menjadi dua bagian, semoga Allah membalasi keteguhan iman mereka dengan surga.

Adapun nasib si pemuda, berbeda dengan dua orang yang terdahulu. Sang raja menginginkan agar pemuda tersebut dibunuh dengan cara yang berbeda. Ia dibawa ke suatu gunung kemudian dilemparkan dari puncaknya. Akan tetapi, Allah menyelamatkannya dari percobaan pembunuhan ini. Usaha ini dilakukan beberapa kali dengan cara yang berbada. Setiap mereka ingin membunuhnya, si pemuda selalu berdoa kepada Allah, “Ya Allah selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Maka Allah pun menyelamatkannya sehingga terbebas dari makar pembunuhan itu dan kembali kepada raja dalam keadaan selamat. Raja pun merasa bingung mencari cara menghabisi si pemuda tersebut.

Dengan penuh pertimbangan, akhirnya si pemuda memberitahukan kepada raja cara membunuh dirinya, ia berkata kepada raja, “Engkau tidak akan bisa membunuhku sampai engkau melakukan apa yang aku perintahkan. Kumpulkan manusia dalam satu tempat yang luas, saliblah aku pada batang pohon, lalu ambillah anak panah dari tempat anak panahku, kemudian katakanlah ‘Dengan menyebut Nama Allah, Rabb anak ini’ dan panahlah aku dengannya.” Sang raja pun melakukan perintah si pemuda. Ia menginginkan untuk segera menghabisinya. Pemuda itu ibarat duri dalam daging, penghalang yang harus segera dimusnahkan. Raja tidak mengetahui rencana Allah yang Maha Mengetahui. Dikumpulkanlah manusia pada suatu tempat, ia ambil anak panah dari tempat anak panah si pemuda, kemudian ia panah si pemuda sembari mengatakan, “Dengan menyebut Nama Allah, Rabb anak ini.” Anak panah melesat tepat mengenai pelipis si pemuda. Dengan izin Allah matilah pemuda itu di tangan raja.

Namun tanpa diduga oleh raja, rakyat yang menyaksikan peristiwa ini pun serta merta beriman kepada Allah. Mereka mengatakan, “Kami beriman dengan Rabb anak ini, kami beriman dengan Rabb anak ini.”

Telah datang waktunya kebenaran menyusup ke dalam relung hati rakyat. Tatkala keimanan telah menancap kokoh dalam hati, ia laksana batu karang yang tidak hancur diterpa gelombang. Demi melihat peristiwa ini, murkalah sang raja. Ia perintahkan pengikutnya untuk membuat parit-parit di setiap ujung jalan. Kemudian dinyalakan api di dalamnya. Sang raja memerintahkan pengikutnya untuk membunuh siapa saja yang tetap berada dalam keimanan kepada Allah. Satu persatu mereka digiring dan dibawa ke parit tersebut, menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah.

Demikian sepenggal kisah dari orang-orang terdahulu yang beriman kepada Allah. Dalam kitab-Nya yang mulia, Allah banyak mengisahkan perjalanan hidup hamba-hamba-Nya. Sebagian mereka menentang, adapula yang tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Allah menjadikan kisah-kisah ini sebagai pelajaran bagi kita untuk senantiasa mengikuti kebenaran walaupun beresiko harus mendapatkan penentangan manusia. Allah berfirman, “Sungguh dalam kisah mereka ada pelajaran bagi orang-orang yang berakal, bukanlah (Al Qur’an ini) sebagai ucapan yang diada-adakanakan, tetapi ia membenarkan (kitab-kitab) yang terdahulu dan sebagai penjelas atas segala sesuatu petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.” [Q.S. Yusuf:111]. Allahu a’lam. [Hammam].



Maraji’: Shahih muslim
Tafsir AlQur’an Al ‘Adzim
Sumber: http://tashfiyah.net/2011/12/kisah-ashabul-ukhdud/

Boedi Oetomo Tangannya Freemason (Yahudi)

Rabu, 03 Juli 2013

Setiap 20 Mei pemerintah memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Peringatan ini mengacu pada organisasi Boedi Oetomo (BO) yang didirikan pada 20 Mei 1908. Anehnya, kedekatan BO dengan organisasi Freemason tak pernah diungkap sejarah. Ada apa?

Het Jong Javaasche Verbond Boedi Oetomo atau Ikatan Pemuda Jawa Boedi Oetomo didirikan di Gedung STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen), Batavia, pada 20 Mei 1908.

Tahun berdirinya BO sama dengan tahun munculnya Gerakan Turki Muda (Young Turk Moment). Gerakan Turki Muda (Young Turk Movement) yang dipimpin oleh Mustafa Kemal At-Taturk juga mengadakan revolusi kebangkitan nasional.

Gerakan ini berhasil menumbangkan kekhilafahan Islam, dan mengganti hukum Islam menjadi hukum sekular. Aktivis Turki Muda banyak didominasi oleh para sekularis. Bahkan, At-Taturk sendiri adalah anggota jaringan Freemason yang sangat anti dengan syariat Islam.

Mengenai Gerakan Revolusi Turki Muda, pendiri Boedi Oetomo yang juga anggota Theosofi, dr Soetomo mengatakan,”perkembangan yang terjadi di Turki adalah petunjuk jelas bahwa “cita-cita Pan-Islamisme” telah digantikan oleh nasionalisme.”Soetomo adalah tokoh Boedi Oetomo yang banyak melontarkan pelecehan terhadap Islam dan mengagumi gerakan kebangsaan yang terjadi di Turki.

Nama Boedi Oetomo diambil dari bahasa sansakerta, ”Bodhi” atau ”Buddhi” yang berarti keterbukaan jiwa, pikiran, kesadaran, akal, dan daya untuk membentuk dan menjunjung konsepsi ide-ide umum. Sedangkan Oetomo berasal dari kata ”Uttama” yang berarti tingkat kebajikan utama.

Jadi, BO bisa disebut sebagai organisasi yang mengedepankan keterbukaan akal sebagai tingkat kebajikan utama. Mereka menyebut ”budi” sebagai puncak kegiatan moral manusia dan mengendalikan akal dan watak seseorang.

Boedi Oetomo adalah organisasi yang kental dengan nilai-nilai kebatinan.Para aktivisnya mengaku ingin menyatukan antara kultur dan tradisi Jawa dengan pendidikan Barat. BO ingin memadukan antara modernisasi Barat dan mistis Timur.

Ki Wiropoestoko, anggota BO Surakarta mengatakan, “Berdirinya Boedi Oetomo semata-mata merupakan hasil elit Jawa yang telah memperoleh pendidikan barat.” Sementara sejarawan Robert van Niels, penulis bukunya Munculnya Elit Modern Indonesia menyebut BO sebagai organisasi yang mengikuti garis-garis barat. Ia juga menyebut BO dan Jong Java sebagai organisasi yang bersifat Theosofis dan agnostik.

Penggagas organisasi BO, dr Wahidin Soediro Hoesoedo adalah anggota Theosofi,sebuah perkumpulan kebatinan yang berlandaskan pada tradisi Kabbalah Yahudi yang didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky.

Selain Theosofi, para ketua dan aktivis BO juga masuk sebagai anggota Freemason. Anehnya, tentang kedekatan organisasi ini dengan kelompok Theosofi dan Freemason tak pernah diungkap dalam buku-buku sejarah di sekolah.

Penulis buku Api Sejarah, sejarawan Ahmad Mansur Suryangera menyebut BO sebagai organisasi yang lebih mencerminkan gerakan kejawen yang anti Islam, ketimbang organisasi yang mengusung nasionalisme.

Sejarawan yang banyak mengoreksi penyimpangan-penyimpangan sejarah di Indonesia ini juga menyebut BO sebagai organisasi yang bersifat kedaerahan. Tapi sayang, dalam Api Sejarah Mansur Suryanegara tak mengungkap hubungan antara BO dengan organisasi Freemason di Hindia Belanda. Padahal, dokumen-dokumen sejarah yang mengungkap soal ini begitu banyak.

Dr. Th Stevens penulis buku Vrijmetselarij en Samenlaving in Nederlands Indie en Indonesie 1764-1962 (Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962) menyebutkan bahwa Freemasonry memperoleh aktualitas yang besar dengan munculnya gerakan nasionalis modern di Jawa.

Kata pengantar buku ini menyebutkan dengan jelas, bahwa Freemason menjalin hubungan dengan satu organisasi politik Indonesia pertama ”Budi Utomo” (Lihat, hal.XVIII dan hal.331)

Raden Adipati Surjo sebagai anggota Freemason, berharap pemimpin muda dari gerakan nasional, seperti Boedi Oetomo dapat dicapai dengan asas-asas Masonik (doktrin-doktrin Freemason, pen). Tak heran, jika Freemason yang mempunyai hubungan erat dan BO, memiliki peran yang cukup signifikan dalam gerak nasionalisme di negeri ini.

Mereka menginginkan nasionalisme yang muncul adalah nasionalisme yang berlandaskan humanisme, suatu paham yang menjadi doktrin tertinggi Freemason.Paham humanisme menempatkan manusia sebagai makhluk ”superior” yang berhak dan bebas menentukan kehendak, termasuk membuat aturan hukum sendiri.

Freemason atau dalam bahasa Belanda disebut Vrijmetselarij, pada masa lalu dikenal oleh masyarakat Jawa dengan sebutan ”Golongan Kemasonan”. Para Yahudi Belanda yang aktif dalam organisasi ini begitu gencar mempropagandakan doktrin-doktrin Freemason terhadap elit-elit di Jawa, khususnya kalangan kraton.

Buku Gedenkboek van de Vrijmetselaren in Nederlandsche Oost Indie 1767-1917 (Buku Kenang-Kenangan Freemasonry di Hindia Belanda 1767-1917) yang diterbitkan oleh tiga loge besar; Loge de Ster in het Oosten (Batavia), Loge La Constante et Fidale (Semarang), dan Loge de Vriendschap (Surabaya) memuat tulisan yang mengajak masyarakat Jawa memahami hakekat organisasi Freemason atau Kemasonan.

Bahkan, pemimpin tertinggi Freemason di Hindia Belanda pada 1914-1917, Andre de La Porte, membuat sebuah artikel berjudul ”De Javaasche Beweging in het Teeken van de Vrijmetselarij” (Kebangkitan Jawa dalam Gerak Freemason).

Kedekatan BO dengan Freemason terlihat pada masa-masa awal BO didirikan. Kongres pertama BO yang berlangsung pada 3-4 Oktober 1908 di Jogjakarta awalnya ingin dilaksanakan di Loge milik Freemason.

Namun, karena loge tersebut telah lebih dulu dipakai untuk acara pameran lukisan, kongres BO yang rencananya diadakan di loge tersebut urung dilaksanakan. ”Adapoen roemah jang patut akan tempat kongres itu sebetoelnya logegebouw (bangunan loge Freemasonry, pen) orang Banjak di Djokja menamakan dia “roemah setan”, akan tetapi sajang pada waktu itoe roemah soedah diizinkan kepada seorang toean, akan diadakan tentoonstelling (pameran) gambar-gambar…” demikian seperti dikutip dari buku Pitut Soeharto dan Drs A Zainoel Ihsan, ”Cahaya Di Kegelapan: Capita Selecta Kedua Boedi Oetomo dan Sarekat Islam.”

Kedekatan BO dengan organisasi Freemason dan Theosofi juga bisa dilihat setahun setelah berdirinya organisasi tersebut. Buku Soembangsih Gedenkboek Boedi Oetomo 1908-1918 yang diterbitkan di Amsterdam, Belanda, untuk mengenang 10 tahun berdirinya BO, memuat laporan bahwa pada 16 Januari 1909, di Loge de Ster in het Oosten (Loji Bintang Timur), Batavia, ratusan anggota BO berkumpul untuk mendengarkan pidato umum dari Dirk van Hinloopen Labberton, orang Belanda yang disebut oleh aktivis BO sebagai ”Bapak Kebatinan” yang kemudian menjadi Ketua Nederlandsche Indische Theosofische Vereeniging (Theosofi Cabang Hindia Belanda).

Dalam pidato berjudul ”Theosofische in Verband met Boedi Oetomo” (Theosofi dalam Kaitannya dengan Boedi Oetomo), Labberton bicara tentang masalah agama, tujuan Theosofi, dan hubungannya dengan hari depan bangsa Jawa.

Labberton mampu membuat para anggota BO untuk tertarik masuk sebagai anggota organisasi kebatinan Yahudi tersebut. Labberton pada waktu itu adalah anggota Komisi Bacaan Rakyat (Volks Bibliotheek) yang mempengaruhi berdirnya BO. Labberton menyebut berdirinya BO sebagai ”kesadaran moral”.

Mengapa acara ceramah umum (openbare) tersebut diadakan di loge Freemason? Karena antara Freemason dan Theosofi tak jauh beda. Pada masa lalu, anggota Freemason juga aktif di Theosofi, begitupun sebaliknya. Yang cukup mengejutkan, seolah sudah ada yang merencanakan, lokasi tempat diadakannya ceramah umum Labberton yang dulu bernama Vrijmetselarijweg (Jalan Freemasonry), saat ini berganti nama menjadi Jalan Budi Utomo.

Selain Labberton, tokoh lain yang dekat dengan Boedi Oetomo adalah Godard Arend Hazeau, Penasihat Urusan Pribumi Pemerintah Hindia Belanda. Hazeau datang ke Indonesia dengan bekerja sebagai guru Willem III Grammar School dan asisten Snouck Hurgronye. Hal yang menjadi perhatian Hazeau adalah pendidikan yang netral atau bahkan bercorak Kristen untuk para murid Islam.

Selain itu, Hazeau juga banyak memberikan masukan terhadap pemerintah kolonial terkait bagaimana pemerintah bersikap terhadap organisasi pergerakan nasional yang bercorak Islam, seperti Sarekat Islam, dan organisasi Islam lainnya yang dipandang fanatik dan ekstrem. Sikap berbeda ditunjukkan Hazeau terhadap Boedi Oetomo, yang banyak mendapat perhatian lebih, karena kesamaannya dalam memandang pergerakan Islam.

Bukti lain mengenai kedekatan BO dengan Freemason bisa dilihat dari kiprah Paku Alam V, yang merupakan anggota Freemason, yang banyak membantu terselenggaranya kongres Boedi Oetomo di Surakarta. Kongres yang pernah diadakan di loge milik Freemason banyak dihadiri oleh para aktivis kebangsaan yang juga anggota Freemason.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Abdurachman Surjomihadrjo, dalam Kata Pengantar buku ”Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918”, karya peneliti Jepang, Akira Nagazumi, mengatakan, “Paku Alam memberikan pengaruh pada terselenggaranya kongres-kongres Boedi Oetomo, khususnya mereka yang ada hubungannya dengan gerakan Mason (Freemasonry).”

Penjelasan serupa juga ditulis Abdurrachman Surjomihardjo dalam buku ”Budi Utomo Cabang Betawi” yang menyebut Paku Alam VII mengizinkan Loge Mataram dijadikan tempat kongres BO kedua.

Fakta sejarah lainnya mengenai kedekatan BO dengan Freemason dan Theosofi adalah pertemuan akbar yang dilakukan dalam rangka memperingati 10 tahun berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1918. Acara peringatan tersebut diadakan di Belanda, di sebuah loge milik Theosofi.

Mereka yang berkumpul dalam perayaan tersebut selain para aktivis Freemason Belanda, juga dihadiri oleh tokoh-tokoh nasionalis-Jawa seperti Ki Hadjar Dewantara dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Surat Kabar Oedaya pada 1923 memuat foto para aktifis BO dan Theosofi dengan tulisan ”Masyarakat Indonesia Memperingati 10 Tahun Boedi Oetomo di rumah (loge, red) Theosofi, Mei 1918 di Negeri Belanda.”

Kedekatan BO dengan Freemason juga bisa dilihat dalam paper berjudul The Freemason in Boedi Oetomo yang ditulis oleh C.G van Wering pada 1979. ven Wering menulis tentang elit power atau intelektual dari kalangan priayai Jawa, yang kebanyakan aktifis BO, sekaligus anggota Freemason. Tulisan van Wering ini dikutip dalam buku buku biografi Dr Radjiman Wediodiningrat berjudul ”DR. K.R.T Radjiman Wediodiningrat Perjalanan Seorang Putra Bangsa 1879-1952.”

Para Ketua BO Adalah Anggota Freemason

Ketua BO yang sangat kental dengan pemikiran Freemason dan Theosofi adalah Radjiman Wediodiningrat. Radjiman menjadi ketua BO pada periode 1914-1915. Ia masuk menjadi anggota Freemason pada 1913, selain juga aktif dalam perkumpulan Theosofi.

Radjiman adalah orang pribumi yang mendapat kehormatan dari Freemason Hindia Belanda dengan dimuatnya artikel karyanya berjudul ”Een Broderketen Volks (Persaudaraan Rakyat)” dalam buku ”Kenang-Kenangan Freemason di Hindia Belanda 1767-1917”.

Tentu, jika bukan bagian dari orang-orang penting dalam jaringan Freemasonry, tulisan Radjiman tak mungkin dimasukkan dalam buku yang menjadi bukti sejarah keberadaan para Mason di Hindia Belanda ini.

Radjiman adalah seorang Mason yang menjadi salah satu the founding fathers negeri ini, tokoh yang pernah memimpin jalannya sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Dalam catatan sejarah, persidangan yang dipimpin Radjiman ini tercatat sebagai awal dari lahirnya dasar negara Indonesia, Pancasila, setelah sebelumnya masing-masing kelompok berdebat dan mengajukan usulan soal asas negara. Tokoh-tokoh Islam seperti M Natsir mengajukan Islam sebagai dasar negara, sedangkan tokoh-tokoh nasionalis-sekular mengajukan ideologi Pancasila.

Para ketua BO lainnya juga adalah anggota Freemasonry, seperti R.A. Tirtokoesoemo, ketua BO pertama (1908-1911) yang juga pernah menjadi bupati Karang Anyar, Pangeran Ario Notodirodjo (Ketua BO kedua tahun 1911-1914), dan R.M.A Soerjosoeparto alias Mangkunegara VII (Ketua BO keempat tahun 1915-1916). RM Tirtokoesoemo dan Pengeran Ario Notodirodjo adalah anggota Freemasonry Loge Mataram Yogyakarta.Ketua BO selanjutnya, meski tak menjadi anggota Freemason, tetapi menjadi anggota Theosofi, seperti M Ng Dwijo Sewojo (1916), dan R.M.A Woerjaningrat (1916-1921).

Dalam perjalanan sejarahnya kemudian, BO makin terlihat tidak berpihak kepada umat Islam. Karena itu, masa-masa yang genting dari organisasi ini adalah ketika berhadapan dengan umat Islam yang merasa keberadaan dengan sikap BO yang selalu meminggirkan aspirasi umat Islam.Karena itu, di beberapa daerah yang menjadi basis umat Islam seperti Batavia, Boedi Oetomo sulit untuk mendapatkan pengaruh.

Upaya untuk mengajak BO agar berpihak pada umat Islam bukan tak pernah dilakukan.Mohammad Tohir, seorang anggota organisasi ini bahkan pernah mengusulkan kepada BO untuk membantu masjid-masjid agar bisa meraih simpati umat Islam. Namun, usulan ini ditolak dan organisasi ini tetap pada pendiriannya yang “netral agama”. Usaha untuk menarik simpati umat Islam ini ditentang oleh Radjiman Wediodiningrat.

Tokoh BO lainnya, Tjipto Mangoenkoesoemo, juga begitu sinis dalam memandang Pan-Islamisme. Pada tahun 1928, Tjipto berkirim surat kepada Soekarno yang isinya mengingatkan kaum muda untuk berhati-hati akan bahaya Pan-Islamisme yang menjadi agenda tersembunyi H.Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto. Tjipto khawatir, para aktifis Islam yang disebut akan mengusung Pan-Islamisme itu bisa menguasai Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Jika mereka berhasil masuk ke dalam PPKI, Tjipto mengatakan, cita-cita gerakan kebangsaan akan hancur.

Menggugat Sejarah
Sejarah memang ditentukan oleh mereka yang berkuasa. Jika pada masa lalu, kelompok nasionalis-sekular yang berada dalam pengaruh Freemason dan Theosofi, didukung oleh elit-elit kolonial, berhasil menentukan siapa aktor dan tokoh dalam panggung sejarah di negeri ini, maka sudah saatnya ketika umat Islam memiliki akses ke jantung kekuasaan, mempunyai ikhtiar untuk meluruskan sejarah yang penuh selubung dan distorsi ini. Fakta sejarah harus diungkap dengan tinta emas berlapis kejujuran, bukan dengan tinta hitam yang sarat kepentingan.

Jika BO didirikan pada 1908, maka jauh sebelum itu, pada 1905 sudah berdiri Sarekat Dagang Islam (SDI) di Surakarta yang didirikan oleh Haji Samanhoedi. SDI jelas mempunyai arah perjuangan memajukan ekonomi pribumi dan melawan hegemoni asing. SDI bercorak Islam dan nasionalis, tidak tersekat-sekat dalam kedaerahan yang sempit. SDI yang kemudian pada 10 September 1912 menjadi Sarekat Islam (SI), meletakkan dasar perjuangannya atas tiga prinsip dasar, yaitu: Pertama, asas agama Islam sebagai dasar perjuangan. Kedua, asas kerakyatan sebagai dasar himpunan organisasi. Ketiga, asas sosial ekonomi sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang umumnya berada dalam taraf kemiskinan dan kemelaratan.

Mengenai alasan menjadikan Islam sebagai asas gerakan, baik H. Samanhoedi ataupun para tokoh Sarekat Islam lainnya, beralasan agar ruh Islam menyatu dalam setiap langkah pergerakan. Selain itu, hal ini juga untuk menunjukan sikap kepada Belanda, yang berupaya menjauhkan Islam dari politik. (Lihat: M.A. Gani, Cita Dasar dan Pola Perjuangan Syarikat Islam, hal. 15)

SDI yang kemudian menjadi SI lebih jelas mengedepankan kepentingan Islam-nasional-pribumi dan tidak dibentuk oleh kepentingan kolonial. Bahkan, SI jelas-jelas menolak segala pelecehan terhadap Islam yang ketika itu marak dilakukan oleh kelompok Boedi Oetomo. Karena itu, menjadikan BO sebagai organisasi yang melandasi kebangkitan nasional adalah sebuah distorsi sejarah, bahkan bisa disebut sebagai “de-islamisasi” fakta sejarah.

Usaha untuk menjadikan sejarah berdirinya SDI sebagai Harkitnas pernah diusulkan oleh umat Islam. Pada Kongres Mubaligh Islam Indonesia di Medan tahun 1956, umat Islam mengusulkan kepada pemerintah untuk menjadikan tanggal berdirinya SDI sebagai Harkitnas berdasarkan karakter dan arah perjuangan SDI. Sayang, usulan itu sampai saat ini belum jadi kenyataan.

Kritik terhadap dijadikannya BO sebagai landasan kebangkitan nasional tak hanya datang dari umat Islam. Peneliti Robert van Niels juga mengatakan, “Tanggal berdirinya Budi utomo sering disebut sebagai Hari Pergerakan Nasional atau Kebangkitan Nasional. Keduanya keliru, karena Budi Utomo hanya memajukan satu kelompok saja. Sedangkan kebangkitan Indonesia sudah dari dulu terjadi…Orang-orang Budi Utomo sangat erat dengan cara berpikir barat.Bagi dunia luar, organisasi Budi Utomo menunjukan wajah barat.” (Robert van Niels, Munculnya Elit Modern Indonesia, hal. 82-83).

Tulisan ini adalah ikhtiar untuk mengungkap sejarah dengan fakta-fakta yang terang dan apa adanya. Fakta-fakta sejarah ini, mungkin pada masa lalu tertutup selubung kekuasaan yang mempunyai kepentingan untuk memutus mata rantai peran umat Islam dalam pentas nasional di negeri ini.

Upaya memarginalkan peran umat Islam dalam kiprah pergerakan nasional berujung pada “de-islamisasi fakta sejarah”. Ironisnya, sampai hari ini umat Islam masih memahami sejarah dalam kaca mata buram penguasa!

*Penulis buku “Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara” dan “Gerakan Theosofi di Indonesia”, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

Oleh Artawijaya*
Taken from eramuslim.com



Bisnis Gelap Bank Vatikan , Bank yang Sangat Rahasia, Dekat dengan Jaringan Mafia (2)

Paus Vatican Juga Manusia (2)
Bank Vatikan atau Instituto per le Opere di Religione (IOR) merupakan institusi keuangan yang memiliki kekayaan dan pengaruh yang sangat besar, tidak saja di dalam lingkungan kepausan tetapi juga merambah ke seluruh dunia. Namun yang tidak banyak diduga, Bank Vatikan ini ternyata memiliki jaringan kerjasama dengan mafia narkotika, P2, Freemason, mafia uang palsu, dan sebagainya. Yang terakhir ini dipaparkan secara gamblang oleh David Yallop di dalam karyanya “In God’s Name: an Investigation Into the Murder of Pope John Paul I” (1984).

Dalam bukunya, Yallop memaparkan secara berani masa-masa awal Bank Vatikan di bawah kepemimpinan Paus Pius XI. Paus ini merupakan paus pertama yang melakukan pengubahan dengan tegas sikap Gereja Katolik Roma terhadap riba (Usury). Paus Pius XI memperlunak sikap Gereja Katolik Roma yang telah ratusan tahun mengharamkan setiap jenis dan tingkatan riba, sehingga bersikap longgar terhadapnya.

Dalam pengertian sederhana, riba merupakan semua uang yang dihasilkan atau diperoleh dari usaha meminjamkan uang dengan menarik bunga atas pinjaman pokok, yang disebabkan faktor jangka waktu peminjaman. Sejak dulu, Gereja Katolik Roma bersikap keras terhadap hal ini dan menentangnya dengan alasan utama bahwa hal tersebut bertentangan dengan Hukum Tuhan, sama persis dengan ajaran Islam.

Berbagai konsili berkali-kali diselenggarakan dengan menekankan larangan atau pantangan ini. Antara lain Konsili Arles di tahun 314 Masehi, Konsili Nice 324M, Konsili Chartago 345M, Aix en Provence 789, dan Lateran 1159. Bahkan pada setelah Konsili Lateran, sikap keras terhadap riba ini bertambah-tambah dengan pemberlakuan hukum pengucilan (isolasi) terhadap para pemungut riba.

Sikap keras ini oleh Paus Pius XI diubah menjadi lebih lunak. Pengertian riba yang semula begitu lugas dan tegas oleh Paus Pius XI hanya dibatasi pada pemungutan bunga yang dianggap terlalu tinggi, sedangkan pemungutan bunga yang tidak terlalu tinggi dianggap bisa diterima.

Perubahan sikap ini, yang dilakukan Paus Pius XI, memiliki latar belakang. Yaitu membuka jalan bagi Bernardino Nogara, seorang jenius kelahiran Bellano, Italia, tahun 1870. Bernardino merupakan adik kandung dari Mgr. Nogara, orang kepercayaan Paus, untuk memimpin sebuah lembaga baru yang akan dibentuk.

Indra Adil, penulis novel konspirasi “The Lady Di Conspiracy: Misteri di Balik Tragedi Pont de L’Alma” (Alkautsar: 2007) menyinggung sedikit tentang hal ini. “Lembaga baru yang dibentuk Paus Pius XI ini memiliki tugas mengelola semua bisnis Vatikan, yang pengelolaannya berjalan tanpa campur tangan Paus. Ini yang diminta Nogara jika Paus menginginkan dirinya memimpin lembaga baru tersebut. Nogara meminta Paus memberikan kebebasan penuh kepadanya untuk menginvestasikan dana milik Vatikan ke dalam bidang apa pun di dunia, tanpa melewati pertimbangan-pertimbangan religius dan dokrinal apa pun, ” demikian Indra (hal. 357).

Entah mengapa, Paus Pius XI begitu saja menyetujui permintaan Nogara dan membiarkan Nogara mengelola dana milik Vatikan di dalam bisnis spekulasi uang, valuta asing, dan jual beli saham, termasuk saham-saham dari perusahaan yang produknya bertentangan dengan doktrin Gereja seperti perusahaan senjata dan juga alat-alat kontrasepsi, sesuatu yang selalu dikutuk Gereja di dalam kotbah-kotbah para imam.

Jaringan Mussolini dan Hitler
Yang tidak diketahui banyak kalangan, termasuk umat Katholik Roma sendiri, modal dasar bagi lembaga baru Vatikan ini ternyata dana dari kantong Benito Mussolini, pemimpin fasis Italia yang bersekutu dengan Hitler dalam Perang Dunia II.

Mussolini menyerahkan uang senilai 750 juta lira plus 5% dari nominal satu miliar lira, yang dalam kurs tahun 1929 bernilai sama dengan 81 juta US dollar. Inilah modal awal dari Bank Vatican yang disebut juga sebagai Vatican Incorporated.

Kerjasama antara Paus dengan Mussolini ini melewati seorang perantara yang juga berperan sebagai ahli hukum bernama Francesco Pacelli. Lewat orang ini pula, hubungan antara Paus dengan Mussolini berkembang hingga ke sosok Hitler.

Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Eugenio Pacelli, yang juga saudara lelaki dari Francesco, memegang peranan penting dalam perjanjian dengan Hitler yang hingga tahun 1943 saja telah mampu menambah laba untuk Vatikan sebesar 100 dollar AS lagi. Kardinal Pacelli sendiri kelak akan menjabat sebagai Paus Pius XII yang juga dikenal dalam sejarah Gereja sebagai Paus yang pro Nazi.

Dalam Perang Dunia II, Paus Pacelli atau Paus Pius XII mengalami tekanan dari Sekutu yang dikuasai lobi Yahudi untuk memutuskan hubungan dan mengucilkan dengan Hitler. Namun Paus Pius XII tetap menolaknya.

Sikap Paus Pius XII bertolak belakang dengan Paus John XXIII, Angelo Roncalli, yang pro Yahudi dan anti Hitler. Bahkan di masa John XXIII-lah para pejabat Vatikan diperbolehkan menjadi anggota Freemasonry. Sesuatu yang dulunya dilarang keras.

Anehnya, semasa dengan Paus John XXIII, Grandmaster Biarawan Sion bernama Plantard juga memakai gelar John XXIII. Keduanya juga secara aneh meninggal bersamaan tahun pada 1963. Dan para cendekiawan pengkaji Injil Gnostik percaya bahwa Paus John XXIII adalah anggota dari Biarawan Sion. (bersambung/Rizki Ridyasmara)

Taken from eramuslim.com
Redaksi – Rabu, 24 Sya'ban 1434 H / 3 Juli 2013 10:50 WIB





Paus (Vatican) Juga Manusia (1)

Dalam “bungkus” resmi, Paus merupakan pimpinan tertinggi sebuah institusi terbesar dan paling berkuasa di dunia yang bernama Tahta Suci Vatikan. Paus adalah orang suci dan disucikan, bahkan dia kerap disapa dengan “Bapa Suci”. Tiap perkataan yang keluar dari bibirnya menjadi titah bagi umat Katolik sedunia.

Namun tahukah Anda bahwa Paus adalah ternyata juga manusia biasa yang kerap melakukan salah. Ironisnya, kesalahan itu banyak pula yang dilakukannya dengan sadar dan disengaja. Tulisan ini berupaya memotret sosok Paus sebagai manusia apa adanya, yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan yang kadang cenderung kepada kebaikan dan terkadang meluncur jatuh kepada keburukan.

Berbagai sikap dan tindakan Paus yang akan dipaparkan di dalam tulisan bersambung ini meliputi kontroversi hidup selibat yang ternyata tidak semua Paus dan Orang Suci (Santo atau Santa) mengikutinya, ada pula kasus pandangan politik para Paus yang tidak satu, karena ada Paus yang mendukung Zionis-Israel namun ada pula yang pro Nazi-Hitler.

Selain itu ada pula Paus yang mengutamakan prinsip bisnis material dunia dibanding mengutamakan norma-norma moralitas dan kemanusiaan. Bahkan menggiring Vatikan untuk terlibat dalam bisnis senjata dan alat kontrasepsi, sesuatu yang selalu ditentang Vatikan di dalam kotbah-kotbahnya.

Dogma Hidup Selibat
Dogma hidup selibat atau berpantang menikah bagi seorang Paus—dan juga bagi para Biarawati dan Biarawan atau Pendeta Katolik—sudah menjadi tradisi yang berjalan ratusan bahkan ribuan tahun. Namun ternyata, dogma yang dikatakan mengikuti “jalan hidup” Yesus yang mereka yakini tidak pernah menikah dalam hidupnya itu, sesungguhnya tidak berasal dari awal Katolikisme itu sendiri.

Santo Petrus sebagai peletak batu Tahta Suci Vatikan pertama, sehingga namanya diabadikan dalam nama Basilika Santo Petrus, ternyata tidak menjalankan hidup selibat. Santo Petrus menikah dan memiliki anak keturunan. Injil-Injil Kanonik seperti Injil Markus, Matius, dan Lukas menyebutkan fakta bahwa Paus pertama ini memiliki seorang isteri ketika Yesus menemuinya.

Nigel Cawthorne dalam “Sex Lives of the Popes “(London, 2004) yang telah diindonesiakan menjadi “Rahasia Kehidupan Seks Para Paus’”(Alas, 2007), menulis bahwa Santo Paulus di dalam surat pertamanya kepada orang-orang Korintus menceritakan bahwa Petrus membawa serta isteri dan keluarganya dalam perjalanan-perjalanannya selama masa kerasulan. Jasad Santa Petronilia yang dikuburkan di Roma telah lama dimuliakan sebagai putri dari Santo Petrus.

Para sejarawan Barat sendiri masih silang pendapat soal apakah Yesus sungguh-sungguh hidup selibat ataukah telah melakukan pernikahan. Dalam Injil Gnostik macam Injil Thomas yang oleh Vatikan dimasukkan dalam kategori Injil Apokrif (Injil terlarang), disebutkan bahwa Yesus telah melangsungkan pernikahan di Qana, Lebanon. Pandangan Injil Gnostik ini selaras dengan Hukum Mishnais kaum Yahudi yang mengatakan, “Seorang lelaki yang tidak menikah tidak akan bisa menjadi Guru. ”

Dalam pandangan kelompok ini, adalah mustahil Yesus diterima menjadi seorang Guru dan Raja kaum Yahudi jika ia sendiri tidak menikah. Bahkan Yesus tidak mungkin bisa mengunjungi tanah suci dan berkotbah di sana jika ia belum menikah.

Bagi penulis “The Holy Blood Holy Grail” (Henry Lincoln dkk, 1982) disebutkan bahwa Yesus menikahi Maria Magdalena di Desa Qana, Lebanon. Bahkan Barbara Thieling dalam “Yesus The Man” menuturkan dengan berani bahwa pasangan Yesus dan Maria Magdalena memiliki anak, dua anak lelaki dan satu perempuan.

Pada tahun 44 M, lanjut Thieling, Yesus bercerai dengan Maria Magdalena dan menikahi Lydia, uskup perempuan dari para ‘perawan’ Thyiatira.

Namun yang lebih mengagetkan adalah apa yang termaktub di dalam Injil Thomas, salah satu Injil Gnostik, bahwa Yesus selain menikahi Maria Magdalena ternyata juga mengawini Salome “Sang Pemikat”.

Santo Paulus juga bukan bujangan. “Orang yang disucikan” ini berperan sangat besar dalam merancang dan membentuk dogma seksualitas Vatikan. Namun Cawthorne menulis, “…dia adalah seorang duda yang lama menderita akibat pernikahannya yang tidak membahagiakan. ”

Cawthorne mengutip surat pertama Santo Paulus kepada orang-orang Korintus yang berbunyi: “Apakah aku tidak punya hak untuk memiliki isteri beragama Kristen seperti para rasul yang lain?”

Paulus juga mengatakan, “Lebih baik menikah dari pada terbakar. ” Istilah ‘terbakar’ dianggap memiliki makna “terbakar nafsu”.

Dogma selibat bagi para Biarawati pun sesungguhnya tidak murni berasal dari Kekristenan awal, melainkan berasal dari ritual paganisme Roma yang diistilahkan dengan nama “Para Perawan Vesta” yang terdiri dari para pendeta perempuan Dewi Vesta yang salah satu tugasnya memelihara nyala api Vesta dengan menjaga keperawanannya.

“Hanya saja, para perawan Dewi Vesta ini pun jarang yang mampu menjaga kesuciannya. Banyak dari mereka yang dipenjarakan karena tidak mampu mempertahankan keperawanannya, ” tulis Cawthorne.

Dogma selibat yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan ini menimbulkan aib dalam perjalanan Gereja sejak masa awal. Paus Damasus I (366-384) merupakan salah satu Paus yang oleh Sekretarisnya sendiri, Santo Jerome, dituding sebagai Paus yang rendah moralitasnya. “Perawan Kristen berjatuhan setiap hari, ” ujar Santo Jerome.

Damasus akhirnya diseret oleh Dewan Gereja yang terdiri dari 44 Uskup dan dikenai tuduhan telah melakukan perzinahan. Walau demikian, ketika meninggal, Paus Damasus I diangkat sebagai ‘Santo’ atau Orang Suci.

Paus Clemens V (1305-1314) merupakan salah seorang Paus yang terkenal dalam sejarah Eropa. Dia-lah yang membantu Raja Perancis, King Philip Le Bel, dalam menumpas Ksatria Templar di tahun 1307. Dalam menumpas Templar, Paus Clemens menyatakan bahwa alasan penumpasan itu dikarenakan Templar telah banyak melakukan ‘Heresy’ atau Bidah terhadap Gereja.

Namun di sisi lain, Paus Clemens V ternyata oleh para sejarawan Barat juga dianggap sebagai orang yang suka berzina dan memiliki banyak gundik. Salah satu gundiknya yang terkenal bernama Countess Perigord, seorang perempuan cantik putri dari Earl Foix. Konon, siapa saja yang mencari berkah sang Paus harus menaruh surat permohonannya di dada putih sutera Countess Perigord.

Tentang Clemens, Catholic Encyclopaedia bahkan menulis, “Seorang pecinta hiburan, pecinta perjamuan yang mewah, di mana para perempuan amat bebas bergabung. ” Di masa Clemens-lah, institusi Gereja dibuat sedemikian kotor sehingga kecabulan terlihat dengan kasar dan ada di mana-mana.

Sejarawan Joseph McCabe bahkan menemukan adanya bukti jual-beli rumah bordil antara seorang pejabat kepausan dengan seorang janda dokter di mana dalam kertas pembelian itu tertulis, “Atas nama Tuhan Kita Yesus Kristus. ” (Cawthorme, hal. 126).

Dogma hidup selibat ternyata banyak dirusak oleh Paus dan Para Pendetanya sendiri. Para sejarawan Barat dengan teliti dan berani, menyingkap banyak ketidak-senonohan yang terjadi di Gereja pada masa-masa awal kekristenan hingga saat kini yang melibatkan Paus sendiri.

Sejumlah kasus yang melanda gereja, seperti paedofilia, perzinahan, dan sodomi, yang mencuat beberapa tahun lalu di beberapa negara sesungguhnya bukan hal yang baru. Karena di masa-masa dahulu yang terjadi bahkan jauh lebih menyeramkan ketimbang sekarang.

Dalam tulisan selanjutnya akan dikisahkan tentang sikap Paus Pius XI yang menjalin persekutuan dengan Mussolini dan Hitler dalam mengelola Bank Vatikan yang merupakan cikal bakal dari Vatikan Incorporated, salah satu institusi terkaya dan paling berpengaruh di dunia. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

Taken from eramuslim.com
Redaksi – Selasa, 23 Sya'ban 1434 H / 2 Juli 2013 09:46 WIB





Kisah-Kisah Bohong untuk berdakwah

Minggu, 02 Juni 2013

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Ustadz, seringkali ana mendapatkan email yg berisikan suatu kisah/cerita yg dimaksudkan agar kita mengambil hikmah didalamnya ataupun dimaksudkan sbg dakwah. 

Yg ingin ana tanyakan adalah bagaimana hukum kisah/cerita hikmah tsb jika:
1. Kisah/cerita tsb merupakan kisah nyata.
2. Kisah/certia tsb merupakan karangan saja.
3. Kisah tsb merupakan kisah nyata namun berasal dari sumber non-muslim yg kemudian diubah redaksinya menjadi kisah yg "islami".

Jazakallahu khairan
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu, wa iyyakum.

Sebelum menjawab pertanyaan antum, ana sebutkan beberapa perkara sebagai mukaddimah:
1. Kisah atau cerita asal hukumnya diperbolehkan jika kisah itu benar, dalil dari pernyataan ini adalah beberapa ayat suci yang ada di dalam Al Quran Al Karim yang menunjukkan akan kebolehan bercerita, dari ayat-ayat yang menunjukkan akan hal tersebut misalnya:

Artinya: "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS. 12:111)

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka; tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. 2:62)

Artinya: "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (QS. 7:176)

Artinya: "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (QS. 12:3)." (QS. 12:7)

Artinya: "Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan kemalu-maluan, ia berkata:"Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami".Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya).Syu'aib berkata:"Janganlah kamu takut.Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". (QS. 28:25)

Dan kalau kita perhatikan Al Quran Al Karim maka akan kita dapatkan penuh dengan cerita-cerita umat-umat terdahulu, semenjak Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad –'alaihimash shalatu wassalam-, agar kaum muslimin bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Wallahu a'lam

2. Cerita-cerita yang ada di dalam Al Quran Al Karim, hadits-hadits yang shahih, cerita-cerita para shahabat –radhiyallahu 'anhum-, para tabi'in, para ulama setelahnya –rahimahumullahu- dengan sanad yang benar maka sudah mencukupi untuk dijadikan sebagai bahan renungan, dakwah, nasehat dan sebagainya yang bermanfa'at bagi umat manusia.

3. Berbohong adalah dosa besar sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama yang mengarang kitab tentang dosa-dosa besar, diantaranya Imam Adz Dzahabi dan yang lainnya –rahimahumullahu-, karena dosa berbohong di ancam masuk neraka. Hadits-hadits yang berkenaan dengan dosa berbohong:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ ، حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا. متفق عليه

Artinya: "Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada surga, sesungguhnya seseorang benar-benar berkata jujur sehingga ia menjadi shiddiq (orang yang terpercaya), dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka dan sungguh seseorang benar-benar berdusta sehingga ditulis di sisi Allah sebagai tukang dusta." Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim 

مِنْ أَفْرَى الْفِرَى أَنْ يُرِىَ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَ. رواه البخاري

Artinya: "Termasuk dari dusta yang paling besar adalah memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh kedua matanya." Hadits riwayat Imam Bukhari 

فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِى أَحَدَ شِقَّىْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ - قَالَ وَرُبَّمَا قَالَ أَبُو رَجَاءٍ فَيَشُقُّ - قَالَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الْجَانِبِ الآخَرِ ، فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ الأَوَّلِ ، فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الْجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الْجَانِبُ كَمَا كَانَ ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُولَى . قَالَ قُلْتُ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ... وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ...رواه البخاري

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ. رواه مسلم

Artinya: "Cukuplah seorang manusia dikatakan telah berdusta jika ia mengatakan setiap sesuatu yang ia dengar." Hadits riwayat Imam Muslim

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ، وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ، وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلْقُهُ. رواه أبو داود و الطبراني في المعجم الكبير و حسنه الألباني في صحيح الجامع: 1465 

Artinya: "Aku penjamin sebuah rumah di kebun surga bagi siapa yang meninggalkan pertikaian meskipun ia benar, dan penjamin sebuah rumah di tengah-tengah surga bagi siapa yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, dan penjamin sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi siapa yang baik akhlaqnya." Hadits riwayat Imam Abu Daud, Ath Thabarani di dalam Kitab Al Mu'jamul Kabir dan dihasankan oleh Imam Al Albani di dalam kitab shahihul Jami':1465.

4. Petunjuk terbaik adalah petunjuknya Nabi Muhammad –shallallahu 'alaihi wasallam-, termasuk di dalamnya petunjuk untuk berdakwah, karena berdakwah adalah ibadah maka tidak ada contoh yang terbaik dalam berdakwah kecuali petunjuk Nabi Muhammad –shallallahu 'alaihi wasallam-.Allah ta'ala berfirman:

Artinya: "Katakanlah, "Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. 12:108)

Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya: "Amma ba'du, maka sesungguhnya sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullahi dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad, dan seburuk-buruknya perkara adalah yang mengada-ada dan setiap bid'ah itu sesat." Hadits riwayat Imam Muslim dengan lafadz ini.

Untuk jawaban pertanyaan-pertanyaan antum –semoga Allah ta'ala selalu merahmati kita - maka ana katakan:

Bismillahirrahmanirrahim, 
1. untuk pertanyaan pertama, maka jawabannya adalah, point no 1 dan 2.
2. untuk pertanyaan kedua dan ketiga, maka jawabannya adalah point no 3 dan 4, bagi siapa yang memperhatikan petunjuk Nabi Muhammad –shallallahu 'alaihi wasallam- maka akan mengetahui bahwa beliau –shallallahu 'alaihi wasallam- tidak pernah menjadikan cerita-cerita bohong sebagai bahan untuk nasehat, berdakwah, renungan dan sebagainya. Wallahu a'lam.

Penulis: Abu Abdillah Ahmad Zain
Islamic Cultural Center (ICC) Dammam, KSA

Thufeil bin ‘Amr Ad-dausi radhiallahu ‘anhu

Jumat, 31 Mei 2013

SUATU FITHRAH YANG CERDAS

Di bumi Daus, dari keluarga yang mulia dan terhormat, muncullah tokoh kits ini…. Ia dikaruniai bakat sebagai penyair, hingga nama dan kemahirannya termasyhur di kalangan suku-suku. Di musim ramainya pekan ‘Ukadh, tempat berkumpul dan berhimpunnya manusia, untuk mendengar dan menyaksikan penyair-penyair Arab yang datang berkunjung dari seluruh pelosok serta untuk menonjolkan dan membanggakan penyair masing-masing, maka Thufeil mengambil kedudukannya di barisan terkemuka …. Walaupun bukan pada musim ‘Ukadh, ia sering pula pergi ke Mekah ….

Pada suatu ketika, saat ia berkunjung ke kota suci itu, Rasulullah telah mulai melahirkan da’wahnya., Orang-orang Quraisy takut kalau-kalau Thufeil menemuinya dan masuk Islam, lain menggunakan bakatnya sebagai penyair itu membela Islam, hingga merupakan bencana besar bagi Buraisy dan berhala-berhala mereka….

Oleh sebab itu mereka melingkunginya selalu dan menyediakan segala kesenangan dan kemewahan untuk melayani dan menerima kedatangannya sebagai tamu, lalu menakut-nakutinya agar tidak berjumpa dengan Rasulullah saw. katanya: — “Muhammad memiliki ucapan laksana sihir, hingga dapat mencerai-beraikan anak dari bapak dan seseorang dari saudaranya serta seorang suami dari isterinya…! Dan sesungguhnya kami ini cemas kepada dirimu dan kaummu dari kejahatannya, maka janganlah ia dibawa bicara, dan jangan dengarkan apa katanya …..!”

Dan marilah kita dengarkan Thufeil menceritakan sendiri kisahnya katanya: — “Demi Allah,mereka selalu membuntutiku, hingga aku hampir saja membatalkan maksudku untuk menemui dan mendengar ucapannya · · · . Dan ketika aku pergi ke Kabah, kututup telingaku dengan kapas, agar bila ia berkata, aku tidak mendengar perkataaannya ……Kiranya ia kudapati sedang shalat dekat Ka’bah, maka aku berdiri di dekatnya, takdir Allah menghendaki agar aku mendengarken sebahagian apa yang dibacanya, dan terdengarlah olehku perkataan yang baik….

Lain kataku kepada diriku: “Wahai malangnya ibuku kehilangan daku….! Demi Allah, aku ini seorang yang pandai dan jadi penyair, dan mampu membedakan mana yang baik dari yang buruk! Maka apa salahnya jika aku mendengarkan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu? Jika yang dikemukakannya itu barang baik, dapatlah kuterima dan seandainya jelek, dapat pula kutinggallkan : · · · Kutunggu sampai ia berpaling hendak pulang ke rumahnya, lalu kuikuti hingga ia masuk rumah, maka kuiringkan dari belakang dan kukatakan kepadanya — “Wahai Muhammad! Kaummu telah menceritalan padaku bermacam-macam, tentang dirimu! Dan demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku terhadap urusanmu, hingga kututupi telingaku dengan kapas agar tidak mendengar. perkataanmu – · · · Tetapi iradat Allah menghendaki agar aku mendengarnya, dan terdengarlah olehku , ucapan yang baik, maka kemukakanlah padaku apa yang meniadi urusanmu itu …..!” Rasulpun mengemukakan padaku terperinci tentang Agama Islam dan dibacakannya al-Quran….Sungguh! Demi AUah, tak pernah kudengar satu ucapan pun yang lebih baik dari itu, atau satu urusan yang lebih benar dari itu … ! Maka masuklah aku ke dalam Islam, dan kuucapkan syahadat yang haq, lalu kataku: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku seorang yang ditaati yang ditaati oleh kaumku, dan sekarang aku akan kembali kepada mereka, serta akan menyeru mereka kepada Islam. Maka do’akanlah aku kepada Allah agar aku diberiNya suatu tanda yang akan menjadi pembantu bagiku menganal soal yang kuserukan kepada mereka itu. Maka sabda Rasulullah saw. : -”Ya Allah! Jadikanlah baginya suatu tanda… !”
 
Dalam kitab suci-Nya Allah Ta’ala telah memuji”orang-orang yang mandengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik di antaranya… “. Nah, sekarang kita bertemu dengan salah seorang diantara mereka itu …, dan ia merupakan suatu gambaran yang tepat mengenai fithrah yang cerdas . .. !

Demi telinganya mendengar sebagian ayat-ayat mengenai petunjuk dan kebaikan yang diturunkan Allah atas kalbu hamba-Nya, maka seluruh pendengaran dan seluruh hatinya terbuka selebar-lebarnya, dan diulurkannya tangannya untuk bai’at kepada Rasulnya….

Dan tidak hanya sampai di sana, tetapi dengan secepatnya dibebaninya dirinya dengan tanggung jawab menyeru kaum dan keluarga kepada Agama yang baik dan jalan yang Iurus oleh sebab itu, baru saja ia sampai di rumah dan kampung halamarnya Daus, dikemukakannyalah kepada bapaknya ‘Aqidah dan keinginan yang terkandung dalam hatinya, dan diserunya ia kepada islam, yakni setelah menceritakan perihal Rasul yang menyebarkan Agama itu, tentang kebesaran, kesucian, amanah dan ketulusan serta ketaatannya kepada Allah Robbul ‘alamin ….

Dan pada waktu itu juga bapaknya masuk Islam. Lain ia beralih kepada ibunya yang juga menganut Islam. Kemudian kepada istrinya yang mengambil tindakan yang serupa. Dan tatkala hatinya menjadi tenteram karena Islam telah meliputi rumahnya, ia pun berpindah tempat kepada kaum keluarga, bahkan kepada seluruh penduduk Daus. Tetapi tak seorangpun di antara mereka yang memenuhi seruannya memeluk Islam, kecuali Abu Hurairah r.a…..

Kaumnya itu menghinakan dan memencilkannya, hingga akhirnya hilanglah kesababarannya terhadap mereka. Maka dinaikinya kendaraannya menempuh padang pasir dan.kembali kepada Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam. mengadukan halnya dan membekali diri dengan ajaran ajarannya .. . .

Dan tatkala tibalah ia di Mekah, segeralah ia ke rumah Rasul, dibawa oleh hatinya yang rindu. Katanya kepada Nabi saw.: — ‘Wahai Rasulullah… ! Saya kelabakan menghadapi riba dan perzinahan yang merajalela di desa Daus… ! Maka mohonkanlah kepada AUah agar ia menghancurkan Daus … !”

Tetapi alangkah terpesonanya Thufeil ketika dilihatnya Rasulullah mengangkatkan kedua tangannya ke langit serta katanya: — “Ya Allah, tunjukilah orang orang Daus, dan datangkanlah mereka ke sini dengan memeluk Islam … !” Lalu sambil berpaling kepada Thufeil, katanya: — “Kembalilah kamu kepada kaummu, serulah mereka dan bersikap lunak-lembutlah kepada mereka…. !”

Peristiwa yang disaksikannya ini memenuhi jiwa Thufeil dengan keharuan dan mengisi ruhnya dengan kepuasan, lalu dipujinya Allah setinggi-tingginya, yang telah menjadikan Rasul, insan pengasih ini sebagai guru dan pembimbingnya, dan menjadikan Islam sebagai Agama dan tempat berlindungnya ….

Maka bangkitlah ia pergi kembali ke kampung halaman dan kaumnya. Dan di sana, ia terus mengajak mereka kepada Islam secara lunak lembut sebagai dipesankan oleh Rasulullah saw.

Dalam pada itu, selama tenggang: waktu yang dilaluinya di tengah-teagah kaumnya, Rasulullah telah hijrah ke Madinah, dan telah terjadi perang Badar, Uhud dan Khandak. Tiba-tiba ketika Rasulullah sedang berada di Khaibar, yakni setelah kota itu diserahkan Allah ke tangan Muslimin, satu rombongan besar yang terdiri dari delapan puluh keluarga Daus datang menghadap Rasulullah sambil membaca tahlil dan takbir. Mereka lalu duduk di hadapannya mengangkat bai’at secara bergantian.

Dan tatkala selesailah peristiwa mereka yang bersejarah dan upacara bai’at yang diberkahi itu, Thufeil pergi duduk seorang diri, merenungkan kembali kenangan-kenangan lamanya dan mengira-ngirakan langkah yang akan diambnnya untuk mesa mendatang ….

Maka teringatlah ia akan saat kedatangannya kepada Rasullullah memohon agar is menadahkan tangannya ke langit untuk mengucapkan do’a “Ya ,Allah, ,hancurkanlah orang-orang Daus …. “, tetapi ternyata RasuluUah menyampaikan permohonan lain yang menggugah keharuannya dengan ucapan sebagai berikut: “Ya Allah, tunjukilah orang-orang Daus, dan bawalah mereka ke sini setelah menganut Islam … !”

Sungguh, Allah telah menunjuki orang-orang Daus …, dan Ia telah mendatangkan mereka sebagai Kaum Muslimin… !

Mereka terdiri dari 80 kepala keluarga beserta penghuni rumahnya dan meiupakan bagian terbesar dari penduduk, serta mengambil kedudukan mereka di barisan suci di belakang Rasulullah al-Amin ….

Thufeil melanjutkan amal usahanya bersama jama’ah yang telah beriman itu. Tatkala tibalah saat pembebasan Mekah ia ikut rombongan yang memasukinya, yang jumlahnya sepuluh ribu orang, yang sekali-kali tidakmerasa bangga atau besar kepala, hanya sama-sama menundukkan kening karena hormat dan ta’dhim,mensyukuri ni’mat Allah yang telah membalas usaha mereka dengan kemenangan nyata,dan pembebasan Mekah yang tak Usah menunggu lama …….

Thufeil, melihat Rasulullah menghancurkan berhala-berhala di Ka’bah, dan membersihkan dengan tangannya kotoran dan najis yang telah lama berkarat. Putera Daus itu teringat akan sebuah berhala milik Amr bin Himamah. Amr ini sering membawanya memuji berhala itu sewaktu ia menginap di rumahnya sebagai tamunya, hingga ia berlutut di hadapannya dan merendahkan diri dan memohon’kepdanya … !

Datanglah sudah saatnya bagi Thufeil sekarang ini untuk menghapus dan melebur dosa-dosanya di hari itu. Ketika itu pergilah ia kepada Rasulullah saw. Meminta idzin untuk pergi mambakar berhala milik Amr bin Humamah tadi, yang biasa disebut ‘·Dzal kaffain’,, atau “si Telapak tangan dua”.

Rasulullah memberinya idzin,,maka pergilah ia ke tempat berhala itu lain membakamya dengan api yang menyala, setiap api itu surut, dinyalakannya kembali, dan sementara itu mulutnya asyik berpantun: -”Hai Dzal kaffain, aku ini bukan hambamu, Kami tebih dulu lahir daripadamu ! Nah, terimalah api ini untuk pengisi perutmu!”

Demikianlah Thufeil melanjutkan hidupnya bersama Nabi, sahalat di belakangnya dan belajar kepadanya serta berperang dalam rombongannya Dan ketika Rasulullab naik ke Rafiqul A’la Thufeil berpendapat bahwa dengan wafatnya Rasulullah itu, tanggung jawabnya sebagai seorang Muslim belumlah berhenti, bahkan boleh dikata baru saja mulai!

Ketika pertempuran melawan orang-orang murtad berkobar, Thufeil menyingsingkan lengan bajunya, lain terjun mengidami pahit getirnya dengan semangat dan kegairahan dari seoang yang rindu menemui syahid…. Ia ikutdalam perang riddah itu, pertempuran demi pertempuran….

Pada pertempuran Yamamah, is berangkat bersama kaum Muslimin dengan membawa puteranya.,Amr bin Thuieil. Baru saja perang mulai, telah dipesankannya kepada puteranya itu agar berperang mati-matian menghadapi tentara Musailamah pernbohong itu, bahkan walau akan mati syahid sekalipun… !

Dibisikkannya pula kepada puteranya itu bahwa menurut firasatnya, dalam pertenmpuran kali ini ia akan menemni aialnya… !

Setelah itu disiapkannya pedangnya dan diterjuninya pertempuran dengan semangat berqurban dan berani mati…!

Bukan hanya membela nyawanya dengan mata pedangnya tetapi pedangnya pun dibelanya dengan nyawanya Hingga ketika ia wafat dan tubuhnya rubuh, pedangya masih teracung dan siap sedia untuk ditebaskan oleh tangannya yang sebelah yang tidak mengalami cedera apa-apa …. !

Maka dalam pertempuran itu tewaslah Thufeil ad-Dausi ra. memenuhi syahidnya …, dan jasadnya pun rubuh disebabkan tusukan senjata, sementara sinar matanya seakan hendak memberi isyarat kepada puteranya yang tak kunjung dilihatnya dekat arena … yah, isyarat agar ia waspada dan tidak menyusul dan mengikuti langkahnya….

Tetapi sungguh, rupanya puteranya itu tak hendak ketinggalan, lalu menyusul ayahandanya pula, memang tidak pada waktu itu, hanya beberapa lama setelahnya……! Di pertempuran Yarmuk di Syria, ketika Amr bin Thufeil turut mengambil bagian sebagai pejuang, di sanalah ia menemui apa yang dicitanya!

Sementara ia hendak menghembuskan nafasnya yang penghabisan, diulurkannya tangannya yang kanan dan dihentangkannya telapaknya seakan hendak menjawat dan menyalami tangan seseorang … ! Yah, siapa tahu, mungkin waktu itu ia hendak bersalaman dengan ruh bapaknya.
taken from nurmuhammad.web.id

Tsa’labah Bin Hathib

Ibnu Abbas berkata : “Janganlah kalian mencaci maki atau menghina para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya kedudukan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah sesaat itu lebih baik dari amal seorang dari kalian selama 40 (empat puluh tahun)”. (Hadits Riwayat Ibnu Batthah dengan sanad yang shahih. Lihat Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 469, Takhrij Syaikh Al-Albani).

Menjunjung tinggi nama baik shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan kewajiban syar’i dan merupakan tuntunan agama. Memberikan penghormatan, keridhaan, serta pujian kepada mereka adalah salah satu prinsip dasar dari prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tulisan di bawah ini sengaja kami angkat dengan maksud untuk Meluruskan Cerita Tentang Tsa’labah bin Hathib, dimana sebagian dari kaum muslimin sering membawakan riwayat Tsa’labah untuk contoh kebakhilan, tanpa berusaha untuk merujuk atau memeriksa kembali kebenaran dari riwayat tersebut.

HADITS TSA’LABAH BIN HATHIB
Artinya : “Celaka engkau wahai Tsa’labah ! Sedikit engkau syukuri itu lebih baik dari harta banyak yang engkau tidak sanggup mensyukurinya. Apakah engkau tidak suka menjadi seperti Nabi Allah ? Demi yang diriku di tangan-Nya, seandainya aku mau gunung mengalirkan perak dan emas, niscaya akan mengalir untukku”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bawardy, Al-Baghawy, Ibnu Qani’, Ibnu Sakan, Ibnu Syahiin, Thabrany, Dailamy dan Al-Wahidi dalam Asbabun Nuzul (hal. 191-192). Semua meriwayatkan dari jalan Mu’aan bin Rifa’ah As-Salamy dari Ali bin Yazid dari Al-Qasim bin Abdur Rahman dari Abu Umamah Al-Baahiliy, ia berkata: “Bahwasanya Tsa’labah bin Hathib Al-Anshary datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata : ‘Ya Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar aku dikaruniai harta’. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “(Ia menyebutkan lafadz hadits di atas)”.

Kemudian ia berkata, demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, seandainya engkau memohonkan kepada Allah agar aku dikaruniai harta (yang banyak) sungguh aku akan memberikan haknya (zakat/sedekah) kepada yang berhak menerimanya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a : ‘Ya Allah, karuniakanlah harta kepada Tsa’labah’.

Kemudian ia mendapatkan seekor kambing. Lalu kambing itu tumbuh beranak sebagaimana tumbuhnya ulat. Kota Madinah terasa sempit baginya. Sesudah itu, ia menjauh dari Madinah dan tinggal di satu lembah (desa). Karena kesibukannya, ia hanya berjama’ah pada shalat Dhuhur dan Ashar saja, dan tidak pada shalat-shalat lainnya. Kemudian kambing itu semakin banyak, maka mulailah ia meninggalkan shalat berjama’ah sampai shalat Jum’ah pun ia tinggalkan.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para shahabat : “Apa yang dilakukan Tsa’labah ?” Mereka menjawab : “Ia mendapatkan seekor kambing, lalu kambingnya bertambah banyak sehingga kota Madinah terasa sempit baginya ….” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus dua orang untuk mengambil zakatnya seraya berkata :

“Pergilah kalian ke tempat Tsa’labah dan tempat fulan dari Bani Sulaiman, ambillah zakat mereka berdua”. Lalu keduanya pergi mendatangi Tsa’labah untuk meminta zakatnya. Sesampainya di sana dibacakan surat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Serta merta Tsa’labah berkata : “Apakah yang kalian minta dari saya ini pajak atau sebangsa pajak ? Aku tidak tahu apa yang sebenarnya yang kalian minta ini !.

Lalu keduanya pulang dan menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala beliau melihat keduanya (pulang tidak membawa hasil), sebelum berbicara, beliau bersabda : “Celaka engkau, wahai Tsa’labah ! Lalu turun ayat :

Artinya : “Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah: ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)”. (At-Taubah : 75-76).

Setelah ayat ini turun, Tsa’labah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mohon agar diterima zakatnya. Beliau langsung menjawab: “Allah telah melarangku menerima zakatmu”. Sampai Rasul shallallahu alaihi wa sallam wafat, beliau tidak mau menerima sedikitpun dari akatnya. Dan Abu Bakar, Umar, serta Usman-pun tidak mau menerima zakatnya i masa khilafah mereka.

KETERANGAN :

Hadits ini sangat Lemah Sekali. alam sanad hadits ini ada dua rawi yang lemah :

Ali bin Yazid, Abu Abdil Malik, seorang rawi yang sangat lemah.
Imam Al-Bukhari dalam kitabnya berkata : “Ali bin Yazid, Abu Abdil Malik Al-Alhany Ad-Dimasyqy adalah rawi munkarul hadits”. (Lihat : Adh Dhu’afaa’us Shaghiir No. 255).

Imam Nasa’i berkata : “Ia meriwayatkan dari Qasim (bin Abdur Rahman), ia matrukul hadits”. (Lihat : Adh-Dhua’faa wal Matrukiin No. 455).

Imam Daruquthny berkata : “Ia seorang matruk (yang ditinggalkan)”.

Imam Abu Zur’ah berkata : “Ia bukan orang yang kuat”. (Periksa : Mizanul I’tidal 3:161, Taqribut Tahdzib 2:46, Al-Jarhu wat Ta’dil 6:208, Lisanul Mizan 7 :314).

Mu’aan bin Rifaa’ah As-Salamy, seorang rawi yang lemah.
Ibnu Hajar berkata : “Ia rawi lemah dan sering memursalkan hadits”. (Periksa :

Taqribut Tahdzib :258).

Kata Imam Adz-Dzahabi : “Ia tidak kuat haditsnya”. (Periksa Mizanul I’tidal 4:134).
Para Ulama yang melemahkan hadits-hadits ini diantaranya ialah :

Ibnu Hazm, ia berkata : “Riwayat ini Bathil”. (Al-Muhalla 11:207-208).
Al-Iraqy berkata : “Riwayat ini Dha’if”. (Lihat Takhrij Ahadist Ihya Ulumudin 3:272)
Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata : “Riwayat tersebut Dha’if dan tidak boleh dijadikan hujjah”. (Lihat : Fathul Bari 3 :266).

Ibnu Hamzah menukil perkataan Baihaqi : “Dha’if”. (Lihat Al-Bayan wat Ta’rif 3:66-67).
Al-Manawi berkata : “Dha’if” (Lihat : Faidhul Qadir 4:527).

RIWAYAT YANG BENAR
Tsa’labah bin Hathib adalah seorang shahabat yang ikut dalam perang Badar sebagaimana disebutkan oleh :

Ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqaat 3:36.

Ibnu Abdil Barr dalam kitab Ad-Durar. halaman 122.

Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla 11:208

Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam kitab Al-Ishaabah fil Tamyiizis Shahaabah I:198
Dalam buku At-Tasfiyah wat Tarbiyah wa Atsarihima Fisti’nafil Hayat Al-Islamiyyah (hal. 28-29) oleh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsary disebutkan pembelaan terhadap shahabat Tsa’labah bin Hathib, ia berkata :

Tsa’labah bin Hathib adalah shahabat yang ikut (hadir) dalam perang Badr”. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang ahli Badar.
“Artinya : Tidak akan masuk Neraka seseorang yang ikut serta dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyah”. (Hadits Riwayat Ahmad 3:396).

SIKAP KITA
Sesudah kita mengetahui kelemahan riwayat ini maka tidak halal bagi kita membawakan riwayat Tsa’labah bin Hathib untuk contoh kebakhilan, karena bila kita bawakan riwayat itu berarti :

Kita berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kita menuduh shahabat ahli Surga dengan tuduhan yang jelek.
Kita berdusta kepada orang yang kita sampaikan cerita tersebut kepadanya.
Ingat, kita tidak boleh sekali-kali mencela, memaki atau menuduh dengan tuduhan yang jelek kepada para shahabat Rasululluh shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau bersabda :

Artinya : “Barangsiapa mencela shahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, malaikat dan seluruh manusia”. (Hadits Riwayat Thabrani). Wallaahu a’lam bish shawaab.
 
Oleh : Yazid bin Abdul Qadir Jawas  
taken from nurmuhammad.wb.id

Inilah 12 Kaum yang Dibinasakan Allah

Rabu, 29 Mei 2013

Dalam Alquran, banyak sekali diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah karena mereka mengingkari utusan-Nya dan melakukan berbagai penyimpangan yang telah dilarang. Berikut adalah kaum-kaum yang dibinasakan.

Kaum Nabi Nuh
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS Al-Ankabut : 14).

Kaum Nabi Hud
Nabi Hud diutus untuk kaum 'Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).

Kaum Nabi Saleh
Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).

Kaum Nabi Luth
Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu'araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).

Kaum Nabi Syuaib
Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa (QS Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44).
Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (QS AlHijr: 78, Alsyu'araa: 176, Shaad: 13, Qaaf: 14).

Firaun
Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun malah mengaku sebagai tuhan. Ia akhirnya tewas di Laut Merah dan jasadnya berhasil diselamatkan. Hingga kini masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir (Albaqarah: 50 dan Yunus: 92).

Ashab Al-Sabt
Mereka adalah segolongan fasik yang tinggal di Kota Eliah, Elat (Palestina). Mereka melanggar perintah Allah untuk beribadah pada hari Sabtu. Allah menguji mereka dengan memberikan ikan yang banyak pada hari Sabtu dan tidak ada ikan pada hari lainnya. Mereka meminta rasul Allah untuk mengalihkan ibadah pada hari lain, selain Sabtu. Mereka akhirnya dibinasakan dengan dilaknat Allah menjadi kera yang hina (QS Al-A'raaf: 163).

Ashab Al-Rass
Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib. Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (adapula yang menyebut bin Shofwan). Mereka menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah (Qs Alfurqan: 38 dan Qaf ayat 12).

Ashab Al-Ukhdudd
Ashab Al-Ukhdud adalah sebuah kaum yang menggali parit dan menolak beriman kepada Allah, termasuk rajanya. Sementara itu, sekelompok orang yang beriman diceburkan ke dalam parit yang telah dibakar, termasuk seorang wanita yanga tengah menggendong seorang bayi. Mereka dikutuk oleh Allah SWT (QS Alburuuj: 4-9).

Ashab Al-Qaryah
Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab Al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Anthakiyah. Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (QS Yaasiin: 13).

Kaum Tubba'
Tubaa' adalah nama seorang raja bangsa Himyar yang beriman. Namun, kaumnya sangat ingkar kepada Allah hingga melampaui batas. Maka, Allah menimpakan azab kepada mereka hingga binasa. Peradaban mereka sangat maju. Salah satunya adalah bendungan air (QS Addukhan: 37).

Kaum Saba
Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat Saba. Karena mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma'rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19).  

Ahad, 24 Juni 2012, 22:17 WIB

republika.co.id, Oleh: Syahruddin El-Fikri


Inilah 12 Kaum yang Dibinasakan Allah



Dalam Alquran, banyak sekali diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah karena mereka mengingkari utusan-Nya dan melakukan berbagai penyimpangan yang telah dilarang. Berikut adalah kaum-kaum yang dibinasakan.

Kaum Nabi Nuh
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS Al-Ankabut : 14).

Kaum Nabi Hud
Nabi Hud diutus untuk kaum 'Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).

Kaum Nabi Saleh
Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).

Kaum Nabi Luth
Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu'araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).

Kaum Nabi Syuaib
Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa (QS Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44).
Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (QS AlHijr: 78, Alsyu'araa: 176, Shaad: 13, Qaaf: 14).

Firaun
Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun malah mengaku sebagai tuhan. Ia akhirnya tewas di Laut Merah dan jasadnya berhasil diselamatkan. Hingga kini masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir (Albaqarah: 50 dan Yunus: 92).

Ashab Al-Sabt
Mereka adalah segolongan fasik yang tinggal di Kota Eliah, Elat (Palestina). Mereka melanggar perintah Allah untuk beribadah pada hari Sabtu. Allah menguji mereka dengan memberikan ikan yang banyak pada hari Sabtu dan tidak ada ikan pada hari lainnya. Mereka meminta rasul Allah untuk mengalihkan ibadah pada hari lain, selain Sabtu. Mereka akhirnya dibinasakan dengan dilaknat Allah menjadi kera yang hina (QS Al-A'raaf: 163).

Ashab Al-Rass
Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib. Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (adapula yang menyebut bin Shofwan). Mereka menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah (Qs Alfurqan: 38 dan Qaf ayat 12).

Ashab Al-Ukhdudd
Ashab Al-Ukhdud adalah sebuah kaum yang menggali parit dan menolak beriman kepada Allah, termasuk rajanya. Sementara itu, sekelompok orang yang beriman diceburkan ke dalam parit yang telah dibakar, termasuk seorang wanita yanga tengah menggendong seorang bayi. Mereka dikutuk oleh Allah SWT (QS Alburuuj: 4-9).

Ashab Al-Qaryah
Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab Al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Anthakiyah. Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (QS Yaasiin: 13).

Kaum Tubba'
Tubaa' adalah nama seorang raja bangsa Himyar yang beriman. Namun, kaumnya sangat ingkar kepada Allah hingga melampaui batas. Maka, Allah menimpakan azab kepada mereka hingga binasa. Peradaban mereka sangat maju. Salah satunya adalah bendungan air (QS Addukhan: 37).

Kaum Saba
Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat Saba. Karena mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma'rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19).  

Ahad, 24 Juni 2012, 22:17 WIB
republika.co.id, Oleh: Syahruddin El-Fikri


Ibadah

Ilmiah

Akhlaq

 
© Copyright Blog Arulli Munadiyan 2013 | Template Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates.